Tips Menikah dengan Cinta Terencana ala BKKBN

cinta terencana bkkbn

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu'alaikum w.w.

Hai temans,
Masih ingat berita yang viral tentang anak SMP yang mau menikah, alasannya hanya karena takut tidur sendirian. Ya Allaaah.. lugu banget ya.

Padahal untuk nikah tuh bukan sekedar cinta saja looh, tapi butuh proses yang terencana. Yes, cinta terencana, sesuai dengan judulnya.

APA SIH CINTA TERENCANA ITU?

Kalau kata wikipedia niih.. Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.

Bahasa wiki, kaku yaaa.. xixixi.. Kalau menurut saya pribadi, makna cinta itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Cinta hanya bisa dirasakan bagi yang memilikinya. As simple as it.

Agar cinta terlihat seimbang, ada 2 hal yang mempengaruhinya. Hal yang mempengaruhi cinta tersebut adalah : Hati dan Akal. Kedua hal tersebut harus seiring sejalan. Nggak bisa tertinggal salah satunya.

Cinta tanpa hati, maka akan menjadi cinta yang hambar. Sedangkan cinta tanpa akal, bisa menjadi cinta buta. Nah, kalau keduanya beriringan maka bisa kita sebut menjadi Cinta Terencana.

Kebetulan banget, hari Selasa minggu lalu, tepatnya tanggal 15 Mei, saya bersama teman-teman Blogger Plus, menghadiri undangan dari BKKBN di Museum Penerangan TMII yang bertemakan Membangun Keluarga Berkualitas dengan Cinta Terencana

Pada acara tersebut Ibu Eka Sulistya Ediningsih, Direktur Ketahanan Remaja BKKBN, menjelaskan makna cinta terencana versi BKKBN.

cinta terencana bkkbn
Ibu Eka dari BKKBN menjelaskan tentang cinta terencana (photo by adeufi)

Menurut beliau cinta terencana adalah sebuah cinta yang dijalani dengan penuh perencanaan yang matang, untuk mencapai kesejahteraan hakiki.

Cinta terencana juga merupakan sebuah kampanye yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Keluarga Nasional. Ada yang sudah tau belum, kapan hari keluarga nasional? Pasti belum tau kaaan?

Toss sama saya kalau belum tau.. xixixi.. Saya pun baru tau kalau ada Hari Keluarga Nasional, saat menghadiri undangan tersebut. Ibu Eka mengatakan bahwa Hari Keluarga Nasional jatuh pada tanggal 29 Juni.

Nah, dicatat yaaa.. besok ada di ujian nasional. ^_^



CINTA TERENCANA DAN KELUARGA

Sebab maraknya kasus nikah muda, membuat BKKBN perlu menyampaikan ke masyarakat untuk mengawali pernikahan dengan cinta terencana.

Disaat kita mencintai seseorang yang terlintas dipikiran kita adalah hidup bersama selamanya dan membentuk sebuah keluarga.

Dan tentu sudah menjadi idaman semua orang untuk memiliki keluarga yang bahagia, aman dan tentram. Nah untuk mencapai semua itu pastinya butuh planning yang matang sebelum menikah.

Merencanakan keluarga dimulai dari mengarahkan cinta menjadi cinta yang terencana. Dengan cinta terencana inilah maka kita akan memiliki sebuah keluarga yang berkualitas disebut Keluarga Berencana.


Jadiii jangan lagi beransumsi bahwa keluarga berencana itu semata hanya sekedar alat kontrasepsi yaa.

Waktu diacara kemarin sempat diputar lagu keluarga berencana looh. Itu lagu jadul banget. Saya sampai hafal nadanya (nadanya yaa bukan liriknya), karena dulu jaman saya SD sering sekali diputar di televisi.

Kalau kamu lupa atau mungkin yang mau tau bagaimana lagunya.. nih saya kasih youtubenya :


Pada kesempatan tersebut, Ibu Eka juga menjelaskan makna dari keluarga. Menurut beliau keluarga adalah saat kehidupan dimulai dan saat cinta tak pernah berakhir.

Bahkan beliau memberikan tahapan keluarga yang dirancang oleh BKKBN, yaitu :
  • Keluarga baru menikah
  • Keluarga dengan anak pertama
  • Keluarga dengan anak pra sekolah
  • Keluarga dengan anak usia sekolah
  • Keluarga dengan anak remaja
  • Keluarga dengan anak dewasa
  • Keluarga usia pertengahan
  • Keluarga lansia
cinta terencana
tahapan keluarga dari cinta terencana

MENIKAH DENGAN CINTA TERENCANA


Laki-laki dan perempuan itu adalah seperti dua sayap dan seekor burung. Jika 2 sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya. Jika patah salah satunya, maka tidaklah dapat terbang burung itu sama sekali. (Ir. Soekarno)

Dari quote Bung Karno ini saja sudah jelas sekali bahwa laki-laki dan perempuan butuh kerjasama dalam membangun keluarga. Memang menjalin kerjasama itu tidaklah mudah seperti halnya membalikkan telapak tangan.

Untuk mendapatkan kerjasama ini, diperlukan diskusi yang matang sebelum menjalani rencana tersebut. Begitupun dengan pernikahan.

Oiya, pernikahan disini bukan sekedar duduk menerima selamat dari tamu undangan sebagai raja/ratu sehari yaa. Tapi pernikahan yang dijalani seumur hidup berdua pasangan.


PERSIAPAN MENIKAH DARI CINTA TERENCANA

Pada acara tersebut, hadir juga narasumber seorang psikolog keluarga, yaitu Ibu Verauli Roslina. Dari Ibu Verauli Roslina, Psikolog Keluarga pun memberikan beberapa persiapan menikah lainnya, yaitu :

cinta terencana bkkbn
Ibu Verauli menyampaikan tentang cinta terencana dari sisi psikologi (photo by ade ufi)

1. Persiapan Batin

Banyak hal yang mencakup dalam persiapan batin disaat kita sudah memiliki niat ingin menikah, yaitu :

- Niat

Sebelum menikah, catin (calon pengantin) harus luruskan nitanya terlebih dahulu. Niat menikah itu karena apa?

Niat bagi catin itu adalah landasan atau pondasi terkuat dalam keluarga.

Dan ini niatnya kalau bisa sama. Ibu Eka menyarankan ketika menikah niatkan hati menikah karena Cinta. Yes, Cinta yang tulus dari lubuk hati yang terdalam. (eeeaaa... ini dah kayak nulis cerita roman deh)

Cinta yang tulusnya juga harus lebih spesifik yaa. Ada 2 cinta yang dikuatkan dalam niat untuk menikah, yaitu :


  • Cinta kepada Tuhan yang menciptakan kita

Berhubung saya beragama Islam dan di negara ini mayoritas Islam maka niat menikah itu karena cinta kepada Allah.

Insya Allah jika niat kita menikah karena kecintaan kita terhadap Allah, Allah akan melindungi kita dari segala keburukan dari rumah tangga.


  • Cinta kepada pasangan kita

Setelah niat cinta kepada Allah, kuatkan rasa cinta kita terhadap pasangan kita dengan tulus. Dengan cinta yang tulus kepada pasangan kita, makan akan menjadi obat disaat kita menemui masalah dalam rumah tangga.

Obatnya dengan menatap wajahnya disaat tidur dan kembali ingat awal cinta yang hangat kepada pasangan kita dulu. *aaah co cweeet.. jadi lihatin pak suami tidur deh.

Nah, jadikan dua cinta tersebut landasan kuat niat kita menikah.

Kalau model yang nggak pakai pacaran dulu, atau ta'arufan, atau dijodohin sama teman kan belum tentu cinta tuh. Itu gimana? Nggak ada cinta kedua dong?
Kalau menurut saya nih yaa.. ta'aruf kan kita berkenalan. Kalau cocok dari hasil ta'aruf, maka kita menikah. Nah, awal rasa cocok itu Allah sudah mengirimkan sinyal cinta kepada pasangan kita.

Nantiii.. silakan teman-teman pupuk cinta tersebut setelah menikah. Lebih enak looh, karena cinta tumbuh disaat kita halal sama pasangan kita mau ngapain aja. ^_^

Baca juga : He/She is not my type

- Kesiapan menjadi seorang ayah atau ibu

Menurut Ibu Vera, banyak pasiennya yang bermasalah setelah menjadi seorang ayah atau seorang ibu. Banyak yang berubah ketika menjadi seorang ayah/ibu. Baik dari perubahan fisik, begitu juga perubahan prilaku.

Solusi dari Ibu Vera, tetap perlakukan pasangan kita sebagai kekasih. Walau ada anak diantara kita, tetap utamakan pasangan kita. Maka kita akan merasa dihargai oleh pasangan.

- Kesiapan untuk selalu setia dengan 1 orang.

Menikah adalah menyatukan 2 hati selamanya hingga maut memisahkan kita. Dengan kesiapan batin untuk selalu setia, maka kita terhindar untuk melirik pasangan lain.

- Kesiapan menerima keluarga baru

Menjalani kehidupan berkeluarga adalah fase terbesar dalam hidup setiap manusia karena berkeluarga menyatukan dua individu yang berbeda, akan ada peran dan tugas yang melekat pada masing-masing terkait dengan posisinya sebaga isuami, istri, ayah ibu (orangtua), dan menjamin terlaksananya fungsi keluarga agar memiliki ketahanan dan kesejahteraan sehingga terwujud keluarga yang berkualitas.


2. Persiapan Fisik

Untuk persiapan fisik juga ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :

- Kesiapan usia menikah.

Baik lewat aturan negara ataupun secara kacamata psikologi, menikah yang baik adalah diawali dari usia 20 tahun bagi perempuan dan 24 tahun bagi pria. Sebaiknya tidak lebih dari 30 tahun.

Menurut Ibu Vera diusia tersebutlah kematangan psikologi seseorang itu mulai terbangun.

Kenapa tidak disarankan menikah diatas 30 tahun, Bu?
Usia diatas 30 tahun, menurut Ibu Vera secara psikologi sudah lebih besar ego-nya. Mereka akan merasa gue-gue lo-lo. Ini duit saya, itu duit kamu. Ini privasi saya, ini privasi kamu. Inilah pencetus masalah bagi pasangan yang menikah diatas 30 tahun.

Tapi bagi yang belum menikah diusia 30 tahun keatas, bukan berarti rumah tangganya pasti berantakan yaa. Semua dikembalikan lagi ke niatnya. Karena jodoh kan rahasia Allah ya, manusia hanya bisa berusaha.

- Kesiapan Kesehatan

Sebelum menikah ada baiknya kita cek kesehatan masing-masing pasangan. Bukannya kita tidak percaya dengan pasangan, tapi nggak ada salahnya kaaan kita berhati-hati?

Cek kesehatan yang dilakukan sebelum menikah adalah :

  • Pemerikasaan darah perifer lengkap (DPL)
  • Tes toksoplasma, rubella dan CMV (Torch)
  • Tes penyakit menular
  • Tes narkoba
Semua tes tersebut sangat berkaitan dengan generasi penerus kita looh, yaitu anak-anak.

- Kesiapan finansial

Kesiapan finansial disini bukan berarti harus kaya raya ya atau menyiapkan pesta pernikahan yang mewah. Finansial yang dimaksud adalah tercukupi kebutuhan keluarga. Tidak kekuranga, alhamdulillah jika berlebih. Kalau tolak ukurnya mewah dan kaya, yaa nggak akan ada yang berani untuk menikah deh. -_-

CONTOH MENIKAH TANPA CINTA TERENCANA

Jika menikah dilakukan tanpa cinta terencana, kebanyakan yang terjadi adalah bercerainya ikatan pernikahan. Dalam Islam, Allah membolehkan perceraian, namun Allah benci akan hal itu.


Apa saja sih contoh menikah tanpa cinta terencana?

- Pernikahan Dini

Pernikahan diusia dini menyebabkan kurangnya kematangan psikologi seperti yang disampaikan oleh Ibu Verauli.

Sekalipun usia pernikahan disahkan oleh negara diusia 16 tahun, tapi kematangan psikologi tetap tidak bisa tergantikan.

Namun di Indonesia ada beberapa daerah yang mendukung kematangan psikologi catin, karena adat disana yang menjadikan tradisi pernikahan dini, seperti anak SMP yang viral tersebut.


- Menikah karena hamil diluar nikah (MBA)

Ini dalam bahasa inggrisnya saja sudah Merried By Accident, so sudah otomatis menikah tanpa terencana. Menikah hanya menutup aib, karena masyarakat Indonesia masih menganggap hal tersebut adalah aib.

Semua ini adalah hasil dari prilaku sex bebas atau berganti-ganti pasangan. Duuh dari agama sudah melarang pasti efeknya nggak ada yang bagus ya.

- Menikah karena hutang

Ini masih banyak loooh terjadi di masyarakat kita. Duh sedih kalau ini terjadi. Menikahnya karena benar-benar terpaksa. Boro-boro cinta terencana, kata cinta saja tidak ada.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh lainnya, namun 3 contoh diatas cukup mewakili.


Apa hal-hal yang harus dilakukan, jika kita sudah terlanjur menikah?

Ibu Vera memberikan 3 hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga keutuhan rumah tangga, sehingga menjadi keluarga yang berkualitas, yaitu :

1. Fleksible

Di dalam pernikahan kita harus fleksible dalam segala hal. Rendahkan ego untuk bisa saling menyesuaikan diri baik dengan pasangan ataupun dalam mendidik anak-anak kita.


2. Kedekatan

Sesibuk apapun kita, kedekatan kepada keluarga adalah hal yang terpenting untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Moment-moment kedekatan ini hanya kita yang paham kapan dan dimana moment itu bisa kita laksanakan.

3. Komunikasi Positif

Usahakan komunikasi positif tetap berjalan lancar di dalam keluarga, baik komunikasi pada pasangan ataupun kepada anak-anak. Namun seperti yang saya tulis diatas, utamakan pasangan daripada anak.

cinta terencana bkkbn
Cara memberikan komunikasi positif dalam keluarga (photo by capture slide Ibu Vera)


SIAPA SIH TARGET CINTA TERENCANA?

Pemerintah, khususnya BKKBN, berkampanye tentang cinta terencana ini untuk generasi muda di Indonesia, khususnya para remaja dan juga para orangtua.

Kenapa sih harus remaja?
Masa remaja adalah masa dimana awal mulanya setiap individu memasuki masa kedewasaan. Itu sebabnya perlu disiapkan kematangan pribadinya, agar memiliki pengetahuan tentang berkeluarga.

Harapannya kelak para remaja ini  dapat menyiapkan diri dan merencanakan kehidupan berkeluarga dengan baik.

Ada 3 hal penting yang terus digaungkan pemerintah kepada remaja, yaitu  remaja bisa berpikir 3 zero :
  • Stop menikah dini dibawah usia 20 tahun.
  • Jauhi sex bebas.
  • Jauhi narkoba.
Tiga zero ini dilambangkan dengan salam GenRe (Generasi Terencana)

"Salam Genre, saatnya yang muda yang terencana"


Menurut Ibu Eka, daripada berpikir untuk menikah muda, banyak hal yang bisa remaja lakukan. Ada 5 transisi kehidupan remaja (youth five transation) untuk mencapai generasi muda yang terencana, yaitu :
  • Melanjutkan sekolah (continue learning)
  • Mencari pekerjaan ( start working)
  • Memulai belajar hidup berkeluarga (from families)
  • Menjadi anggota masyarakat yang baik (exercise citizenship)
  • Menjalani hidup sehat (practice healthy life)

Edukasi dari orangtua jauh lebih penting daripada remaja mencarinya sendiri. Segala cinta terencana akan terlaksana dengan dukungan keluarga.

Dalam sebuah negara keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya (UU 52/2009).

Yuk, dukung kampanye cinta terencana dari BKKBN untuk mencapai keluarga yang sejahtera dan menjadi cikal bakal kesejahteraan bangsa. Aamiin.

Informasi lengkap juga bisa kamu lihat di media sosial BKKBN berikut ini :
Instagram: @bkkbnofficial
Facebook: BKKBN
Twitter: @BKKBNOfficial
Website: bkkbn.go.id

Semoga tulisan ini bermanfaat ^_^

Wassalam




61 komentar:

  1. Kasian kalau nikah harus bayar utang, cinta tergadaikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mpo.. kesiksa banget. Semoga ga terjadi di keluarga kita ya.

      Hapus
  2. Apapun yang direncanakan memang akan memberikan hasil yang baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, manusia sudah usaha dengan rencana tapi tetap Allah juga yg menentukan.

      Hapus
  3. Suka sama kalimat ini "Keluarga adalah saat kehidupan dimulai dan saat cinta tak pernah berakhir". Dan ya menikah tidak semudah dan sesimpel kelihatannya. Makasih Mbak sudah sharing, jadi nambah ilmu lagi nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2.. hu uh.. menikah butuh pemikiran yang matang.

      Hapus
  4. Cinta teh kudu terencana, matang dan bervisi, jangan mau asal cinta, apalagi cinta buta,
    mantep mba sharingnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes.. soalnya banyak hal utk membentuk sebuah keluarga ya.

      Hapus
  5. Sekarang slogannya bkkbn bukan 2 anak lebih baik lagi ya? Hihihi. Soalnya aku takut banget punya cita cita punya anak lebih dari dua karena slogan tersebut. Biar 4, asal terencana dengan baik insyaallah aman ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rejeki mah Allah yg atur. Bener, ga perlu takut utk punya anak banyak asalkan terencana dengan baik.

      Hapus
  6. Baca tulisannya mbak jadi keinget sama adek tiri saya mbak, yang sudah tidak lagi tinggal serumah. Kami gagal membimbingnya mencapai pernikahan terencaba. Walau sudah diwanti-wanti wanti sejak mulai menginjak usia remaja supaya jangan sampai nikah cepet, tapi kejadian juga pernikahan dini.

    Semoga sosialisasi yang dilakukan pemerintah, khususnya BKKBN bisa lebih gencar lagi. Sehingga kasus pernikahan anak dibawah umur semakin bisa ditekan jumlahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, Mba. Tujuan BKKBN agar semua baik remaja atau orang tua bisa sadar dan tau tentang informasi cinta terencana ini.

      Hapus
  7. karena menikah itu seumur hidup jadi emang kudu terencana ya... cuman jaman sekarang banyak ya yang nikahnya malah telat hihihihi.. ada temen yang telat nikah dan usia 40 tahun baru hamil.. yawlaaa aku yang deg deg an liat dia pas hamil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, Mba. Jodoh kan Allah yang tau ya. Semua dikembalikan ke Allah kalau memang yg kita jalani diluar rencana kita.

      Hapus
  8. Kalau menikah hanya dengan alasan takut takut tidur sendiri rasanya terlalu naif ya, Mbak. Apalagi usia masih muda begitu. Padahal pernikahan gak hanya tentang tidur bersama. Setuju, deh yang namanya nikah harus direncanakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa polos banget yaa. Perlu edukasi utk setiap kematangan psikologi remaja.

      Hapus
  9. Wah, keluarga saya termasuk di keluarga dengan anak prasekolah nih. Tapi saya juga punya bayi ini, masih masuk di kategori itu kah? Terus, ada ilmu khusus kah buat keluarga di tahap ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya kemarin dibahas sedikit sama ibu vera. Tentang keluarga dengan anak. Cuma jalurnya jadi keluar tema, Mba ^_^

      Hapus
  10. Baru tau banget soal program ini karena baca blog kakak. Ini bener banget kak, aku yang udah punya dua anak susah banget luangin waktu dan memperhatikan suami. Padahal kan dalam
    Keluarga gak hanya tentang anak ya kak. Tapi tentang keharmonisan suami istri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, Mba. Itu sebabnya dalam komunikasi positif, Ibu vera selalu menekankan agar mengutamakan pasangan baru anak. Agar bisa saling menghargai dan tetap tumbuh rasa cinta itu.

      Hapus
  11. Pemerintah memang selalu mencanagkan keluarga berencana atau terencana. Namun saya sebagai muslim tidak pernah menggunakan proteksi apapun. Tidak pake KB sudah 5 tahun anak pertama. Belum juga dapat anak kedua. Jadi sebaik baiknya perencanaan adalah selalu melibatkan Tuhan Yang Maha Esa karena Tuhan Maha Tau segala yang Terbaik bagi keluarga kita. Thanks for your sharing. Cinta sejati adalah Cinta yang menyelamatkan Dunia & Akhirat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Mba nya keselip ya bacanya. Kan sudah saya bilang diatas kalau KB bukan semata2 tentang alat kontrasepsi. ^_^

      Hapus
  12. Jadi inget dulu selalu ada "Dua Anak Cukup" bener juga untuk menikah itu butuh persiapan matang, apalagi kalau sudah hadir seorang anak. Segala sesuatu harus terencana, apalagi secara segi finansial.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, rencakan dahulu, jalani rencana tersebut dan pasrahkan ke Allah sebagai penentu rencana kita baik atau tidak buat kita.

      Hapus
  13. Gejolak anak muda pengennya buru-buru dihalalin, padahal membangun rumah tangga tak semudah membalikkan tangan ya. Kudu ada persiapan matang seiring matangnya usia, financial dan fisik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul.. makanya target cinta terencana ini utk para remaja dan ortu yg memiliki remaja.

      Hapus
  14. Itu anak SMP kok ya alasannya gak bisa ku terima dengan akal sehatku yaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...
    Btw skrmg2 ini aku lg gemes sama yg namanya kempen nkah muda, ya gak ada salahnya sih, kalau udah siap secara materi, fisik, dan mental, tapi kok kyke ada yg gak dan itu yg aku kurang setuju. Kebanyakan nonton sinetron kali itu anak2 :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak remaja skrg lebih banyak ngikutun gaya selebritis yg nikah muda. Nggak papa juga sih, hanya saja kesiapan orangtua utk kematangan psikologi anak juga sudah ada. Kalau ortu blm siap, jauh2 deh dari menikah dini utk anaknya.

      Hapus
    2. Huhuhu iya tu mbak, padahal kehidupan pernikahan tak seindah di IG yaaaaaaaaaaa :(

      Hapus
    3. Iyes.. namanya juga anak muda. Makanya kita perlu edukasi anak2 kita ttg cinta terencana ini.

      Hapus
  15. alhamdulillah saya menikah terencana
    umur 25 tahun dan suami memang di atas 30
    sama sama sudah matang
    finansial juga
    semoga anak saya nanti juga menikah dengan terencana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Kalau terencana begini insya Allah lancar dan langgeng ya, Mba.

      Hapus
  16. Rumah tangga ga hanya sekedar bermodal cinta yaa tetapi juga banyak aspek di dalamnya. Harus ada rencana yang matang dan komitmen yang disepakati keduanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Minimal kita punya tujuan yang sama, karena kita akan 1 oerahu ke tujuan tersebut. Kalau berbeda ditengah jalan bisa karam kapalnya.

      Hapus
  17. Serius ya mbak gak baik menikah diatas 30 tahun? gimana kalau kasusnya masih belum dapet pasangan mbak? *kemmudian diam dipojok ruangan. hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan saya tulis diatas. Jodoh itu kan ditangan Allah. Tinggal ikutui aja tuh saran2 ibu vera dibawahnya.

      Hapus
  18. Tema yang bagus banget ini, di tengah semakin "gampangnya" orang ngambil keputusan pada usia sekolah sekalipun. Bahkan hanya karena tokoh selegramnya menikah dini, doi pun rasanya harus kawin besok juga. Yeps, bekal lahir batin yang harus dipersiapkan, termasuk cinta, biar ga gerutu pas nyuci baju laki, hahahah...

    Ternyata pernikahan yang baik itu pake batas umur ya. baru tau sayahhh... Nikah di umur 20 itu lebih baik ketimbang saat umur 30an. Hemm, oke dehhh... Walau yang nikah di umur 20 lantas pisah di umur menjelang 30 pun banyak. Dan banyak pula yg nikah di umur 30 dan bahkan 40an, mereka bijak menjalani rumah-tangganya. Well, se-baik2nya pernikahan adalah yang dalam ridho Allah, di umur berapapun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, semua tergantung niat awal menikah, ta. Mau usia berapapun kalau niat awal sudah salah kedepannya juga sudah salah.

      Manusia hanya berencana, tapi Allah jua yg menentukan.

      Hapus
  19. Menikah memang bukan hal main-main, jadinya harus terencana dengan baik. Mirisnya banyak yg menikah muda tanpa kesiapan dan perencanaan yg matang. Padahal sebaiknya gak salah ya pilih jodoh dgn bibit bebet bobot supaya ke depannya menjadi baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener bibit bebet bobot memang dibutuhkan sesuai sunnah rasulullah.

      Hapus
  20. Menikah memang tak mudah karena prosea adaptasi dua orang yang berbeda itu tak mudah. Unik ya dengar nama cinta terencana. Tapi memang harusnya gini, karena kehidupan bagaimanapun harus direncanakan agar tak menyesal kemudian hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Mba. Menyesal biasanya datang belakangan. Kalau didepan itu namanya oendaftaran.

      Hapus
  21. Miris ya mbak ada anak masih belia banget usianya sdh nikah, alasannya pun gak masuk akal gitu. Kl menurut saya sih, orangtuanya juga harus bertindak, tidak membiarkan begitu sja. Dan tugas orangtua juga untuk memberi informasi kalau menikah muda itu tidak seindah yang mereka bayangkan. Kalau generasi semuanya gitu, mau jadi apa mereka nantinya :(. Miris ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah makanya targetnya bukan sekedar remaj, tapi juga orangtua agar bs mengedukasi anaknya.

      Hapus
  22. Setuju banget, aku termasuk yang gak "ngegampangin" masalah "ayo nikah", tapi tetap ada perencanaan dan pertimbangan juga. Terutama soal kesiapan mental dan psikis, terlepas dari hal2 lain yang sama pentingnya. Intinya jangan terburu2 apalagi karena terganggu omongan orang, tapi juga sebaiknya gak kelamaan ditunda kalau memang sudah mantap dg calonnya karena semakin lama semakin tumbuh ego yang bisa "mengancam". Selebihnya, kembalikan semua ke yang Maha Merencanakan dan Menentukan. Hihiiii jadi serius ya kalau bahas ini :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. iya mba. Jangan kelamaan jangan juga kecepatan. Kalau kata vety verra yg sedang2 saja. Xixixi

      Hapus
  23. Nikah itu emang perlu rencana, miris liat abg udah hamil diluar nikah, pas nikah kdrt terus cerai, anaknya jd korban.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. sediiih. Belum kalau ibunya stress. Duuh kasian anak2.

      Hapus
  24. Bagus ya materinya . Bukan lagi euforianya aja sekarang ini tetapi bamyak hal-hal dasar yang harus dipelajari.

    BalasHapus
  25. Dengan smua trencana pernikahan akan lebih samawa bisa lbh mengerti kekurangan dn klebihan pasangan y mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes.. bisa saling peduli dan menghormati.

      Hapus
  26. Setuju banget sama postingannya. Pernikahan memang ngga cukup dengan cinta, butuh direncanakan. Makanya gemezzz banget lihat anak SMP sudah mau menikah saja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebanyakan liat sinetron dan seleb gram kali ya, Mba

      Hapus
  27. Betul bgt nih. Nikah bukan cuma utk nyari temen tidur ya. Kalau cuma itu, pelihara kucing aja wkwk

    BalasHapus
  28. Memang bener, kalau asal cinta saja tak berpikir panjang, maka akibatnya juga semua menderita

    BalasHapus
  29. Segala sesuatu kalau terencana lebih apik ya

    BalasHapus
  30. zaman now banyak pernikahan tanpa rencana mba Ade, bagus ini temanya mengingatkan kita mulai dari rumah, ke anak-anak supaya di masa depan memikirkan cinta terencana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuul.. dari keluarga semua ilmu tentang cinta terencana bisa tercapai.

      Hapus
  31. aku kira cinta apa yang bakal terencana, ternyata bukan ada apa dengan cinta hehe. Memang sih perencanaan itu perlu supaya gak gelisah dan khawatir saat tiba pada waktu pembayaran uang pangkal sekolah anak. duhh aku jadi tjurrhaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. itu termasuk perencanaan finansial ya

      Hapus

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Tapi mohon maaf, buat yang profilnya "unknown" langsung saya hapus. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^