Bicang Seru dengan Pakar tentang Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender.

Di era sekarang banyak sekali isu kesetaraan gender menguak. Sebab ketidakpuasan atas kondisi yang ada. Namun dari semua isi yang terkuak sebab musababnya dari salah paham yang terjadi akan makna kesetaraan gender. Seperti apa sih makna kesetaraan gender yang sebenarnya menurut para pakar? Dan bagaimana pemberdayaan perempuan dalam hal ini? Yuk, simak lanjutannya.

Vivatalk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan


Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’alaikum w.w.

Pernah nggak teman-teman dapat meme seperti ini :
Yang cari uang = suami, yang nyetrika = istri, yang nyuci baju = istri, yang melayani suami = istri, yang nyuapin anak = istri, yang masak = istri. Trus ketika suami ditanya, “Istrimu kerja apa?” jawaban suami, “nggak kerja, di rumah aja.”

Padahal kerja sudah sebanyak itu, tetap saja dibilang nggak kerja. Karena apa? Karena perempuan masih dipandang rendah oleh laki-laki. Tidak ada saling menghargai satu sama lain. Menganggap bahwa perempuan itu dibawah dari laki-laki. Perempuan tidak punya hak yang sama dengan laki-laki.

Begitupun pandangan masyarakat tentang perempuan. Udah, perempuan tuh dirumah saja urus anak, nggak usah kemana-mana. Kodratnya tuh di rumah bukan kelayapan kemana-mana. Nggak usah ikutan politik, nggak usah belajar tinggi-tinggi. Buat apa? iiih.. kzeeel.

Itu sebabnya, banyak perempuan yang protes dan demo. Mereka minta kesetaraan gender dan minta hak yang sama dengan laki-laki. Tapi protes dan demo yang terjadi dilapangan, bukan meminta kesetaraan gender yang sesungguhnya. Mereka lebih condong berpikiran bahwa perempuan bisa kok menguasai laki-laki. Perempuan bisa lebih hebat dari laki-laki dan laki-laki harus nurut sama perempuan. Edodoeeee…

Kalau sudah begini, efeknya bersitegang antara laki-laki dan perempuan. Hmmm… Jadi sebenarnya kesetaraan gender itu seperti apa sih? Dan Perempuan itu harus bagaimana dalam menyikapi ini?

Semua pertanyaan itu tercerahkan setelah saya mengikuti acara Vivatalk yang diselenggarakan di Hotel Mellinium, pada tanggal 3 Desmber 2019 lalu. Atas kerjasama Viva Network dengan kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (KPPPA).

baner acara vivatalk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender

Acara Vivatalk ini mengambil tajuk Perempuan Berdaya Indonesia Maju, Perempuan di Era Digital. Dimoderatori oleh Mba Anna Thealita (news anchor tvone), Vivatalk juga menghadirkan para pakar tentang pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender, yaitu :

  • Ibu Dr. Sri Danti, sebagai Pakar Gender
  • Bapak Eko Bambang Subiantoro, sebagai Chief of research of polmark dan aliansi laki-laki baru.
  • Mba Diajeng Lestari, Founder Hijup.

Sebagai pembuka acara Bapak Henky Hendranantha sekalu Chief Operation Officer Viva Network memberikan sambutan. Beliau menyampaikan bahwa tema tentang pemberdayaan perempuan ini sengaja diambil dalam rangka menyambut hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember nanti di usia ke 91.

Pada sambutannya beliau juga mengatakan bahwa hari ibu bukanlah sekadar perayaan. Tetapi, merupakan tongak emansipasi untuk mewujudkan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pak Henky vivatalk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender
Pak Henky


Selanjutnya sambutan dari Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat, Pak Indra Gunawan, SKM., MA sebagai perwakilan  dari Mentri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ibu I Gusti Ayu Bintang Darmawati. Dalam sambutannya bapak Indra mengatakan bahwa diskusi tentang perempuan diambil karena banyak isu-isu yang terkait tentang perempuan di negeri ini.

Beliau berharap, perempuan di era digital ini harus lebih maju dengan adanya pemberdayaan perempuan.


pak indra vivatalk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender
Pak Indra

Setelah sambutan dari Pak Henky dan Pak Indra, maka mulailah dibuka diskusi pagi itu oleh Mba Anna dengan memanggil 2 nara sumber di sesi pertama. Ini loh pemaparan beliau tentang kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di era digital ini.

Kesetaraan Gender vs Kodrat

Menurut Bpk. Bambang Eko Subiantoro, gender adalah pembedaan peran, kedudukan, tanggung jawab, dan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas menurut norma, adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan masyarakat. Jadi gender tidak sama dengan kodrat.

pak eko vivatalk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender
Pak Eko (foto by Ria Buchari)

Kodrat menurut Pak Henky dijelaskan bahwa kodrat laki-laki adalah membuahi, sedangkan perempuan kodratnya hamil, menyusui, menstruasi dan melahirkan.

Jika pernyataan perempuan tuh harusnya di rumah saja, nggak usah kemana-mana, itu lebih kearah konstruksi gender. Kebanyakan yang terungkap diluar mereka menyalah artikan keseteraan gender dengan konstruksi gender.

Keterbukaan laki-laki, menurut Pak Eko, dalam menerima hak-hak yang sama dengan perempuan adalah fundamental kemajuan perempuan di era digital ini. Sehingga pemberdayaan perempuan makin meningkat.

Dengan meningkatnya pemberdayaan perempuan, maka meningkat Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di suatu negara, termasuk Indonesia, sesuai dengan yang disampaikan oleh Pak Indra Gunawan.

Pengertian dan Saling Memahami dalam Kesetaraan Gender

Bicara gender berarti bicara 2 jenis manusia yang jelas mempunyai sifat dan karakter berbeda. Namun tetap memiliki hak-hak dan kewajiban yang sama.

Ibu Sri Danti, sebagai pakar Gender mengatakan kunci kebersamaan dan jalannya kesetaraan gender adalah saling pengertian dan saling memahami antara laki-laki dan perempuan. Tidak ada lagi saling melempar hak dan kewajiban diantaranya.

ibu danti vivatalk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender
Ibu Danti

Contoh saling pengertian dan memahami disini, seperti pasangan suami istri. Jikala seorang istri sibuk dengan urusan anaknya, lalu mendapat tugas harus memasak bagi suaminya atau ada deadline kerjaan yang harus tuntas, maka suami yang saat itu tidak ada kesibukan, bisa membantu meringankan beban istri dengan membantu mengasuh anak, atau membuatkan masakan.

Iih, kok laki-laki harus ngerjain kerjaan perempuan sih? Itu bukan tugasnya laki-laki. Mindset seperti inilah yang harus ditebas. Sebab perempuan punya hak untuk berkarya sebagaimana halnya lelaki, soal pengurusan anak adalah tanggung jawab berdua. Bukan tugas perempuan saja.

Jaman Rasulullah saja, beliau mau menjahit bajunya sendiri untuk meringankan kerja istrinya. Lalu apakah kita sebagai pengikutinya merasa gengsi melakukan hal yang biasa pasangan kita lakukan?

Nih, saya kasih haditsnya yaa.. biar afdol.
“Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sendalnya, dan mengerjakan segala apa yang (layaknya) para suami lakukan di dalam rumah,” (HR. Ahmad 23756).

Yang seperti ini loh disebut kesetaraan gender. Bukan saling menguasai atau merendahkan satu sama lain. Bahkan Ibu Danti bilang, kali ini laki-laki maskulin itu bukan lagi laki-laki yang memamerkan otot dan kekuasaan, namun laki-laki maskulin sejati adalah laki-laki yang bisa menyayangi perempuan dan anak-anak dengan kelembutan hati. Aaahh co cweeeet..

Jadilah Produsen bukan Konsumen untuk Pemberdayaan Perempuan

Mengapa kesetaraan gender ini penting banget buat kita para perempuan. Saya jadi ingat bagaimana teman saya membuat pengumuman untuk membantu temannya yang baru saja ditinggal pergi (meninggal) suaminya. Perempuan ini memiliki 3 anak yang masih kecil. Keseharian dia hanya di rumah saja mengurus anak. Dia tidak diijinkan mencari nafkah, karena anak-anak tidak ada yang urus.

Sekarang disaat suaminya meninggal, ia bingung harus bagaimana. Saudara jauh dan dia tidak punya keahlian apa-apa selain memasak atau membuat kue. Disinilah fungsi kesetaraan gender. Perempuan berusaha mencari nafkah, walau suami masih hidup sekalipun. Jadi disaat ada kondisi kesusahan seperti diatas, perempuan sudah punya solusinya.

Tapi kalau perempuan kerja, siapa yang urus anak-anaknya? Pertanyaan ini selalu dilontarkan dikala perempuan hendak mencari nafkah. Kini, di era digital pertanyaan itu sepertinya tak perlu keluar. Saat ini banyak perempuan yang bekerja dari rumahnya. Sehingga kewajiban dia untuk mengurus anak dan rumah tangga tetap dilaksanakan.

Seperti yang dilakukan oleh Diajeng Lestari, founder Hijup. Ia memang mulai membangun Hijup sejak ia masih gadis. Kesempatan menuntut ilmu dan berkarya dimanfaatkan sebelum ia mempunyai tanggung jawab tambahan sebagai ibu dan istri.

diajeng lestari vivatalk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender
Di Ajeng Lestari

Ia berusaha mengajak para entrepreneur hijab untuk bergabung di e-commerce-nya. Diajeng Lestari berusaha mendirikan Hijup untuk membantu pengusaha-pengusaha lokal, agar bisa memasarkan produknya keluar. Segmen yang diambil yaa apalagi kalau bukan fashion.

Beliau sebagai narasumber sesi kedua, berusaha mengajak perempuan agar menjadi perempuan yang berdaya, mampu berkreasi dan menciptakan sesuatu. Namun masih fleksible waktunya untuk keluarga.

Sehingga dengan pemberdayaan perempuan bukan sekedar membantu ekonomi keluarga, melainkan membantu perekonomian negara juga.

Diajeng Lestari membangun Hijup hingga bisa seperti saat ini karena menanamkan sifat-sifat Rasulullah dalam usahanya, yaitu Tablig, Sidiq, Fatanah dan Amanah. Agar bisa menjadi produsen terpercaya dan menjual produknya secara benar. Selain itu beliau menyiarkan usahanya agar dikenal dunia secara cerdas.

Beliau mengajak perempuan kini harus merubah mindsetnya untuk menjadi produsen bukan konsumen. Sebab, menurut data yang beliau paparkan, Indonesia itu masuk urutan ketiga sebagai negara yang paling konsumtif. Duuuh… Ayolah kita melek yaa, tanamkan dalam hati niat untuk menjadi produsen bukan konsumen lagi.

Selesai pemaparan dari Mba Diajeng Lestari, maka berakhir pula diskusi bergizi hari itu.

Disini saya bisa menarik kesimpulan bahwa kesetaraan gender bukan lagi tentang konstruksi gender, melainkan saling pengertian dan memahami satu sama lain antara hak dan kewajibannya dengan saling memahami dan pengertian serta komunikasi yang baik satu sama lain.

blogger vivatalk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender
teman-teman blogger viva

Jadi, jangan salah paham lagi tentang makna kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Semoga tulisan ini bisa menjadi penerang bagi yang membaca ^_^

Wassalam











19 comments

  1. Memang deh zaman now ga bisa lagi kita nih perempuan2 dianggap sebelah mata 😊 Kita sudah bisa membuktikan dg cerdas tanpa melupakan kodrat sebagai perempuan. Bisa memperoleh penghasilan dari ngeblog atau bidang lain yg diminati. Suami dan isteri mesti sama2 meghargai, menghormati supaya urusan anakpun dilakukan bersama2 ya.

    ReplyDelete
  2. Sekarang aku jadi makin paham bedany kodrat sama gender.
    Kalau perempuan dapat gaji lebih sedikit karena biasanya dia dapat cuti haid, hamil dan melahirkan, itu gender juga ya?

    ReplyDelete
  3. Bicara kesetaraan gender nggak akan ada habisnya kadang karena streotif dalam masyarakat/budaya tertentu masih ada yang suka membedakan hal yang remeh2 tentang laki dan perempuan .

    ReplyDelete
  4. Wah, jadi tahu nih adanya istilah kesetaraan gender dan konstruksi gender. Kalau dipikir-pikir ya memang benar juga, ya. Menanggapi peranan perempuan di rumah, menjadi perempuan memang butuh banget memberdayakan dirinya. Dalam salah satu sesi parenting workshop di sekolah anakku pun, disampaikan oleh psikolog-nya bahwa seorang ibu punya kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya. Ini sudah pasti. Hanya bedanya, ada yang nggak melaksanakan karena dilarang, dibatasi, atau malah dia nggak mengenal dirinya sesunggunya.

    ReplyDelete
  5. Bicara kesetaraan gender selalu seru. Tapi kalau aku pribadi dan suami sih mengunakan konsep yanga da di agama kami. InsyaAllah bakalan aman. Plus perempuan memang bisa kok bersaing dengan lelaki, untuk beberapa hal malah bisa lebih unggul.

    ReplyDelete
  6. Saya setuju mba..
    kesetaraan gender itu terutama dalam keluarga adalah saling memahami, saling membantu satu sama lain.
    Alhamdulillah sudah dilaksanakan

    cemungudh

    ReplyDelete
  7. Masuk akal juga ya Mba, kodrat ini yang nggak mungkin berubah kayak melahirkan gitu, tapi kalau perempuan bekerja di luar atau perempuan di rumah saja itu lain lagi.

    CUman memang, kalau dipikir secara mendalam, kodrat melahirkan itu jadinya panjang banget.
    Sampai di seorang ibu mengasuh anak, dan sejujurnya meski ahli multi tasking, wanita juga punya batas kemampuan alias tubuhnya juga butuh istrahat.

    Ada pula, yang akhirnya perempuan dikalahkan oleh kondisi, kayak kisahnya Kim Ji-Young itu.
    Dia pengen kerja, tapi kondisinya nggak memungkinkan, karena punya anak, anaknya nggak ada yang jaga.

    Kalaupun suaminya ngalah, cuti sementara, gaji Kim Ji-Young nggak memenuhi kebutuhan mereka.
    Jadi memang kudu realistis juga :)

    ReplyDelete
  8. Sejak Ibu Kartini berjuang, sebenarnya saat itulah dimulai sesetaraan gender ya, Mbak Ade. Jadi memang bagus laki-laki dan perempuan saling beriiringan bersama sejalan, baik secara khusus suami istri bersama membangun keluarga, dan secara umum laki-laki dan perempuan membangun bangsa. Dan Alhamdulillah menurut saya di negara kita sudah tercapai. Misalnya permpuan jadi presiden, menteri, Dirut, dan sebagainya.

    ReplyDelete
  9. Suamiku berdarah Batak mba Ade.. Jadi masih patrilineal banget. Laki-laki kudu dilayani, gak boleh pegang kerjaan rumah dan lain-lain.
    Alhamdulillah, budaya begitu gak masuk di rumah tangga kami. Semua setara, namun istri harus tetap hormat sama suami.

    Dia gak segan pegang sapu, pel, sampe cebokin anak..
    kekurangannya cuma 1 sih, kadang kalo becanda gak sadar udah main bully, wkwkwk

    ReplyDelete
  10. Memang sering disalahartikan kesetaraan gender ini mbak. Jadi banyak perempuan yang bablas menyamakan hak dan kewajibannya dengan laki2. Padahal yang terkait kodrat sama sekali tidak bisa disamakan. Intinya memang saling memahami antar laki2 Dan perempuan. Entah itu suami istri, rekan kerja, saudaranya, dll.

    ReplyDelete
  11. Jadi wanita di rumah aja ga usah kemana mana, ngurus anak yang bener itu yang disampikan orang tua kepadaku saat hendak rumah tangga. Tapi jaman udah berubah, klo wanita itu harus produktif dan bisa memberi manfaat untuk orang sekitarnya.q

    ReplyDelete
  12. Kesetaraan gender emang selalu jadi perbincangan di masyarakat ya kak.
    Dimana seorang istri tuh kyana kudu mesti di rumah gitu, yang bekerja suami aja.
    Padahal potensi seorang wanuta itu kadang lebih besar daripada pria untuk urusan karir.
    Nah urusan pekerjaan rumahtangga juga sering kali banyak suami yang ga mau bantu dengan alasan itiu kan kerjaan istri, ngapain saya kerjain!
    Wow pengen tak cubit rasanya klo ada suami yang ngomong gitu, hehehe...
    Kekompakan juga komunikasi yang baik antar suami istri pasti bisa bikin dunia peran berjalan dengan mulus dan lancar

    ReplyDelete
  13. Iya betul mbak, memang perlu diluruskan. Perempuan menuntut kesetaraan gender itu bukan ingin mengalahkan laki2. Tapi ingin memiliki kesempatan yg sama juga dalam bidang2 lain.

    Hanya saja masih banyak nih orang2 yg kolot dan berpikir jadul hahaha bahkan dari perempuan juga. Sedih kan jadinya

    ReplyDelete
  14. Sepakat banget, dengan adanya pemberdayaan perempuan, biar semua perempuan itu bisa maju, hidup mandiri dan menaikan perekonomian walaupun dari rumah aja. Semoga dukungan pemerintah dan pihak lainnya bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

    ReplyDelete
  15. Oh aku pikir tadinya Hijup itu produksi sendiri utk brandnya ternyata lbh ke eccomerce yang menjual pakaian muslimah dari beberapa produsen gtu ya mbak. Selalu salut sama perempuan pengusaha. Beruntung kita hidup di zaman yang udah enggak asing dengan kesetaraan gender ya mbak

    ReplyDelete
  16. Setuju mbak. Kesetaraan gender itu untuk saling memahami satu sama lain. Saling pengertian.
    Menurutku peran perempuan itu hebat makanya ibu diucapkan 3x oleh Rasulullah baru setelah itu ayah.
    Selamat Hari Ibu...Kalian luar biasa.
    Tfs, mbak...

    ReplyDelete
  17. Kesetaraan gender: Ayo semua tunjukkan kemampuan dan kebiasaan yang di miliki! Dengan perkembangan Teknologi yg semakin canggih pula Kesetaraan gender semakin menguat. Semua mempunyai hak untuk menunjukkan kebiasaanya :)

    ReplyDelete
  18. Akhirnya keresahan saya tentang kesetaraan gender terjawab di sini. Bukan kesetaraan gender tapi konstruksi gender.
    Btw, alhamdulillah suami saya bersedia membantu pekerjaan rumah, dan tidak malu melakukannya. Medki kadang berseberangan dengan stigma tetangga yang mendasarkan pekerjaan pada gender.

    ReplyDelete
  19. Jadi ga ad bedanya antara suami dan istri atau perempuan dan laki-laki dalam kesetaraan gender. Sama-sama saling membutuhkan.

    ReplyDelete

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Tapi mohon maaf, buat yang profilnya "unknown" langsung saya hapus. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^