Workshop Food Photography dengan Smartphone


Bismillahirramanirrahiim
Assalamu’alaikum w.w.

Setiap kali saya datang ke acara blogger gathering, saya melihat teman-teman sudah sibuk menggantungkan kamera dilehernya. Mereka sudah layaknya wartawan profesional, jeprat jepret saat acara. Sedangkan saya? Hmm..

Yes, saya masih menggunakan smartphone sebagai media dokumentasi saya. Bukan saya nggak punya kamera digital, di rumah ada kok kamera. Entah kenapa, saya masih merasa nyaman menggunakan smartphone. Makanya saya selalu berusaha mencari pelatihan-pelatihan food photography dengan menggunakan smartphone.

Alhamdulillah saya dapat undangan dari Food ID untuk mengikuti pelatihan CAPTURING GOOD PHOTOS WITH SMARTPHONE. Wah kebetulan banget nih yang difokuskan oleh Food ID adalah pelatihan mengambil gambar makanan. Saya pun langsung tanpa ba bi bu menyetujui untuk ikut pelatihan tersebut.

Kehebohan Sebelum Workshop Food Photography

Saya sedikit berlari tegesa-gesa memasuki gedung Pasific century place (PCP) di daerah Sudirman, karena waktu sudah menunjukkan pukul 10.10. Ini bukan efek saya bangun kesiangan, melainkan saya diajak tamasya oleh driver ojek online.

“Jangan lupa besok acaranya jam 10 ya, Mba” chat Mas Ricky, dari Food ID di whatsapp pribadi saya. Saya memang membiasakan diri untuk berangkat 2 jam sebelum acara dimulai. Walaupun teman-teman ada yang komentar “kepagian”, buat saya nggak masalah, daripada telat.

Jika saya datang lebih awal saya bisa beradaptasi dengan tempat acara dan agak lebih santai. Namun siapa yang menyangka saya dapat kejadian seperti ini. Saya sudah tiba di stasiun Sudirman jam 9.00. Menurut tarif aplikasi transportasi online, dari stasiun Sudirman harganya lebih murah. Itu berarti jarak lebih dekat. Makanya saya memilih turun di stasiun Sudirman.

Begitu ojek oline pesanan saya tiba, driver ojolnya langsung bertanya, “Ibu tau tempatnya?”
“Nggak, Bang, Abang tahu kan?” Saya balik bertanya.
“Nggak, Bu. Kita pakai map saja ya. Bu” saran dari Pak driver yang langsung saya iyakan. Saya pun membuka google map juga buat memastikan. Namun, drivernya jalan semau dia aja. Saya bilang belok kanan, sesuai map, dia bilang lurus. Saya bilang lurus, dia ngeyel ke kanan. Jadilah saya diajak bertamasya ria keliling jalan protokol.

Sudah feeling bakalan telat saya langsung whatsapp Mas Ricky 10 menit sebelum acara. Alhamdulillah, Mas Ricky bilang belum mulai, masih nunggu yang lain.

Setibanya saya di gedung PSP, masalah datang lagi. Saya dipandu untuk ke resipsionis menukarkan KTP dengan kartu visitor. Fungsi kartu visitor selain sebagai tanda pengenal, digunakan juga untuk mentap pintu masuk ke dalam gedung tujuan. Kebetulan saya ke lantai 29.

Saya pikir liftnya sama dengan gedung-gedung di mal-mal gitu. Yang kalau kita masuk ada nomor lantai yang dituju. Begitu saya masuk lift, saya kebingungan. Karena nggak ada tombol nomor satupun. Dan di dinding pintu lift juga nggak ada lampu indikator yang bertuliskan angka lantai yang dicapai lift.

Asli saya seperti orang norak yang kebingungan mencari lampu indikator lantai lift. Sedang bingung mencari, tiba-tiba pintu lift terbuka. Dan disitulah saya baru melihat lampu indikator lantai lift. Dia disis yang terjepit oleh lift. Pantes saja saya ga lihat.

Saya lihat angka yang ditulis hanya sampai angka 20. “lah, saya lantai 29. Trus 9 lantai saya harus naik tangga?”
Akhirnya saya beranikan diri bertanya kepada mas-mas yang turun dilaintai 20.
“Mas, ini Cuma sampai lantai 20 ya?”
“Memang ibu mau ke lantai berapa?”
“29”
“Loh, ini lampu indikatornya cuma sampai lantai 20, Bu. Ibu tadi nggak ngetap kartu ibu ya?”
Tanya mas-mas yang saya lupa nanya namanya itu, seraya menunjuk kartu visitor saya. Saya hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan tersebut.
“Ooo.. ibu turun lagi ikut lift ini, lalu ibu tap dulu kartunya di depan pintu lif. Nanti ibu naik liftnya sesuai dengan huruf yang tertera di layar tap kartu ibu.”
Oalaaah.. dah kayak di hotel-hotel ya.

Ok, sah deh saya telat hari itu, karena ketidaktahuan saya dengan kondisi tempat pelatihan.

Workshop Food Photography

Setibanya di lantai 29, saya tidak langsung disambut sama Mas Ricky. Saya harus registrasi dulu dengan cara digital. Saya registrasi dengan menggunakan tablet.

Selepas registrasi, saya baru disambut oleh Mas Ricky dan dipandu ke ruangan meeting. Rupanya disana sudah banyak mbak-mbak blogger cantik yang menunggu. Dan yang telat bukan saya saja, masih ada 3 orang lagi yang telat.

Acara pelatihan pun dimulai. Mas Bona sebagai instrukturnya mulai memaparkan materi pelatihan. Mas Bona ini adalah photographernya Food ID untuk makanan. Beliau bilang, memang ada beberapa foto beliau yang menggunakan kamera, namun beliau lebih banyak menggunakan smartphone. Karena kadang banyak moment-moment yang harus dia foto disaat ia tidak membawa kamera.

workshop food photography
Mas Bona intruktur workshop

Mas Bona menyampaikan bahwa pada dasarnya food photography ini cukup mempelajari 4 hal. Apa saja 4 hal itu? Yuk, kita kupas


1. Food Styling

Dalam food photography, styling tetap diperlukan. Dimana melakukan seni menata makanan kita hingga terlihat menggiurkan, bersih dan indah.

Nah, bagian ini memang kelemahan saya. Karena saya tuh suka bingung mau letakan pernak-pernik apa disekitar makanan kita. Makanya saya seringnya mengambil foto langsung ke makanan, tanpa melihatkan pernak-pernik.

Mas Bona membuatnya menjadi simple banget dalam penjelasannya di workshop kemarin. Beliau mengatakan bahwa pada Food styling ini ada 4 hal yang harus diperhatikan :

Element

Element disini yang biasa disebut dengan property stylingnya. Menurut Mas Bona, kita mah nggak perlu repot-repot memikirkan barang apa yang akan kita jadikan properti pada foto makanan kita.

Cukup kita ambil saja bahan mentah dari makanan yang mau kita foto. Misal, kita mau foto Roti, maka berikan tepung, telur dan alat pengocok sebagai propertinya. Wah, sesederhana itu rupanya.

workshop food photography
peletakan element di foto (photo by slide workshop food photography)


Composition

Komposisi peletakan atau jumlah makanan itu harus kita perhatikan juga. Mas Bona menyarankan sebaiknya kita ambil angka ganjil dalam peletakan makanan. Misal 3 mangkok bakso, 1 gelas, 5 muffin, dst.
workshop food photography
komposisi meletakkan mangkok (photo by slide workshop food photography)

Rule of Third

Dari beberapa pelatihan smartphone food photography selalu menyebutkan Rule of third ini. Rule of Third adalah posisi makanan yang harus kita letakkan. Kita harus meletakkan di posisi titik-titik yang ada pada gambar dibawah ini.

workshop food photography
photo by slide workshop food photography


Darimana kita bisa tau posisi garisnya?
Coba teman-teman cari di settingan kamera smartphone kita. Disana ada Gridline. Nah, kita aktifkan gridline kamera smartphone kita. Saya tidak bisa menuliskan step by step menampilkan gridline kamera disini, karena kan masing-masing merk dan type kamera posisi aktifkan gridline-nya berbeda-beda. Silakan teman-teman cari sendiri caranya sesuai smartphone teman-teman.

Rule of Colour

Makanan terlihat enak, indah dan menggiurkan juga memerlukan pengaturan warna. Nah, dibawahini saya berikan ring of colour.

workshop food photography
photo by slide workshop

Teman-teman tinggal memadukan warnanya dengan 2 cara, yaitu :
  • Warna yang bersebrangan
  • Warna yang berdampingan


Contoh seandainya kita hendak memotret buah mangga yang berwarna kuning terang, jika kita mengambil aturan warna bersebrangan, maka disekitarnya pilih warna ungu. Namun jika kita mengambil warna berdampingan, kita memilih warna kuning orange (mustard) atau kuning hijau (hijau stabilo)

2. Best Angle

Pada saat kita membuat foto ada 3 cara posisi menggunakan smartphone, yaitu :

Eye level

Pada angle ini posisi smartphone kita tegak lurus dengan foto makanan kita. Seperti pandangan mata lurus kedepan. Biasanya posisi ini diambil untuk mengambil gambar gelas atau benda-benda yang tinggi.

workshop food photography
photo by youtube

45 degree

Nah, Angle ini biasanya adalah posisi favorite disaat kita membuat foto makanan. Posisi smartphone agak keatas dan miring sedikit.

workshop food photography
photo by youtube

Top Shot

Top shot ini pengambilan gambar dari atas, atau biasa disebut dengan Bird eye angle. Biasanya kita kalau foto makanan dengan menggunakan angle ini menggunakan alat bantu seperti kursi, tangga, dll.

workshop food photography
photo by youtube

3. Timing atau Lighting

Dalam ilmu food photography menurut Mas Bona pencahayaan yang bagus adalah menggunakan sinar matahari. Dibawah adalah posisi cahaya untuk sinar matahari sesuai jamnya.
workshop food photography
design by ade ufi

Pencahayaan ini digunakan sesuai dengan tema pada makanan yang akan kita foto. Biasanya cahaya yang paling bagus adalah menggunakan cahaya matahari di jam 8 – 10 pagi dan jam 4 – 5 sore.

4. Editing

Untuk food photography menggunakan smartphone tak jauh dari aplikasi editing. Aplikasi editing fotografi ada banyak, silakan teman-teman mencari aplikasi yang sesuai dengan kemampuan kamera dan teman-teman sendiri. Biasanya sih yang banyak digunakan adalah Snapsheed

Tapii, Mas Bona berpesan, foto yang bagus adalah foto yang jauh dari editing. Alias murni foto itu sendiri tanpa edit-edit dari aplikasi apapun.

Praktek Materi Workshop Food Photography

Nah, setelah kita dapat materi yang ok banget dari Mas Bona, kita diajak ke lantai 24 untuk praktek ilmu yang diberikan. Di lantai 24 Mas Bona and tim sudah menyiapkan tart red velvet dan beberapa propertinya. Iiih.. saya sih dah ngiler liat red velvetnya, berhubung buat praktek foto yaaa ditahan. Berharap kita dapat 1 potoooong aja dari red velvet itu... hahahaha.. Ummi yaaa kalau lihat makanan itu.. ck..kc..ck.. jangan ditiru.

Semua teman-teman berbondong-bondong mempraktekan ilmu dari Mas Bona. Saya nunggu saja deh sampai selesai mereka foto-foto. Setelah selesai saya pun mengambil red velvet yang sudah terpotong, lalu saya foto di pinggir jendela. Nah, inilah hasil praktek saya.

workshop food photography
photo by ade ufi

Eh, ternyata setelah praktek, ada pengumuman loooh kalau kita dapat voucher 300K dari Food ID. Waaah sayang saya nggak menang. Nggak papa namanya juga masih belajar.. xixixi

Alhamdulillah selesai pengumuman, kami diberikan makan siang dan goodie bag. Duuuh goodie bagnya saya suka bangeeet. Secara saya baru aja mau beli properti foto ini, eh.. dikasih, alhamdulillaaah.

Dan yang lebih senengnya lagi, red velvetnya dipotong-potong lalu dibagikan ke kita.. yeeeeey.. doa saya terkabul. Berhubung sebagian teman sudah pulang, jadi red velvet boleh dibawa pulang. Alhamdulillaaah. Hari ini yang senang bukan Cuma ummi, tapi juga Duo Fi.. xixixi..

Oiya, kami juga diberikan sertifikat loh kalau kami telah mengikuti workshop food photography. Ini buat para pengajar bermafaat banget nih.. xixixixi.. inget dulu paling seneng ikut workshop yang ada sertifikatnya. Karena buat pengajar ini bernilai banget untuk sertifikasi. ^_^

Oiya buat kamu yang kepo dengan hasil jepretan Mas Bona, instruktur kami, silakan lihat akun instagram beliau di @jajanbeken

Tentang Food ID

Pasti daritadi teman-teman bertanya, Food ID itu apa sih?
Food ID adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk mencari dan menemukan tempat makan terbaik. Aplikasi pencarian restoran dengan rancangan yang mudah digunakan saat menjelajahi pilihan restoran di kota kita.

Food ID ini dibawah naungan Foody Indonesia (www.foody.id) atau PT Foody Direktori Indonesia yang berdiri sejak Agustus 2015.

workshop food photography
photo by slide workshop

Foody Corporation ini awalnya berbasis di Vietnam sejak tahun 2012, sebuah kebanggan yang akhirnya bisa mengembangkan jaringannya ke Indonesia. Berkembangnya jaringan ini merupakan kesempatan baik bagi Foody Indonesia untuk menjadi platform utama direktori restoran dan makanan terbaik di tanah air, khususnya DKI Jakarta.

Foody Indonesia memiliki basis komunitas yang sangat kuat. Tidak hanya di Jabodetabek, tapi juga di Bandung, Jogjakarta, Malang, Surabaya, dan Bali.

Nah, buat teman-teman yang hobi banget kulineran, teman-teman bisa Download Aplikasi Food ID di bit.ly/foodyandroid atau bit.ly/foodyios .

Menggunakan aplikasi Food ID selain kita bisa mencari restoran, kita juga bisa membuat review dari restoran yang kita kunjungi loh. Dan setiap menulis review di Food ID, pastinya akan mendapatkan imbalan berupa voucher Rp 50K yang bisa digunakan diseluruh merchan-merchan dari Food ID.

Asyik kaaan. Dapat ilmu, pulang dikasih goodie bag properti foto, dapet voucher di Food ID juga, pul bawa pulang 3 silde red velvet kesukaan anak-anak.

Nah, buat teman-teman yang sedang belajar smartphone fotografi, semoga tulisan ini bisa bermanfaat ya. Selamat mencoba ^_^


Waasalam






3 komentar:

  1. Tapii, Mas Bona berpesan, foto yang bagus adalah foto yang jauh dari editing. Alias murni foto itu sendiri tanpa edit-edit dari aplikasi apapun. <- Jadi inget obrolan tempo hari, hahahah...

    Kamera HP sekarang makin canggih2, jadi memotret dengan HP pun juga nggak kalah keren kok. Resolusinya cukup besar juga untuk standar IG dan blog. Ayo Ummi, kita sama2 makin belajar biar fotonya cetar, haha..

    BalasHapus
  2. asyik nih postingannya umi fikri, jadi ikutan belajar, dari dulu aku suka motret tapi sembarangan, pake teknik ternyata ya supaya hasilnya bagus. TFS umi sayang

    BalasHapus
  3. aku masih gagap soal styling... tengkyu sharenya mba

    BalasHapus

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Tapi mohon maaf, buat yang profilnya "unknown" langsung saya hapus. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^