Pilih mana ya? Beli Putus atau Royalti?

Oktober 06, 2016


Assalamu’alaikum wr.wb.
Selamat pagi, blogger.

“Mba, apa sih bedanya antara royalti dengan beli putus?”

Pertanyaan itu acap kali terucap dari teman-teman yang baru merintis di bidang kepenulisan. Mungkin di komunitas ini pun ada lovelies yang memang bergabung dan baru merintis dalam bidang kepenulisan.

Terus terang semua penjelasan tentang sistem pembayaran honor penulis ini, saya tulis berdasarkan sharing beberapa teman yang sudah merasakan kedua sistem pembayaran tersebut.


1.      Beli/jual putus.
Adalah pemberian honor penulis yang hanya dibayarkan 1 kali saat naskah diminta oleh penerbit.  Nominal harga naskah, biasanya tergantung kesepakatan dari 2 belah pihak, penulis dan penerbit. Biasanya bisik-bisik dari beberapa teman (kebetulan saya belum pernah merasakan ke sistem pembayaran beli putus) harga 1 buah novel 200 halaman sekitar 2  - 4 juta rupiah. Nominal tersebut bisa saja berubah sesuai hasil penawaran penulis ke penerbit. Hal itu disesuaikan dengan kualitas naskah dan jam terbang penulis. Tapi bukan berarti penulis baru tidak bisa mendapat harga tertinggi. Semua tergantung penawaran yang dilakukan. Jika penulis baru merasa naskahnya beda dengan yang lain, berkualitas dan lain sebagainya, tentunya ia pun akan mendapatkan bayaran yang sama dengan penulis lama. Intinya semua tergantung dari hasil kesepakatan bersama.

2.      Royalti
Adalah pemberian honor penulis yang dilakukan secara rutin pada setiap periode pembayaran. Biasanya per triwulan (3 bulan) sekali, namun ada per kwartal (4 bulan) dan per semester (6 bulan). Semua tergantung kesepakatan bersama antara penulis dan penerbit. Begitupun dengan prosentase royalti yang diberikan. Besaran angkanya sekitar 7% – 10% dari harga jual buku selama periode pembayaran. Setiap penerbit mempunyai stadart royalti masing-masing. Biasanya angka prosentasi tercantum di dalam kontrak. Namun semua itu kembali lagi ke penawaran dan kesepakatan masing-masing pihak.
Lalu apa kelebihan dan kekurangan dari 2 sistem pembayaran diatas?

Keuntungan untuk beli/jual putus, penulis tak perlu khawatir lagi jika buku yang ia buat tidak laku dipasaran. Ia telah mendapatkan nominal yang sesuai harapannya. Namun ia akan merasa sangat rugi jika ternyata buku yang ia buat meledak dipasaran. Apalagi kalau ada cetakan kedua, ketiga dst.

Sedangkan Royalti kebalikan dari beli putus. Penulis akan merasa rugi jika ternyata buku tidak laku dipasaran. Tapi ia akan terus mendapatkan bayaran, bahkan sampai tak terbatas waktu selama buku yang ia buat dicetak terus, maka ia akan terus mendapatkan bayarannya.

Namun akhir-akhir ini saya mendengar dari beberapa teman yang menandatangi kontrak pembayaran dengan sistem pembayaran oplah (koreksi namanya jika saya salah tulis). Sistem pembayaran ini adalah pembayaran semi putus. Kenapa saya bilang semi putus. Karena dikontrak penulis hanya minta dibeli putus hingga cetakan pertama selesai. Jika nanti ternyata buku laris manis tanjung kimpul, hingga siap cetakan yang kedua, maka penulis kembali menandatangani kontarak yang kedua apakah ia jual putus atau royalti. Biasanya sih penulis akan memilih pembayaran secara royalti, kalau sudah masuk ke cetakan yang kedua.

Semoga rubrik pagi ini bisa menjadi pencerahan buat para blogger yang naskahnya sudah ditaksir oleh penerbit. Buat yang belum, yuk… tetap semangat menulis agar bisa mengikuti jejak-jejak blogger yang sudah melaju pesat.

You Might Also Like

10 komentar

  1. Kalau sekiranya yakin bisa meledak kenapa ga buat pilih royalti y mba. Klo aku telurin buku keknya milih semi putus ambil amannya hahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi... iya, kebanyakan yang pemula memilih itu "semi putus". Cari amaaan

      Hapus
  2. Wah, baru tahu mak istilahnya :)

    BalasHapus
  3. wah pencerahan sekali , makasih ya

    BalasHapus
  4. *ask : klo dalam sistem royalti apakah penulisnya tidak dapat uang muka sebelum naik cetak ? Maaf hanya pngen tahu aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama saya cetak buku dengan sistem royalti, tidak ada uang muka dr penerbit. Penulis dapat honornya setelah 3 bulan buku dicetak sebanyak 8 - 10% dari jumlah harga buku yang terjual. Contoh buku kita selama 3 bulan laku 30 buah. Harga perbukunya Rp 30.000, maka yang kita dapat 8-10% dari jumlah harga Rp 30.000 X 30.

      Hapus
  5. Begitu rupanya ya., Thanks ya infonya mbak! Salam kenal, saya yelli dri Aceh, mampir ke rumah ku ya mba., Yellsaints.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, mba.. insya Allah saya kunjungi

      Hapus

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^

Popular Posts

My Instagram

Jadwal Sholat

jadwal-sholat