Kenali Gaya Belajar Anak Generasi Z

Seperti kita ketahui di dunia ini ada 5 istilah generasi bagi manusia. Generasi builder, baby boomers, x, y, z.. berhubung hurufnya dah kelas sampai Z, maka muncul istilah generasi baru yaitu generasi alfa dan generasi betha. Berhubung anakku masuk kategori generasi Z, jadi yang mau saya sharing disini bagaimana gaya belajar anak generasi Z. Lanjut yaaa!

Gaya belajar anak Generasi Z

Bismillahirrahamanirrahiim, Kenali Gaya Belajar Anak Generasi Z 

Pada Sabtu kemarin, tepatnya tanggal 20 Maret 2021, saya mengikuti webminar dari SMA PINTAR Lazuardi yang bertajuk "Jadi Parents Melek Digital Ala Gen Z" membuat sadar bahwa saya memang harus banyak belajar, bagaimana menemani Abang dalam belajar. Yes, Abang masuk kategori anak yang lahir di tahun generasi Z. Dan gaya belajar anak generasi Z beda sekali dengan gaya belajar saya yang masuk generasi X. hu uh beda 2 generasi.. xixixi

Gaya belajar anak Generasi Z


Di jaman saya generasi X, kita banyak berkutat dengan buku, lebih banyak mencari dan bertanya langsung face to face dengan nara sumber a.k.a guru atau cari tau ke teman-teman. Sedikit sekali orangtua membatu kita untuk belajar. Mereka taunya kita belajar dan hasilnya masih berpatokan dari rapot.


Nah, pada webminar tersebut Ibu Dya Loretta memaparkan gaya belajar anak generasi z. Dan itu jauh sekali bedanya dengan generasi X. Bahkan saat mendengarkan penjabaran beliau, saya hanya cekikikan mengakui kesalahan saya.. hiks.

Gaya belajar anak Generasi Z


Gaya Belajar Anak Generasi Z

Dari paparan Ibu Dya, ada 6 gaya belajar anak generasi Z yang perlu orangtua pahami. Berikut penjabaran beliau :


1. Anak Generasi Z Memiliki Gaya Belajar Audio Visual

Berdasarkan meteri parenting yang saya pelajari gaya belajar anak itu ada sebenarnya ada 3, yaitu gaya belajar audio, visual dan kinestatik. Nah, anak generasi z ini cendrung memilik 2 kombinasi gaya belajar, yaitu audi visual.


Jadi menurut Ibu Dya, kita sebagai orangtua nggak perlu marah, ketika menasehati anak, satu kupingnya dipasang headset. Dia mampu mendengarkan nasehat kita walau satu kupingnya mendengar musik. 


Saya langsung cekikikan mendengar ini. Lah iya banget ini, saya sempat agak kesal sama Abang disaat saya menasehatinya, kupingnya 1 terpasang headset. Karena saya khawatir dia nggak fokus dan nasehat saya nggak masukTernyata itu justru ga masalah buat anak generasi Z ya.. haduuuh... bener-bener ilmu baru buat saya.


Nah, anak generasi Z menggabungkan keduanya. Itu sebabnya, apa yang disampaikan melalui video dengan audio yang jelas, mereka bisa menagkapnya dengan baik. Mungkin itu sebabnya apa yang disampaikan youtuber lebih mengena dan mudah diingat oleh mereka.


2. Anak Generasi Z Bergantung pada Teknologi Digital & Streaming

Hidup di era digital sudah pasti anak juga terbiasa dengan teknologi digital tersebut. Apalagi masa pandemik begini, semua motede pembelajaran generasi Z wajib melalui teknologi digital & streaming.


Pembelajaran Mereka banyak mencari tau lewat media sosial seperti youtube, instagram dan tiktok. Itu sebabnya kita sebagai orangtua wajib menguasai apa yang sedang mereka gandrungi, buka untuk kita ikut ketagihan tampil di sosmed yaa.. tapi semata-mata untuk mengikuti gaya belajar anak generasi Z. Agar kelak disaat ngobrol santai dengan mereka, kita bisa nyambung.


3. Anak Generasi Z Mudah Menangkap/Memahami Sebuah Pembahasan

Hampir sebagian besar anak generasi Z itu cepat sekali paham dalam sebuah pembahasan. Memang saya pun kadang suka terkagum-kagum dengan kemampuan Abang dalam memahami sebuah permasalahan, hanya cukup diberi kiasan-kiasan sedikit.


Itu sebabnya dalam memberikan nasehat atau memecah masalah, kita sebagai orangtua bukan memberikan secara satu arah kepada mereka, namun mereka lebih mudah menyerap dengan cara berdiskusi.


4. Anak Generasi Z Berani Mengemukakan Pendapat dan Kritis

Kadang saya sering merasa, kok Abang ini suka sekali membantah. Perasaan saya dulu saat seusia dia nggak berani tuh memprotes atau membalas jika orangtua sedang bicara. Ya iyalaaah, Deee... dirimu kan ama Abang lompat 1 generasi... xixixi... jadi karakternya pun berbeda.


Ternyata yang saya keluhkan bukan suatu hal yang aneh, anak generasi Z itu memang sebagian besar mempunyai karakter berani mengungkapkan pendapat dan kritis. Satu sisi saya suka, kritis itu tandanya anak cerdas. Otaknya berpikir dengan apa yang dia lihat dan dengar. Nggak langsung ditelan bulat-bulat begitu saja.


Selain itu kita bisa tau apa yang ia tidak suka dan apa yang disuka. Untuk orang seperti saya, saya suka dengan orang yang kritis. Karena saya kurang suka dengan orang yang hanya diam dan memendam sendiri masalahnya. Apalagi pakai acara misah misuh dibelakang. Bertemu dengan orang kritis membuat saya berpikir jika yang saya lakukan ini memang salah, dan berusaha tidak mengulanginya lagi. 


Dengan kritis dari Abang pun saya jadi tau, apa yang Abang rasakan. Apa yang membuat dia marah dan senang. Mudah pula bagi saya untuk mencari celah kapan saya bisa memasukkan nasehat atau ilmu-ilmu baru untuknya.


Tapi kan yaaa.. kalau mood lagi bagus memang suka dengan karakter generasi Z ini. Kalau mood lagi jelek ini yang masalah, yang ada emosi makin meninggi.. hahaha.. Kalau ada yang seperti ini berarti kita satu server.. hahaha.

 

5. Anak Generasi Z Senang Mencoba, Mencari Tahu Berbagai Hal dan Berinovasi.

Anak generasi Z ini memang keponya tinggi, segala yang ia sukai ingin dicoba. Kalau dia suka banget, apapun ia usahakan untuk dipelajari dan cari tau agar bisa mengerjakan sesuai harapannya. 


Seperti Abang yang suka sekali dengan membuat video. Dia mau mengikuti gaya-gaya youtuber. Apalagi pas masa PJJ, dalam seminggu ada tugas dari gurunya yang mewajibkan membuat video. Saya cukup mengajarkan sedikit saja tentang editing video. Tapi selebihnya dia mengutak atik sendiri sesuai rasa ingin tahunya. Akhirnya, sekarang justru pintaran dia dari saya dalam editing video.. Saya malah jadi belajar dari dia apa yang belum saya coba. ^_^


6. Mudah Mencerna Arahan Pada Tutor/Mentor/Guru yang Memposisikan Diri Sebagai Teman.

Lagi-lagi saat mendengarkan penjabaran Bu Dya soal ini, saya yang senyam senyum sendiri. Abang memang mudah menyerap nasehat kami jika cara kami menyampaikan seperti ngobrol curhat dengan teman. 


Saya dan Pak Suami memang dirumah tidak pernah menempatkan diri kami sebagai orangtua, lebih banyak sebagai teman. Ajak ngobrol pun dengan gaya mereka. Kecuali untuk hal-hal tertentu, baru kita mempoisisikan sebagai orangtua. Biasanya sih untuk hal-hal yang tidak bisa kita tolerir lagi, baru kita memposisikan seperti ini.

Gaya belajar anak Generasi Z


Menjadi orang tua masa kini di era digital memang menjadi tantangan, apalagi melihat dengan 6 gaya belajar generasi Z yang dijabarkan oleh Bu Dya. Kita dituntut untuk mengikuti arus perkembangan teknologi dalam mendampingi anak belajar. 


Terkadang kita sering melupakan, bahwa "mendampingi" bukanlah berarti "memerintahkan". Dikala pandemi, belajar melalui daring menuntut kita mendampingi anak secara ekstra, disinilah kita diharuskan untuk mau belajar bersama mengenal berbagai aplikasi digital. 


Nah, ternyata anak generasi Z ini membutuhkan ortu yang update saat ini yang dapat menjadi teman menjelajahi dunia secara digital, bukan ortu yang kudet (kurang update) yang malah menyalahkan ketika anak pegang smart phone.


Itu sebabnya kita harus kenali dulu gaya belajar anak generasi Z. Baik dari gaya komunikasi, pola bermain, pola belajar, dan pola bersosiasilasi yang semua itu  tidak luput dari teknologi.


Bahkan pada webminar tersebut para narasumber memprediksi ada 10 pekerjaan yang cocok untuk anak generasi Z. Apa saja? Salah satunya adalah Akuntan.. lah ini mah profesi abadi nih, ada di setiap generasi.. xixixi


Gaya belajar anak fenerasi z



Generasi Z berkembang dan bertumbuh dalam lingkungan teknologi,  sebagai orang tua kita memiliki kontribusi dalam memperkenalkan dengan gadget pada anak, nah jangan lupa kita sebagai ortu harus tetap mendapinginya, ingat anak akan bangga sama ortu yang update bukang yang kudet.


Selain itu dukungan kita juga diperlukan untuk mencari sekolah/temppat belajar formal yang mendukung gaya belajar anak generasi Z ini. Seperti yang dilakukan oleh SMA PINTAR Lazuardi.


Apa itu SMA PINTAR Lazuardi?

SMA PINTAR Lazuardi-Blended Learning High School mulai beroperasi sejak tahun 2021-2022 sebagai pengembangan dari sekolah Lazuardi Group. Sekolah online, khususnya untuk universitas dan SMA, tampaknya akan menjadi trend sekolah alternatif yang tak terhindarkan.

Gaya belajar anak generasi z


Lazuardi konsisten akan ikut serta memberikan kontribusi pada sistem pendidikan di negeri kita, dengan menyelenggarakan SMA Blended Learning tanpa meninggalkan kreativitas secara optimum. 

Caranya dengan menambahkan aktivitas hands on mandiri siswa lewat project based learning. Juga dukungan Learning Management System (LMS) yang diberi nama Pintar.  


Apa itu Learning Management System?

Pedagogical Intelligence Architecture (PINTAR) adalah sebuah strategi pedagogi (pembelajaran) yang diterapkan melalui sebuah Learning Management System (LMS) online yang memperhatikan keterikatan antara peserta didik dengan proses pembelajaran melalui feedback process. 

Gaya belajar anak Generasi Z


PINTAR (Pedagogical Intelligence Architecture) adalah LMS pendukung pembelajaran online di SMA Pintar Lazuardi yang didukung oleh aplikasi yang canggih yang dapat diakses di mana saja dan kapan saja.


Apa Keunggulan LMS PINTAR?

Pintar Lazuardi yang Pada webminar kemarin juga dijelaskan beberapa keunggulan dari LMS PINTAR oleh ibu Sonya Sinyanyuri, yaitu :

  • MULTIPART berarti materi disampaikan dalam bagian-bagian kecil dan dipilih hanya materi fundamental dari sebuah mata pelajaran. Upaya ini dimaksudkan agar mudah dipahami secara mandiri oleh siswa.
  • FEEDBACK SYSTEM akan memastikan peserta didik terlibat aktif, berinteraksi, saling memberi dan menerima umpan balik (feedback) untuk efektivitas belajar, mengetahui capaian hasil belajar, terbentuknya komunitas belajar, mendokumentasikan portofolio yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja.
  • DIFFERENTIATED LEARNING Dimulai dengan diagnostic assessment, sehingga dapat memandu learning path yang akan dilalui siswa dari urutan materi dan memungkinkan siswa memiliki tahapan belajar yang berbeda.
  • LEARNING PATH peserta didik akan memililki ‘jalur/peta’ untuk mencapai hasil belajar yang sesuai dengan kemampuan dan tujuan pembelajaran.
  • MULTI-FRIENDLY CONTENT Materi dan media pembelajaran dikemas dalam beragam bentuk sesuai kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Disajikan sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh peserta didik.
  • GAMIFICATION Pembelajaran online juga mempertimbangkan kesenangan dan keseruan. Ini dilakukan dengan menambahkan unsur games dalam pembelajaran.

gaya belajar anak generasi z

SMA PINTAR Lazuardi-Blended Learning High School menggabungkan antara kegiatan tatap muka dan pembelajaran online dengan prosentase pembelajaran online lebih besar. Kegiatan tatap muka akan dilakukan seminggu sekali di sekolah home based. Kegiatan tatap muka difokuskan untuk:

  • Pembentukan karakter,
  • Pengembangan keterampilan sosial,
  • Coaching tentang karir,
  • Kegiatan praktikum yang tidak dapat dilaksanakan melalui kegiatan pembelajaran online.


Untuk peserta didik yang berasal dari wilayah yang belum tersedia sekolah home based, kegiatan tatap muka akan digantikan dengan program pengayaan dan coaching yang dilakukan secara online.


Kurikulum SMA PINTAR Lazuardi

Kurikulum di SMA Lazuardi mengacu pada kurikulum Nasional yang sedang berlaku diperkaya dengan konten kurikulum dari berbagai negara dan kurikulum keahlian. 


VISI : Masyarakat berbudaya luhur berlandaskan kebaikan welas asih, dan kebahagiaan spiritual.

MISI : Menggali dan mengembangkan potensi setiap individu dalam menciptakan perbaikan kehidupan.


Buat teman-teman yang sedang mencari sekolah yang mendukung gaya belajar anak generasi Z, bisa cari tau lebih detail informasi SMA PINTAR Lazuardi di instagramnya di @smapintarlazuardi.


Nah, bagaimana penjabaran webminar tentang gaya belajar generasi Z? Sudahkah kita mengenalinya pada anak-anak kita? Semoga tulisan ini bisa mencerahkan teman-teman yang mempunyai anak generasi Z yaa.. ^_^ 




Wassalam






25 comments

  1. Gen Z memang punya karakter yg spesifik dan sangat go digitl ya Mak
    Semogaaa para ortu bisa mendampingi putra/i-nya dengan baik.
    kece banget ini konten webinarnya mak

    ReplyDelete
  2. aku juga punya anak yang sudah SMA kelas 1 mba dan perjuangan mencari sekolah yang keren memang tidak mudah yaaa

    ReplyDelete
  3. Anak saya banget itu yang kalau lagi dinasehatin, suka sambil pasang earphone hehehe. Lagi belajar juga begitu. Bisa sambil dengerin musik.

    Tetapi, sesekali saya meminta dia melepas earphone ketika sedang dinasehati atau sekadar diajak ngobrol. Tujuannya supaya belajar menghargai orang lain juga.

    Saya paham karakternya seperti itu. Tetapi, saya juga terkadang gak nyaman. Jadi biar dia sesekali gantian memahami ketidaknyamanan orang tua. Karena di luar sana kan nanti akan ketemu dengan banyak karakter manusia

    ReplyDelete
  4. Sekolah baru dengan konsep "menggabungkan antara kegiatan tatap muka dan pembelajaran online dengan prosentase pembelajaran online lebih besar."
    Ini pas banget dengan kebutuhan saat pandemi ini ya... Karena kita juga belum tahu kapan akan benar2 aman untuk anak2 tatap muka langsung di sekolah.
    Kemarin lusa saya barusan baca berita ttg Mas Mendikbud yang mengungkapkan istilah "sekolah hybrid" alias sekolah kombinasi tatap muka dengan online.

    ReplyDelete
  5. Wah nanti anak saya besar bakal ada generasi apa lagi ya? Pemilihan sekolah jadi PR bagi orangtua, ya.

    ReplyDelete
  6. gaya belajar anak generasi Z memang cukup menarik ya buat ditelusuri, anakku ini udah gak bisa lepas dengan laptop dan handphone sejak belajar online, dan menariknya nilai PTS kemarin dia nilai PJOK C dan SBdP D duh yang lainnya masih mendingan sih, anehnya IPA dan MTK A. Masih harus perbaiki cara anakku memahami mata pelajaran PJOK SBdP yang nilainya turun semua

    ReplyDelete
  7. Nah iyaaa, aku suka heran tuh sama anak-anakku, kalo belajar sambil dengerin musik. Nyatanya tetap bisa masuk apa yang mereka pelajari. Beda dengan emaknya ini, kalo belajar harus suasana tenang dan sepiiii, baru bisa fokus hahaha.

    ReplyDelete
  8. Karakter anak sekarang memang beda ya mbak kita nggak bisa menyuruh mereka duduk diam mendengarkan pelajaran hehe.. Keren nih sistemnya SMA Lazuardi ya..

    ReplyDelete
  9. Wah, aku baru tau tyt gen Z n gen alpha ini beda generasi ya. Berarti anak aku yg satu gen Z yg satu gen Alpha. Bedanya apa ya antar keduanya. Kalo kesamaannya keknya sm2 menganggap teknologi sbg kebutuhan hidup.

    ReplyDelete
  10. Setuju pakai banget!
    Orang tua memang kudu mengenali gaya belajar anaknya masuk kategori generasi mana.
    Agar terhindar dari salah kaprah.

    Bergizi banget nih materi!

    ReplyDelete
  11. Bener banget, anak generasi Z paling mudah menangkap hal-hal yang berbau audio visual dan teknologi terkini. Maka sebagai orangtua saya jadi punya PR untuk bisa mengimbangi itu semua supaya tidak ketinggalan..

    ReplyDelete
  12. Generasi Z ini memang istimewa ya mereka ini. Sebagai orangtua memang harus mengikuti zaman mereka. Orangtua harus kreatif, nggak bisa ketinggalan zaman.. Intinya harus update terus

    ReplyDelete
  13. Anak gen Z tuh emang beda banget deh, karena memang sekarang mereka juga dipermudah dengan teknologi ya mbak. Anaknya temanku ada yang sekolah di Lazuardi ini loh mbak, emang bagus banget katanya.

    ReplyDelete
  14. Bener bnget mau gak mau Kita Jadi Parents yg Melek digital sesuai Gen Z harus banyak belajar, Dan memang hrsaklum saat ini gk anak2 gk jauh dari gadget...

    ReplyDelete
  15. Beneeeerrr generasi gen Z itu kritis dan banyak protes, kadang gemes pengen nyium deh bocah kalau udah ngomong, hehe.. Anak umur 5 tahun aja udah banyak lhoo yang dikomenin, ini si kakak umur 8 tahun, ibunya aja kena protes muluuuu. Ternyata aku nggak sendiri, rata-rata gen Z begitu yaa, wkwkw...

    ReplyDelete
  16. pas banget nih, kemarin anak keduaku selesai mengikuti tes psikologi kesiapan masuk sekolah

    Setelah hasilnya dibagikan, saya membaca kalau gaya belajarnya adalah auditori, bener bener anak generasi Z nih

    ReplyDelete
  17. benar itu mbak, kunci kesuksesan belajar adalah anak belajar sesuai gaya belajarnya,
    bicar soal generasi Z, emang nggak bisa dilepaskan dari yang namanya teknologi digital ya mbak

    ReplyDelete
  18. Anakku mbak masuk ini ada yang usia ini
    tapi ya bener juga kayaknya bener2 mereka kritis banget dalam suatu hal
    ini salah satu sekolah bagus mba

    ReplyDelete
  19. Wow, keren banget ya sistem pembelajaran online di sma pintar lazuardi... Salut...

    ReplyDelete
  20. Cara jitu untuk menghadapi anak generasi Z yaah..
    Kudu tau trik dan kebiasaan mereka saat berkomunikasi dan cara belajarnya. Salut sama SMA PINTAR Lazuardi yang menangkap sinyal ini dan disampaikan kepada orangtua.

    ReplyDelete
  21. Aku banyak banget dapat ilmu abis ikut webinar ini, keren banget deh sharing para nara sumbernya.

    ReplyDelete
  22. Sepertinya sudah terbukti semua dengan anakku
    Digital banget, apa apa Google hahaha
    Aku sayangnya ga ikutan webinarnya
    Andai iya, bisa jadi referensi untuk kurikulum di rumah

    ReplyDelete
  23. Saya generasi Y punya anak generasi Z lumayan bedanya nggak jauh. Tapi yg kedua masuk generasi alpha 🤭 Kita lihat apa yg baru di masa depan soal teknologi dan pendidikan nih

    ReplyDelete
  24. Generasi Z emang beda ya, apalagi jika dibandingkan dengan masa kecil kita 🤭
    Mereka lebih kritis dan melek teknologi. Terimakasih banget sudah sharing tulisan ini 🙏

    ReplyDelete
  25. tapi banyak juga kasus karena anak2 generasi sekarang lebih suka audio visual justru membuat karakternya menjadi pendiam dan tertutup, bahkan banyak juga yang jadi terlambat berbicara

    ReplyDelete

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Tapi mohon maaf, buat yang profilnya "unknown" langsung saya hapus. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^