3 Hal Dukungan Masyarakat untuk Kemerdekaan OYPMK dan Disabilitas


Kita baru saja merayakan kemerdekaan Indonesia yang ke 77. Kemerdekaan yang dulu diperjuangkan untuk kita rakyat Indonesia untuk bisa hidup bebas. Namun kemerdekaan tersebut belum didapat secara optimal oleh OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta). Kusta memang masih menjadi momok penyakit yang menakutkan bagi sebagian masyarakat. Hal tersebut terjadi karena kurangnya ilmu tentag penyakit Nabi Ayyub ini. Nah, kali ini saya tuliskan 3 Hal Dukungan Masyarakat untuk Kemerdekaan OYPMK. Apa saja? Cekidot!

kemerdekaan oypmk
Bismillahirrahmanirrahiim, 3 Hal Dukungan Masyarakat untuk Kemerdekaan OYPMK

Menyandang sebuah penyakit menahun itu sangat tidak enak. Perlu punya lahan sabar yang luas, karena tak semua orang bisa menerima penyakit yang kita derita. Dalam Al Quran pun ada cerita tentang Nabi Ayyub yang sabar diuji terkena penyakit kusta selama 18 tahun. Ya, penyakit yang banyak dikucilkan oleh orang lain.

Nah, selevel Nabi Ayyub saja, yang punya lahan sabar seluas samudera, merasakan sedih dan sakit dihati manakala ia harus ditinggalkan orang-orang bahkan oleh keluarganya sendiri. Apalagi kita yang cuma punya lahan sabar selebar daun kelor. Ya Allah..

Pengucilan terhadap OYPMK ini salah satu hal yang membuat mereka tak punya kemerdekaan. Hidup mereka terkekang hanya di lingkungan kecil keluarga saja. Itu pun jika keluarga kecil mereka bisa berbesar hati menerima penyakit kusta. Setiap mereka bergerak bebas keluar, banyak mata yang memandang jijik dan rendah. Mereka tak bisa beraktivitas sebebas kita yang sehat. Lalu bagaimana bisa dikatakan merdeka, jika masih ada yang terkekang?

Pada hari Rabu, 24 Agustus 2022 kemarin, saya mengikuti live streaming di channel youtubenya KBR tentang "Makna Kemerdekaan bagi OYPMK Seperti Apa?". Disini saya mulai paham, apa yang sebenarnya mereka inginkan. Apa yang masyarakat harus lakukan untuk kemerdekaan OYPMK.

Live Streming Ruang Publik KBR

Live streaming yang diadakan oleh Berita KBR bekerjasama dengan NLR Indonesia ini dipandu oleh Bapak Rizal Wijaya dimana pada kesempatan itu hadir narasumber dr. Mimi Mariana Lusie (sebagai penyandang disabilitas) dan Mba Marsinah Dhede (sebagai salah satu penyitas kusta).

kemerdekaan oypmk

Live streaming KBR ini lebih banyak bicara soal pengalaman kedua narasumber tersebut. Dimana Dr. Mimi divonis buta saat usis 17 tahun, merasa insecure. Karena dari dalam dirinya langsung mucul berbagai kekhawatiran bahwa dirinya akan merepotkan orang banyak, akan dikucilkan oleh masyarakat bahkan khawatir keluarga merasa kehadirannya menjadi beban. Sudah ia terbebani secara psikologis dari stigma diri sendiri, ditambah pula haknya di masyarakat seolah hilang. Dunia terasa runtuh.

Begitu pun dengan apa yang dialami oleh Mba Dhehe. Mba Dhede merasa sangat sedih ketika ia menyadari dirinya terkena kusta. Di sekolahnya Mba Dhede dikucilkan bukan cuma teman sekelas, tapi juga oleh gurunya. Sampai bapaknya Mba Dhede datang bawa parang kesekolah melihat anaknya menangis. Ya Allaaah… saya bisa merasakan kesedihan tersebut.

Ya iya lah.. Saya pun kalau jadi ortunya Mba Dhede bakalan nyamperin ke sekolah juga. Hati ortu mana yang tak patah mendengar hal itu. Sudah melihat anaknya sakit kusta, trus anaknya harus menderita secara psikis pula, karena cemoohan lingkungannya.

Kalau teman-teman mau dengar ceritanya bisa langsung lihat di channel youtube di : https://www.youtube.com/watch?v=CoyeWa2ZQs0

Kebanyakan dari masyarakat mengucilkan penderita kusta dan penyandang disabilitas (baik itu karena kusta atau difable yang lain) ini alasan utamanya adalah mereka khawatir tertular. Padahal menurut dr. Mimi, penyakit kusta ini bukan penyakit menular. Apalagi jika OYPMK sudah minum obat rifampicin.

Dan untuk yang difable dikucilkan karena merasa tak berguna. Memperlambat pekerjaan yang seharusnya bisa cepat. Walaupun mereka punya hak yang sama dengan orang normal, tapi hukum di Indonesia tak berpihak kepada mereka. Kemerdekaan mereka terampas oleh orang-orang yang minim ilmu. Lalu apa yang harus masyarakat lakukan untuk kemerdekaan OYPMK?


3 Hal Dukungan Masyarakat untuk Kemerdekaan OYPMK

Pada kesempatan tersebut, Dr. Mimi dan Mba Dhede seolah ingin mengatakan, bahwa mereka punya hak untuk merdeka. Ayo dong, dukung untuk kemerdekaan OYPMK dan diffable. Mba Dhede juga memberikan solusi dengan memaparkan 3 Hal Dukungan Masyarakat untuk Kemerdekaan OYPMK, yaitu :

1. Beri dukungan secara psikis

Ini yang paling utama, jangan langsung mengucilkan orang-orang yang tervonis OYPMK dan diffable. Jika khawatir tentang penyakitnya, cari tau info detail dari segi kesehatannya. Cari ilmu sebanyak mungkin yang bisa menguatkan mereka. Dukungan keluarga adalah lingkungan terkecil yang mampu menjadi pondasi kekuatan mental mereka, hingga mereka kuat menghadapi cemoohan diluar rumah.


2. Tetap beri pendidikan yang layak

Menjadi OYPMK atau penyandang disabilitas, bukan berarti mereka harus terkurung di rumah. Tetap berikan pendidikan yang setara dengan orang sehat atau normal lainnya. Jangan salah memberi stigma. Seperti yang dialami Mba Dhede, dimana seharusnya ia bisa belajar di sekolah normal, dia malah dikirim ke sekolah SLB. Hatinya menjerit. Dia memang punya penyakit, tapi bukan berarti dia tak mampu mengikuti pelajaran sebagimana orang normal lainnya.


3. Libatkan dalam kegiatan di masyarakat

Merepotkan atau tak berguna, adalah 2 kata yang sering disandangkan oleh OYPMK dan penyandang disabilitas. Bahkan ketika mereka sudah dinyatakan sembuh oleh dokter tetap menyandang 2 predikat tersebut. Padahal jika kita bijak, banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan oleh mereka. Banyak kaaan kita lihat hasil karya mereka yang mendunia. Dr. Mimi juga berharap pemerintah ataupun perusahaan swasta jangan memandang sebelah mata kepada mereka, berikan mereka kemeredekaan untuk juga bisa bekerja di kantoran seperti layaknya orang normal.


Yuk teman-teman, dukung kemerdekaan OYPMK dan penyandang disabilitas baik yang disebabkan oleh kusta atau ragam disabilitas lainnya agar tidak terjebak dalam lingkaran diskriminasi.

Hilangkan hambatan terbesarnya, yaitu melepas predikat penyandang kusta ketika mereka dinyatakan sembuh dan telah menyelesaikan segala rangkaian pengobatan atau dapat dikatakan RFT (Release From Treatment). Lepaskan gangguan dalam hidup mereka seperti gangguan kesejahteraan psikologis, gangguan hubungan sosial dan masalah dengan lingkungan sekitar, yang membuat mereka sulit untuk kembali ke masyarakat. Beri mereka kebebasan dan kemerdekaan bagi OYPMK dan penyandang disabilitas dalam pemenuhan hak hidup. Semoga tulisan ini bisa membuka mata hati kita kepada OYPMK dan penyandang disabilitas. Aamiin.


Wassalam










1 comment

  1. temen-temen OYPMK juga berhak mendapatkan kesetaraan dalam hal pekerjaan atau ngelakuin bidang apapun sama halnya dengan mereka yang sehat normal.
    kalau masih banyak yang dikucilkan, kesannya OYPMK belum merasakan kemerdekaan seutuhnya, karena pandangan "sinis" dari lingkungan

    ReplyDelete

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Tapi mohon maaf, buat yang profilnya "unknown" langsung saya hapus. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^