Tips Traveling Bersama Anak : First Flight

traveling bersama anak

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’alaikum w.w.

Hai temans,
Jika kita membaca kalimat "traveling bersama anak", pasti yang terbayang diotak kita adalah ribet, capek, rempong, nggak santai, dll.

Kata-kata itu juga yg muncul dibenak saya, ketika pertama kali merencanakan traveling bersama anak.

Biasanya untuk mengatasi semua keribetan itu saya membawa Pak Suami. Kalau ada Pak Suami, hati tenang, karena ada bala bantuan yang dapat dihandalkan. Minimal menggendong Adek Fi.

Tetapi 3 hari setelah lebaran Idul Adha 2018 ini, saya mencoba menghempaskan kata-kata ribet dan teman-temannya saat traveling bersama anak.

Saya meyakinkan diri bahwa saya bisa jalan-jalan bersama Duo Fi tanpa Pak Suami yang mendampingi.

Alhamdulillah tepat tgl 25 Agustus kemarin, saya bersama teman-teman dari Blogger Depok City (BDC) mencoba ngebolang ke negeri tetangga, yaitu Singapura. Saya mengajak Duo Fi ikut serta kesana.

Kebetulan saya sudah paham kondisi di Singapura karena saya pernah 2x kesana. Jadi persiapan traveling sudah sangat matang. Selain itu saya juga sudah terbayang apa saja yang harus saya siapkan untuk selama perjalanan bersama Duo Fi ini.



Traveling bersama anak-anak ini terbilang sikap nekat buat saya. Bagaimana tidak nekat, saya baru kali ini traveling bersama anak tanpa suami dan nggak tanggung-tanggung perginya. Bukan lagi keluar kota, Melainkan keluar negeri. Sudah pasti saya harus well prepare buat Duo Fi.

Baca : 7 perispan traveling simpel dan murah keluar negeri

Selain nekat keluar negeri, kenekatan yang saya lakukan adalah ini kali pertama untuk Adek Fi naik pesawat. Jadi saya belum terbayang sama sekali saya harus mempersiapkan apa untuk Adek Fi.

Saya tidak bisa merujuk dari pengalaman pertama kali naik pesawat untuk Abang Fi. Karena usia Abang Fi saat pertama kali naik pesawat sudah usia sekolah. Jadi Abang Fi sudah bisa diajak kerjasama. Nah, sementara Adek Fi ini usia 2 tahun.. duh duh duh..

Awalnya, karena membayangkan kerepotan itu, saya enggan untuk membawa Adek Fi. Namun jika saya tidak bawa, saya yang tidak tenang selama perjalanan bersama teman-teman BDC ini.

Bismillah, saya pun yakin, saya bisa mengatasinya. Jika saya tidak mencobanya, saya tidak akan pernah tau saya harus mempersiapkan apa. Maka dari itu saya mencoba mempersiapkan beberapa hal untuk first flight bagi Adek Fi sepanjang pengalaman saya naik pesawat, yaitu :

1. Siapkan mainan yang anak suka

Sebenarnya mainan yang Adek Fi suka adalah balok susun, namun permainan balok susun ini hanya bertahan 15 – 30 menit. Sementara perjalanan naik pesawat ke Singapura itu kurang lebih 1,5 – 2 jam perjalanan.

traveling bersama anak
Permainan balok susun punya Adek Fi

Adek Fi ini termasuk anak yang aktif. Sama seperti Abangnya juga. Keduanya juga jarang sekali menangis. Kalau menangis ga pakai waktu yang lama. Ga sampai 5 menit sudah diam.

Bedanya, kalau suara tangisan keduanya kalau sedang rewel. Entah itu kecapean ataupun ngantuk. Suara Adek Fi ini kalau sedang rewel bisa terdengar 1 kelurahan. *lebay. Xixixi.. maklum calon Jendral. Suara harus lantang. Aamiin

Suara Adek Fi memang sudah melengking sejak ia lahir. Suara tangisnya bisa terdengar hingga keluar ruang operasi. Padahal ruang operasi di RS HGA, tempat Adek Fi dilahirkan, sebelum keluar harus melewati ruang observasi. Kebayangkan keras suaranya hingga bisa terdengar oleh Pak Suami yang menunggu diluar ruang operasi? Pak Suami saja sempat bingung saat Adek Fi lahir, “Ini suara bayi siapa? Kenceng banget suara tangisnya.”

Nah, kebayangkan kalau dia rewel di pesawat? Bisa 1 pesawat dengar semua. Makanya saya harus memutar otak untuk menenangkan Adek Fi selama perjalanan.

Kelemahan Adek Fi adalah, anak itu baru bisa diam lamaaa sekali, kalau ada film kesukaannya yang dilihat. Seperti Blippi, Chugging town, Omar Hana, Tayo dan Robocar Poli. Itu pun bukan sekedar film cerita, ia lebih suka film bongkar pasang mainan tokoh-tokoh tersebut, kecuali Blippi dan Omar Hana lebih ke nyanyi-nyanyi.

Biasanya film-film tersebut ada di youtube. Nah, oon-nya saya, saya lupa mendownload film-film tersebut terlebih dahulu agar ia bisa nonton offline selama dipesawat.

Bersyukur di handphone saya ada aplikasi Colour to Life Faber Castle. Jadi selama dipesawat dia main aplikasi tersebut. Hanya saja tidak pakai gambar. Untungnya dia suka dengan suara musik games nya saja.

Alhamdulillah 2 jam perjalanan dia bisa anteng hanya dengan mengklik-klik aplikasi Color to Life. Tapi saat pulang saya jelas download video youtube tersebut. Agar bisa ditonton secara offline. Perbanyak downloadannya hingga mencukupi waktu 2 jam perjalanan, Bahkan dilebihkan.

Buat yang belum tau aplikasi color to life seperti apa, silakan baca Review Color to Life Faber Castell, Melatih konsetrasi dan fokus anak.

2. Siapkan makanan selama perjalanan.

Udara dingin di pesawat kadang membuat perut kita merasa lapar. Sebenarnya saya bisa saja membeli makanan yang dijual di pesawat, tapi saya belum bisa menjamin Adek Fi suka. Kalau Abang sih Insya Allah urusan makanan nggak jadi masalah buat dia, selama itu bukan sayuran dan pedas, lidahnya cepat beradaptasi dengan rasa.

Kemarin saya membawa nasi, mie goreng dan telor dadar. Makanan yang jelas anak-anak pasti makan semuanya, baik Abang ataupun Adek Fi. Saya bawanya dibungkus kertas coklat, bukan dikotak makan. Norak yaaa didalam pesawat buka nasi bungkus.. xixixi biar saja orang berpikir begitu, yang penting anak-anak saya anteng dan kenyang.

traveling bersama anak
nasi bungkus bekal di bandara dan pesawat

Sengaja saya menggunakan kertas coklat, agar tas bawaan saya bisa berkurang berat dan ruangnya. Jika saya membawanya menggunakan kotak makan, menuh-menuhin tas yang saya bawa. Tas jinjing yang berisi bekal makanan selama diperjalanan kelak bisa saya gunakan untuk memasukkan oleh-oleh saat pulang. Praktis kaan? *muji sendiri.

Untuk minum saya membawa botol kosong, karena di bagian imigrasi botol berisi air yang lebih dari 100 ml ditahan. Untungnya di ruang tunggu keberangkatan bandara Soeta terminal 3, ada mesin air isi ulang. Jadi di pesawat kami sudah membawa air minum.

traveling bersama anak
Abang Fi sedang mengisi air minum di ruang tunggu bandara Soeta terminal 3


3. Siapkan penutup telinga

Perubahan ketinggian kadang membuat kuping kita berdengung, atau awamnya “berasa budeg”. Begitupun dengan anak-anak.

Untuk anak-anak yang betah dipakaikan apapun dikepalanya, mungkin bisa bawa earmuff untuk dikenakan selama di pesawat.

traveling bersama anak
earmuff (photo by amazon.com)


Sayangnya tidak demikian dengan Adek Fi. Adek Fi termasuk anak yang tidak betah dipakaikan apapun dikepalanya. Sejak ia bayi, topi yang saya kenakan selalu dicopot sama Adek Fi.

Otomatis, saya sempat berpikir mencarikan alternatif lain untuk menghindari tekanan udara pada telinga Adek Fi.

Hingga di bandara keberangkatan saya masih belum terpikir Adek Fi mau diberikan apa untuk penutup telinganya. Bersyukur saya jalan bersama Tante Gita yang baik hati. Tante Gita menyiapkan cemilan untuk dibagikan ke anak-anak yang ikut dalam perjalanan kami tersebut. Saat itu ada Ayyas (anak Mba Alida), Abang Fi dan Adek Fi.

Tante Gita memberikan permen lolipop, kalau jaman saya SD dulu sebutannya permen kojek. Jika Abang dan kakak Ayyas memakannya saat di bandara, saya menyimpan permen tersebut buat Adek Fi makan selama perjalanan di pesawat. Begitu pesawat siap take off, Adek Fi saya berikan permen tersebut. Alhamdulillah Adek Fi tidak teriak sakit atau menangis karena kupingnya saat take off.

traveling bersama anak
permen lolipop yang dimakan Adek Fi saat take off pesawat

Yes, aktifitas mengunyah atau mengemut sesuatu dapat mengurangi sakit di telinga karena tekanan udara dari perubahan ketinggian.

Siapkan permen atau cemilan hingga pesawat take off. Waktu perjalanan kemarin, permen dari Tante Gita hanya bertahan 1 jam sudah habis. Adek Fi sempat teriak sakit saat pesawat landing. Alhamdulillah pramugarinya baik hati. Adek Fi diberikan coklat untuk dikunyah selama landing.

Jadi semua masalah selama first flight buat Adek Fi teratasi dengan baik melalui campur tangan Allah kepada orang-orang disekitar kami.

Nah, 3 persiapan tersebut yang saya lakukan selama traveling bersama anak. Memang terkesan rempong, tapi jika kita well prepare traveling bersama anak ini jauh-jauh hari dan banyak mencari tahu pengalaman teman-teman lainnya, traveling bersama anak terasa mudah dan menyenangkan.

Semoga tulisan ini pun bisa membantu teman-teman yang ingin traveling bersama anak.


Waasalam








39 komentar:

  1. Wah super mom banget mba ke luar negri bawa anak2 sendiri pula. Saya yg traveling dalem kota aja riweuh banget 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diawali dengan niat dan nekat mba.. xixi

      Hapus
  2. wiii.. keren mba, ngajak anak dua traveling :D aku ajak anak satu pas lg event aja masih suka kewalaham hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau diotak kita bil riweh maka seterusnya aka riweh. Kalau kita santai dan nyaman. Insya Allah akan nyaman terus.

      Hapus
  3. Kalau masih kecil paling ribet kalau dia nangis ya mbak kalau udah gede pasti ribet banyak protes mulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes mba. Tapi sebelum berangkat biasanya ade wanti2 sama yg gede. Alhamdulillah Abang cooperatif banget bahkan sangat membantu umminya

      Hapus
  4. Aku belum berani bawa duo bocah sendiri, kalau aku kebalik, abangnya yg aktif. Tapi mungkin kapan2 mau ngajak jalan mereka, tapi ama bapaknya. Mwahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anakku 22nya, Mba aktif. Tapi alhamdulillah Abang dah bs diberi pengertian.

      Hapus
  5. Makasih kak tipsnya , huhu jadi kangen traveling bareng anak nih.

    BalasHapus
  6. tips yg bermanfaat banget Mbak, secara aku kalo packing buat travelling yg ngajak anak pasti jadinya bawa segambreng barang, bahkan yg gak penting pun ikut kebawa :(

    BalasHapus
  7. Yang tentang permen, saya jadi ingat kalau dulu kayaknya setiap kali naik pesawat selalu ditawarin permen sama pramugari. Sekarang gak pernah. Atau mungkin karena lain maskapai, ya?

    BalasHapus
  8. Wah bermanfaat banget nih sharingnya, kebetulan aku gak pernah naik pesawat apalagi bawa anak, duh duh duh... Gak kebayang reportnya, anakku waktu usia 2 tahun aja lumayan repot naik bis. Tapi bisa ya handle dan nekat juga haha... Eh tapi aku jadi penasaran nih, acara apa sih blogger Depok sampe ke Singapura..
    Kalo acara MBC ke Surabaya mau ikut gak tuh haha

    BalasHapus
  9. Iya, bener banget ini mainan kesukaaa, makanan kesukaan bikin si kecil anteng dan nyaman. Sayang, aku dah ga bisa pergi sama krucils kecil tanpa didampingin suami, padahal pengen juga ngebolang gini

    BalasHapus
  10. Bener banget kalau bepergian sama anak harus menyediakan apa yang dia suka, teringat waktu menyusul suami dinas di LN dan saya terbang dari Jakarta berdua dengan anak saya masih 14bulan yang kebayang saat itu "nanti gimana ya selama perjalanan?" Hebat mbak Ade bisa bawa dua anaknya.

    BalasHapus
  11. Yang kbayang awalny klo lergi bawa kidos repotnya padahal klo dh semuany prepare fine2 aja y mba.. perkataan sesuai knyataan ... tipsny ok

    BalasHapus
  12. Waaah, bener banget nih tipsnya. Aku pake tips-tips itu. Kecuali penutup telinga. Soalnya memang belom pernah traveling naik pesawat kalo sama anak-anak. Smeoga segera deh. :D

    BalasHapus
  13. Keren banget Ummi Fikri bawa dua anak traveling, saya mah ga kebayang deh rempongnya heuheu Tipsnya bisa dicoba insyaAllah .. kalau tiba tiba harus traveling hanya dengan anak anak. makasih ummi

    BalasHapus
  14. Waah, terimakasih informasi nya mba, saya mau ajak anak saya jalan2 pakai pesawat ketakutan mulu, ternyata ada tipsnya agar perjalanan bisa menyenangkan tanpa anak jadi krenki.

    BalasHapus
  15. Bermanfaat banget ni Mbak tulisannya. Kebetulan anak saya belum pernah naik pesawat sama sekali. Jadi kepikir, one day kalau dia akhirnya ngalamin, aku mesti prepare apa ya? Noted banget bawa permen lolipop. Kebetulan anaknya suka dan kalau makan permen biasa dia suka susah (aneh ya?) Hahaha... TFS ya Mbak...

    BalasHapus
  16. Ngemut sesuatu seperti permen bisa mengurangi sakit telinga saat take off ya mba? baru tahu hehe buat orang dewasa bisa juga kah? tips traveling bawa anaknya bermanfaat banget mba

    BalasHapus
  17. Sama nih kak. AKu kemaren travelling ke sabang bersama dua anak kecil dan challenging banget. Caranya terus diajak cerita , dibawa snack nya, dan baca buku.

    BalasHapus
  18. Noted Mom. Bekal banget buat aku yg insya Allah taun depan naik pesawat sama si baby hehe.

    BalasHapus
  19. Waduh aku pernah traveling sama anak mba ribet minta ampun, sampe lupa bawa mainan kesayangan dia lagi

    BalasHapus
  20. Wah ini penting banget ya bun, apalagi poin yg harus membawa penutup telinga. Soalnya kadang2 ada pesawat yg pas take off...

    BalasHapus
  21. Gendongan nggak ditulis Umi? Ahayyyydeh....pintar adek Fi nanti terbang lebih jauh lagi ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha.. itu nanti sesi selanjutnya.

      Hapus
  22. Alhamdulillah kmrn adek Fi pintar di pesawat mba. Emang deg2an kalau bawa anak gitu dan memang banyak hal yang harus kita siapkan ya. Tapi emang kuncinya ummi harus tenang biar anak ya tenang. Aku bawa makanan juga tapi bawa tempat soalnya aku kuatir berantakan. Maklum aku bisa berantakan. Hehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. iya, mba al sama kok. Makanya cari makanan kering biar ga berarakan. Alhamdulillah ya tante2nya juga kooperatif dan baik hati.

      Hapus
  23. Jadi inget zaman anak2 masih kecil dulu, emang lbh ribet daripada sekarang sdh gede2..pada ngurus diri sendiri hehe..

    BalasHapus
  24. Aku pernah pergi naik pesawat sendiri ma Maxy pas Maxy msh usia2 setahun lbh eh atau malah blm setahun gtu. Iya kudu bawa camilan anaknya, trus siao2 nyusuin klo msh bayi. Eh ada waktu dia nangis di pesawat huhuhu. Untung bisa calm. Trus pas naik turun pesawat ada aja yg bantuin bawa barangku hehe. ALhamdulillah...

    BalasHapus
  25. Kalau traveling bareng anak benar2 harus dipersiapkan dgn matang ya mbak Ade. Eh tapi, saya gak pernah kepikiran buat bawa penutup telinga, note nih mbak

    BalasHapus
  26. Bawa anak traveling, apalagi masih bayi dan balita emang deg2an sedep juga ya, Ummi, haha... Inget pernah ada bayi yg nangis sepanjang perjalanan. Ibunya pasti udah bingung, jadi jangan ditambah lagi dg tatapan jutek ya. Ada juga anak2 Jepang yg ngerumpi adek kakak, hihi... anggep aja nyimak conversaation Jepang gratis. Si Giva keponakan, kalau mau naik pesawat yang disiapin juga makanan plus mainan atau nonton video di HP. Biasanya kalau udah sering bepergian dekat2, mudah untuk diajak kerjasama ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu.. kalau anak nangis masih bs di handle. Yg bete kan kalau ada tatapan jutek dr yg lain sambil cak cek cak cek.. xizixi..

      Hapus
  27. Kebayang deh gimana rempong bawa anak kecil saat raveling. Benar-benar luar biasa.. ibu ibu yg lain wajib baca tulisan inj

    BalasHapus
  28. Wah seru nih lengkap ya perlengkapannya. Next mau coba ah bawa anak2 terbang naik pesawat

    BalasHapus
  29. Ak blm pernah nih travelling cuma bertigaan aja. Harusnya sih bisa juga ya... ribet tapi seru.

    BalasHapus
  30. Angkat semua jempol utk mba :D. Aku aja blm kepikiran utk traveling hanya dgn anak tanpa babysitters mereka ikut dan papinya :D. Nyerah kalo cm ama aku doang :p. Selama ini kalo traveling ama anak, aku pasti ajak semua bala bantuannya...

    BalasHapus
  31. untungnya anak2ku semau gak terlalu , sehingga dibilang apapun ya nurut jadi dibawa kemanapun anteng

    BalasHapus

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^