Restauran Al Sadda Otista - Jakarta Timur


Bismillahirrahmaanirrahiim
Asslamu'alaikum w.w.

Ini kali kedua saya membahas restoran yang menyajikan makanan penduduk Asia Tengah. Sebelumnya saya pernah membahas restoran Taj Mahal setelah berkeliling wisata dengan Mpok City.

Baca : Restoran Taj Mahal Pasar Baru - Jakarta Pusat

Kalau ada yang bertanya, saya suka yaa makan makanan orang Asia Tengah, jawabannya lebih ke "sudah biasa"... xixixi.. Yes, mungkin yang rajin membaca tulisan saya ini, sudah tau kalau saya masih ada garis keturunan Arab dari mama. Tapi yang lebih banyak menikmati masakan Asia Timur justru dari keluarga besar papa. Karena keluarga papa masih tinggal di seputaran Kampung Melayu - Tebet, yang dulunya terkenal sebagai kampung Arab. Sedangkan keluarga mama sudah berbaur dengan budaya lain, namun masih kuat dengan masakan Sumateranya yang rempah dan rasanya sebelas dua belas dengan masakan Asia Tengah. Jadi ya lidah ini sudah terbiasa dengan makanan itu dan cocok dengan rasa-rasanya.


Nah, hari Minggu yang lalu, 25 Maret 2018, saya mengajak papa dan ibu untuk makan di restoran Al Sadda, yang bertempat di :

Jl. Otto Iskandardinata No. 101
Kampung Melayu - Jakarta
telp : 021 85916695

Setiap kali saya ke rumah papa, saya pasti melewatkan restoran itu. Tapi baru kesampaian Minggu kemarin. Dan itu memang sudah niat banget mau ajakin makan bareng. Alhamdulillah beliau mau.

Berhubung mobil papa sedang di service, maka kami pergi ke restaurant Al Sadda naik taksi online. Nggak sampai 5 menit kami sudah sampai, ya iyalaaah secara deket banget rumah papa ke restaurant Al Sadda. ^_^ Hanya saja kalau naik angkot harus naik jembatan penyebrangan 2x. Kalau jalan kaki, lumayan pegel. Untuk saya sih nggak masalah ya, tapi kalau untuk ibu yang kakinya baru 6 bulan di operasi nggak mungkin lah.

Akhirnya kami pun sampai di restoran Al Sadda. Restaurannya kalau dari luar terlihat sempit. Parkiran pun kurang lebih hanya cukup 4 - 5 mobil saja. Desain timur tengahnya sudah terlihat dari pintu masuk restauran, tapi nggak terlihat wah. Seperti rumah-rumah Arab biasa saja. Jika orang yang melintas di jalan Otista nggak akan menyangka kalau itu adalah restauran.

Tampak depan restauran Al Sadda (photo by zomato)

"Assalamu'alaikum, selamat datang pak/bu"
Sapaan penjaga pintu restauran ketika menyambut kami datang. Kami ditanyakan jumlah orang, lalu kami diminta memilih mau duduk lesehan atau duduk meja. Berhubung kaki ibu belum bisa duduk lesehan kami memilih untuk duduk meja makan.

ruang dalam restauran, kiri tempat lesehan kanan meja duduk (photo dok. pribadi)


Kalau memilih yang lesehan, tempatnya juga nyaman, tapi nggak terlalu besar dan paling hanya cukup 5 orang saja. Tempat makan yang lesehan kita akan diberikan bantalan bangku untuk sender-senderan. lantai lesehannya pun pakai karpet tebal.

Tempat lesesah

karpet alas duduk lesehan

Selain tempat makan meja dan lesehan, restauran ini menyediakan ruangan VIP. Bentuknya seperti lesehan, hanya saja lebih besar dan private.

Ruang vip (photo by google search)

Setelah menentukan tempat duduk, kami disuguhkan buku menu untuk memilih makanan. Saat itu kami memilih menu makanan 1/4 Lamb Mandi untuk porsi 3 - 4 orang. Kami mau mencoba sajian utama Al Sadda, karena menurut pramusajinya kalau menu ini bisa dimakan beramai-ramai, tinggal pesan minumannya saja.




Begitu menu selesai kami pesan, tetiba pramusajinya yang sebagian besar wanita dan mengenakan jilbab, membawakan plastik untuk menutupi meja. Fungsi plastik tersebut agar makanan yang tercecer tidak berantakan. Soalnya makanan arab kan penuh dengan rempah dan warna rempah yang kekuningan itu bisa mengotori meja. Belum lagi yang saat makan melepas tulang-tulangnya. Jadi meja tetap bersih. Waaah, idenya kreatif ya.

Meja sebelum diplastikin

Meja sudah diplastikin

Nggak pakai nunggu lama, pesanan kami pun datang. Satu-satu menu paket keluar disajikan. Mulai dari potongan Jeruk Lemon, Bawang Bombay dan 4 mangkok Marak Lahm. Marak Lahm ini adalah sop kambing tanpa santan dan bening berwarna kekuningan. Kuahnya dihirup sebagai netralisir makanan Nasi Lamb Mandi yang bener-bener kering. Biasanya makannya disiram di daging atau iga kambing yang disajikan di Nasi Mandi. Saya sempat bingung dengan bawang bombaynya bagaimana cara makannya ya. Ternyata menurut mba-mba pramusajinya, "kalau orang Arab biasanya dimakan langsung seperti lalapan." Kami hanya ber O ria mendengar jawaban Si Mbak. Maklum saya Arab kw... hehe.

bawang bombai, jeruk lemon dan Marak

Lalu setelah itu datang menu 2 Roti Canai dan 2 Idham Musyakal (Lahm). Idham Musyakal ini cocolan dari roti canai yang kental dan rasa kari yang khas. Disajikan diawal sebagai pembuka makanan sebelum ke menu utamanya. Selain Idham ada beberapa cocolan sambelnya juga.

Roti canai, Idham, Marak dan cocolan sambelnya

Untuk minuman saya dan Abang Fi memesan minuman kesukaan kami, yaitu Ice chocolate untuk Abang Fi dan Lemon untuk saya. Sedangkan Jid dan Ibu memesan minuman arabic Tea. Saya pikir Teh Arab tuh seperti teh biasa berwarna coklat bening, tapi ternyata yang datang berupa teh susu seperti teh tarik, tapi diberikan kapulaga. Jadi rasanya agak sepet-sepet dikit.

teh arab

Yang buat saya tertarik di daftar menu  minuman itu ada minuman bernama Laban. Laban adalah minuman youghurt plain. Wah, saya sudah pernah merasakan minuman ini di restauran Taj Mahal. Jadi saya tidak memesannya.

Baca : Restauran Taj Mahal Pasar Baru - Jakarta Pusat

Finally... datanglah nasi mandi pesanan kami. Woooow, ternyata besar sekali, pantas saja jika dibilang bisa dimakan sebanyak 4 orang. Nasi Mandi yang disajikan dengan loyang aluminium yang besar. Diatas Nasi mandinya terdapat 1/4 daging kambing. pas dicoba.. hmm.. dagingnya empuk banget, nggak alot. Dan yang paling saya suka, nggak ada sedikitpun bau kambing. Masuk ke restaurannya pun nggak ada bau kambing. Abang Fi nambah sampai 2 kali. Papa dan ibu pun lahap makannya. Seneng jika ajak makan orangtua, orangtuanya seneng makannya.

Nasi mandi

Oiya, berhubung ini makannya banyak menggunakan tangan, jadi ya cuci tangan dulu di kamar mandi. Nggak ada wastafel buat cuci tangan. Tapi nggak usah khawatir kamar mandi restaurannya bersih, wangi dan kering, seperti kamar mandi hotel. Jalur kamar mandi laki-laki dan perempuannya juga dipisah. Biasanya kan 1 jalur, hanya dipisah ruangannya. Tapi kalau di Al Sadda jalurnya saja sudah terpisah. Di sebelah kamar mandi masing-masing juga ada mushollahnya, jadi yang datang di waktu-waktu sholat nggak perlu khawatir cari tempat sholat.

Nah, selesai makan kenyang, saya langsung minta bill dan bayar di kasir. Pembayaran restauran ini bisa dilakukan dengan cara cash, debit atau kartu kredit. Saya suka makan di restauran Al Sadda ini, selain kualitas rasa, pelayanannya pun baik dan ramah. Begitu juga dengan kebersihan restauran. Memang untuk harga termasuk kategori restauran kelas menengah keatas ya. Ya, untuk makan restauran timur tengah sekelas hotel, saya bilang sih wajar harga segitu.

kasir di lobi restauran

Buat teman-teman yang ingin mencoba makanan menu-menu ala timur tengah yang berkelas, teman-teman bisa mampir ke restauran ini.

Selamat mencoba. ^_^





13 comments

  1. Porsinya lumayan banyak yaak? Buat ber4 juga buatku masih kebanyakan deh kayaknya ha..ha..ha... Nyobain roti canai aja udah kenyang banget.

    ReplyDelete
  2. Keluarga kami juga punya menu arab favorit; Nasi Briyani, yang dimasak sendiri oleh ibu saya.
    Dimakan bareng kari ayam.
    Dulu sih kari kambing, cuma karena banyak yg udah hipertensi jadinya ayam.yg dikari.

    Duhh saya jadi pengen nasi briyani jadinya 😝

    ReplyDelete
  3. Teh Arab lebih enak diminum dalam kondisi hangat atau pakai es, Mak?
    Duh, aku pengiiin lihatnya
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  4. Aku belum pernah nih masuk ke restoran arab, dan baru tahu suasananya asik juga ya, dan menunya juga sepertinya enak dan menarik banget untuk di coba.

    ReplyDelete
  5. Saya dulu sering sekali lewat jalan otistaz Mbak. Mau ke rumah adik saya di Depok, atau ketemuan di depan kantornya yang kebetulan di Otista juga.
    Saya belum pernah coba makanan timur tengah. Dan langsung pengin baca postingan, Mbak. Porsinya gede itu pas buat makan ramai-ramai ya.

    ReplyDelete
  6. Duh nasi mandinya menggoda banget nih, mbak. Saya baru tahu restoran Al Sadda ini, padahal suka lewat jalan Otista Jakarta Timur tapi belum ngeh kalau ada restoran di sini. Biasanya yang paling banyak di daerah Condet. Boleh lah ya kapan-kapan mampir sini.

    ReplyDelete
  7. Bayangin menunya jadi lapeeer saya
    Senangnya penyajian ala Timteng ini adalah pakai baki, terus makan bersama pakai tangan dari satu nampan. Saya malah belum pernah ke restoran seperti Al Sadda ini. Tapi makan seperri ini sudah waktu dapat undangan hajatan teman yabg warga keturunan Arab.
    Bisa jadi wishlist ini secara kami sekeluarga suka coba tempat makan...
    Makasih sharingnya mbak

    ReplyDelete
  8. Jadi pingin coba, dari dulu pingin coba makan ini, seperti nasi briyani kan ya? Panjang2 nasinya.

    ReplyDelete
  9. Kayaknya saya pernah makan di sini ditraktir teman. Enak memang. Meski harganya masih di atas levelnya saya.

    ReplyDelete
  10. ini restaurant yang pernah dikunjungi keluarga sungkar itu bukan sih? Kayak tampilannya gak asing gitu.... Kayaknya asyik buat yang pernah ke Arab dan merindukan suasana arab ya

    ReplyDelete
  11. Emang cocok ya kalau perginya rame-rame, ya pesannya menu Nasi Mandi ini. Jatuhnya juga mungkin lebih hemat?

    ReplyDelete
  12. Saya suka mbak, makanan arab yang berbumbu banyak gini... Menurut saya enak dan kaya rasa. Meskipun beberapa teman saya bilang baunya spt jamu.. Hihi...

    ReplyDelete
  13. Yang Belum pernah makan makanan arab pasti rasanya di lidah agak aneh ya. Tapi perlu dicoba juga tuh makanannya

    ReplyDelete

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Tapi mohon maaf, buat yang profilnya "unknown" langsung saya hapus. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^