Teguran atau Ujian?

Teguran atau Ujian

Assalamu'alaikum wr.wb.
Bismillahirrahmanirrahiim

Dear Bloggers,
Pernah nggak kalian mendengar percakapan seperti ini :

Nichole (baca : Nikol) : Jeng, aku baru dapat musibah nih. Mobilku hilang dicuri orang.
Goothy (baca : Guti) : Subhanallah... kapan, Jeng?
Nichole : Tadi malam, Jeng. Jam 3 pagi.
Goothy : Ya Allah, yang sabar ya, Jeng. Ini pertanda Allah sayang sama dirimu. Jeng Chole sedang mendapat ujian dari Allah untuk naik kelas keimanannya.
Nichole : Iya, ma kasih ya Jeng Gooth.

Kira-kira benar nggak sih kata "ujian" pantas untuk disandang oleh orang yang terkena musibah?


Menurutku (menurutku yaaa... bukan menurut kamu, jadi koreksi kalau masih salah), jika memang kita merasa bahwa Allah sayang terhadap kita disaat kita terkena musibah. Bukan kata ujian yang pantas kita sandang, melainkan teguran.

Yuk, coba kita bahas 2 simulasi dari kata tersebut.
Simulasi 1 :
Ada anak murid di Sekolah, dia berbuat nakal, sehingga dia mendapat teguran dari gurunya. Teguran itu pastinya datang mendadak saat terlihat kita berbuat salah kan? Tidak diberitahu si Murid kapan teguran itu akan diberikan. Apalagi terjadwal. Alasan diberi teguran untuk apa? Pastinya karena Guru tidak menginginkan hal itu terulang lagi. Kalaupun guru mempersiapkan teguran, dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk diberikan ke murid yang nakal tersebut.

Simulasi 2 :
Ada anak murid di Sekolah, dia sedang menjalakan ujian kenaikan kelas. Pastinya murid sudah mendapat informasi dari Guru kapan jadwal ujian akan dilaksanakan. Dan belum pernah saya dengar ujian kenaikan kelas dilakukan dadakan. Tidak ujuk-ujuk langsung disuruh ujian kan? Jika ia murid yang baik, sebelum ujian dia pasti akan ada persiapan terlebih dahulu, seperti belajar. Guru hanya mempersiapkan soal

Nah, kira-kira jika kita mendapat musibah, simulasi yang mana yang tepat untuk diibaratkan?

Sejak dulu saya selalu berpikir jika Allah memberikan saya musibah bukan ujian yang sedang saya dapat, tapi teguran. Karena bagi saya,
Jika seseorang merasa ditegur, ia pasti akan berpikir kebelakang, "Apa salahku, hingga aku dapat teguran ini?" 
Dan pabila ia menemukan kesalahannya, maka di kemudian hari ia tidak lagi melakukan hal yang sama. Bahasa kerennya, intropeksi diri. Ya, kita intropeksi diri saat kita kena musibah, agar musibah itu tidak terulang lagi ke kita.

Kenapa saya tidak menyebutnya ujian? Karena jika saya sebut musibah itu dengan kata ujian, saya akan terlena dengan keimanan saya. Bahkan menjadi sombong, karena merasa keimanan saya makin bagus, makin sholehah dan makin tinggi derajatnya dimata Allah. Saya tidak akan mau intropeksi diri dan merasa diri sudah benar.
http://www.adeufi.com/2017/02/teguran-atau-ujian.html#more

 Itu sebabnya saya hanya tersenyum getir, jika ada yang berkata kepada saya disaat saya mendapat musibah, "Sabar ya, De. Semua itu ujian dari Allah karena kamu mau naik kelas keimanannya. Semakin kuat iman seseorang, semakin besar ujiannya."


Hmm... Bagaimana dengan kalian?

Semoga musibah yang kita dapat menjadi teguran indah dari Allah sebagai tanda Allah sayang kepada kita. Jangan biarkan kata2 yang kita anggap menyejukkan hati justru membuat kita terlena.

Semoga tulisan ini menjadi renungan yang bermafaat buat kita. ^_^

Wassalam




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Tapi mohon maaf, buat yang profilnya "unknown" langsung saya hapus. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^