Tips Mencegah Anak Kecanduan Gadget

Gadget atau gawai sudah menjadi kebutuhan di era millenial ini. Hampir sebagian besar orang yang tinggal di kota besar akan merasa kehilangan jika tidak bersama gadget sehari saja. Biasanya yang lebih banyak penggunanya adalah anak-anak. Nah, kali ini saya mau menuliskan tips mecegah anak kecanduan gadget.




Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum w.w.

Memasuki era millenial ini, gadget rasanya bukan barang asing lagi. Dimana pun kita berdiri pasti melihat orang yang sedang memgang handphone. Yes, handphone (hp) minimal gadget yang dimiliki setiap orang. Bahkan sekarang bukan lagi orang dewasa yang memegang gadget, bayi pun sudah dimodali oleh ortunya untuk memegang gadget.

Sebab sekarang banyak hal yang bisa kita dapat dari sebuah handphone. Apalagi sekarang akses internet makin mudah dan murah. Semua provider menawarkan paket-paket internet dengan berbagai bonus. Coba siapa yang nggak tergiur hanya dengan mengeluarkan uang Rp 30.000, kita sudah bisa beli simcard dengan bonus akses internet puluhan gigabyte.

Padahal dulu waktu jaman saya pertama kali mempunyai handphone, harga simcard saya itu Rp 400.000. Mahal yaaa.. itu tahun 2000. Dan simcard bisa diperjual belikan. Sekarang? Habis kuota internetnya, dibuang. Beli baru lagi. Makanya kadang saya suka sebel sama temen yang nomornya selalu ganti.

Gadget dan Media Sosial

Bicara soal gadget, maka tak jauh dari media sosial. Yes, sekarang beragam media sosial berlomba mengeluarkan fitur-fitur yang mempermudah penggunanya dari jarak jauh. Dengan adanya media sosial, macam Facebook, Instagram, Whatsapp, Line, Twitter dan lain-lain memang yang jauh terasa dekat dan yang dekat terasa jauh.. loh?

Hu uh, pastinya teman-teman tau dooong itu keluhan orang-orang sekarang. Lucunya lagi di era pilpres dan politik, sosmed jadi ajang bertarung dari masing-masing kubu. Saling nyinnyir. Mulai dari yang halus kata-katanya sampai keluar kebun binatang.. ckckckc.

Segala bullyan verbal banyak keluar lewat medsos. Bahkan tanpa kita sadari ajang gibah pun pindah dari mulut ke jempol. Tapi media sosial juga bukan menampilkan sisi negatif saja. Banyak juga yang mendapatkan manfaat dari media sosial. Seperti jualan online, marketing produk lewat influencer, vlogger dan blogger macam saya ini. Juga banyak ilmu-ilmu yang baik bahkan dakwah offline di buat video dan di share lewat media sosial. Jadi bagi yang tidak ikut kajian bisa menikmati dakwah dari rumah.

Perempuan dan Media Sosial

Itu sebabnya, pada tanggal 17 Oktober 2019 lalu, Kementrian Agama RI mengadakan seminar sehari yang bertemakan Perempuan dan Media Sosial. Loh kok perempuan saja, padahal laki-laki kan juga bermain media sosial?

Menurut Ibu Trisna Willy sebagai penasihat Darma Wanita Kementrian Agama, menegaskan kenapa harus perempuan yang lebih digaris bawahi, karena dari perempuan lah yang bisa mengkontrol baik buruknya postingan kita di media sosial. Perempuanlah yang menjadi dasar utama mendidik anak-anak dirumah sehingga membentuk ketahanan keluarga dalam pengaruh media sosial.

Ibu Trisna Willy

Jika media sosial diibaratkan sebuah barang, Ibu Trisna memilih pisau sebagai barang tersebut. Pisau itu tergantung dari siapa yang memegangnya. Jika yang memegang pembunuh, maka fungsi pisau jadi buruk. Tapi jika yang memegang Chef, fungsi pisau jadi barang yang bermanfaat dan menghasilkan masakan enak yang bisa dinikmati orang banyak. Begitupun media sosial.

Nah, disini perlu peran perempuan yang bisa mendidik anak-anak di keluarganya agar menjadi manusia-manusia yang bijak dalam menggunakan media sosial.

Bijak Menggunakan Media Sosial

Acara seminar saat itu juga diisi oleh Prof Dr. Drs. H. Hendry Subiakto, SH. MA sebagai pemateri tentang dunia cyber di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa saat ini sudah terjadi pergeseran dari dunia nyata menjadi dunia digital. Contoh saja sekarang orang sudah sedikit yang membawa uang kertas sebagai alat pembayaran dan digantikan oleh kartu atau dompet digital seperti gopay, ovo, dll. Begitupun dalam keseharian, semua yang dibutuhkan manusia sudah ada dalam genggaman (hp). Jadi wajar jika sekarang orang lebih panik kehilangan handphone daripada barang lainnya.

Prof Hendry

Begitupun pengguna internet kini bukan lagi untuk orang dewasa, melainkan juga anak-anak. Maka dari itu pemerintah mencoba membatasi penggunaan internet, terutama bagi anak-anak. Upaya yang dilakukan adalah :

1. Menerima laporan situs-situs yang dilarang dan meresahkan masyarakat.

Tau sendiri yaa, sekarang kan banyak sekali hoax yang tersebar. Baik itu untuk urusan politik ataupun agama. Bukan cuma itu saja, tapi banyak hal-hal di media sosial yang tidak menyenangkan dan meresahkan masyarakat. Maka upaya pemerintah untuk hal ini adalah siap menerima laporan dari masyarakat. Tentunya laporan yang diterima akan di verifikasi terlebih dahulu kebenarannya. Setelah lolos verifikasi, maka akan ditindaklanjuti sesuai hukum ITE yang berlaku.

2. Memblokir situs yang mengandung konten yang dilarang dan meresahkan masyarakat.

Nah untuk yang ketiga ini, pembuat situs seolah nggak ada matinya. Diblokir 1 maka akan muncul situs-situs baru yang serupa. Terutama soal pornografi. Yang jelas-jelas merusak akhlak dan perkembangan otak manusia. Istilah mati satu tumbuh seribu berlaku untuk situs pornografi.

Dan pemerintah sudah memblokir kurang lebih 8jt situs terlarang hingga tahun 2018. Wooow... banyak juga ya? dari jumlah tersebut ada 169 situ LGBT yang diblokir.
Jadi Prof Hendry mengingatkan kita untuk bijak dalam berinternet, karena akan ada hukum-hukum yang menjerat saat ini.

Begitu juga yang disampaikan oleh Bapak Erik Mubarak. Karena menurut data yang diberikan Pak Erik dari 171jt penduduk Indonesia 64% nya adalah pengguna internet. Dan usia pengguna yang paling banyak adalah usia 15 – 19 tahun. Waah, itu usia remaja, dimana mereka masih mencari jatidirinya. Masih belum bisa memilah dengan baik postingan yang bermanfaat atau tidak oleh mereka. Yang masih kebanyakan mengikuti trend kekinian.Itulah sebabnya peran orangtua sangat penting untuk mendapingi para remaja ini, terutama ibu.

Pak Erik

Peran Perempuan dalam Pengaruh Gadget pada Anak

Di sesi berikutnya Ibu Rahmi Dahnan, S.Psi, M.Pd mengatakan bahwa kecanduan internet berawal dari gadget, maka dari rumah pun sudah harus diawasi penggunaan gadgetnya. Seperti yang saya tulis diawal bahwa fenomena saat ini anak kecil bahkan bayi saja sudah diberikan gadget oleh orangtuanya. Dimana kemapuan otak mereka belum berkembang dengan baik. Sehingga apa yang mereka dapat dari gadgetnya belum bisa mereka serap dan pilah pilih dengan baik.

Ibu Rahmi

Ibu Rahmi mengatakan, jika ingin anak tidak mudah terpengaruh dengan apa yang terpapar dalam internet, maka jadilah contoh yang baik bagi anak-anak. Dan contoh yang paling melekat pada pembentukan karakter anak itu ada pada Ibu. Anak mudah menyerap kondisi orangtua, terutama Ibu, disetiap momentnya. Karena tak seorang pun yang bisa menyamai pengaruh orangtua pada anak.

Tips Mencegah Anak Kecanduan Gadget

Pada seminar sehari itu saya benar-benar dapat ilmu banyak dari para narasumber. Sebagai seorang perempuan dan posisi sebagai ibu, banyak tips dari penjabaran mereka untuk mencegah anak kecanduan gadget, yaitu :

1. Beri aturan gadget sebagai hak milik dan hal guna

Dalam hal ini Pak Erik ataupun Ibu Rahmi memberikan penjelasan yang sama. Anak sebaiknya tidak diberikan hak milik gadget hingga mereka mulai mengerti penggunaannya dengan benar. Yang diberikan pada anak adalah hak guna.

Di era digital ini rasanya tak bisa kita keras melarang anak untuk tidak memegang gadget. Namun kita masih punya kesempatan untuk memanfaatkan hak guna. Kita bisa membuat aturan yang ketat untuk hak guna. Contoh yang diberikan oleh Pak Erik, anak boleh meminjam hp selama 5 menit setelah menyelsaikan tugasnya.

2. Dampingi anak saat menggunakan gadget

photo by pexels.com

Seluruh narasumber seminar sepakat bahwa pendampingan orangtua saat anak menggunakan gadget bukan saat mereka masih kecil, mereka remaja pun perlu pendampingan. Jadi kita bisa paham apa yang anak lihat, sehingga bisa terkontrol dari melihat konten-konten terlarang.

3. Ikuti trend terbaru yang disukai anak

Menjadi orangtua memang harus siap untuk mengikuti trend kekinian agar bisa berdiskusi dengan anak. Sehingga diskusi bisa menjadi dua arah antara orangtua dan anak. Kita pun bisa menyisipkan nasihat yang kita inginkan pada anak.

4. Luangkan waktu untuk mengajak anak diskusi dan bermain bersama

photo by pexels.com

Dengan mengajaknya berdiskusi atau ngobrol bareng membuat anak menjadi lupa akan gadgetnya dan mengembangkan pikiran yang kritis serta kreatif bagi anak.
Ngobrol bareng atau bermain dengan keluarga, tanpa disadari dapat membentuk cinta dan ikatan keluarga lebih harmonis.

Ikut seminar sehari bersama kemenag sangat bermanfaat banget bagi saya. Saya dapat ilmu parenting yang baik untuk anak-anak saya terutama dalam hal penggunaan gadget.

Semoga ilmu seminar yang saya sharing ini bisa menjadi ilmu bermanfaat juga buat teman-teman yang baca. Terutama untuk tips mencegah anak kecanduan gadget.

Wassalam











No comments

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Tapi mohon maaf, buat yang profilnya "unknown" langsung saya hapus. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^