Maafkan aku, Ibu



Ibu, Setiap malam aku duduk dihadapan komputerku hendak menuliskan kata-kata indah untukmu agar bibirmu merentang senyum membacanya. Tapi.... Aku tak sanggup memulai menuliskan kata indah itu. Tak satupun kata indah hadir di benakku untukmu.. Bukan.. Bukan karena kau tak indah... hanya karena kata indah itu tak sebanding dengan segala keindahan yang kau berikan padaku...



2 bulan pertama...
Kau memekik bahagia saat kau melihat 2 garis merah pada testpack yang kau pegang. Pagi yang indah, begitu kau tahu aku hadir dalam perutmu. Airmata bahagia mengalir dipipimu.

Hari-hari berikutnya kau tampak begitu lemas, wajahmu pucat. Jangankan untuk menelannya, mencium baunya saja kau sudah tak tahan. Makanan itu terasa begitu menjijikkan.. Tapi demi aku kau tetap berusaha menelannya..

Kau tersiksa karena aku. Namun kau tetap tersenyum bahagia.

9 bulan terakhir...
Susah payah kau berjalan membawa aku dalam perutmu yang semakin membesar. Kulitmu melar, begitu juga dengan kakimu yang membengkak... Pegal dipinggangmu membuatmu tak sanggup untuk duduk terlalu lama.. Tapi demi aku kau tetap berusaha menahannya..

Kau tersiksa karena aku. Namun kau tetap tersenyum bahagia.

At that time...
Kau menggigit bibirmu menahan sakit luar biasa saat aku diminta Allah keluar dari perutmu. Dan kau berteriak dengan kuat saat kau berjuang mengeluarkanku dari rahimmu. Nyawa kau berikan sebagai taruhannya... Tapi demi aku kau tetap berusaha melawan semua itu.

Kau tersiksa karena aku. Namun kau tetap tersenyum bahagia.

Di hari akhirmu...
Saat nyawamu tinggal beberapa hari lagi, kau masih memikirkan tentang hari pernikahanku, yang tinggal beberapa bulan lagi kujalani. Setiap saudara yang datang, tak satupun yang luput akan pesan untuk menjagaku. Membantuku mengatur hari bahagiaku.. Demi aku, nafas terakhirmu masih kau tahan, karena aku pergi sesaat, seolah kau tak rela pergi sampai aku melihatmu menghembuskan nafas terakhirmu.

Kau tersiksa karena aku, tapi tak kulihat sesal diwajahmu. Senyum mengembang dibibirmu yang membiru.

Ya Allah, tapi apa yang ku berikan untuknya? Apa yang sudah aku korbankan untuknya? Bahkan aku sering membuatnya menangis, karena keegoisanku. Aku menganggap beliau tidak mengerti perasaanku saat beliau memberiku nasihat untuk kebaikan masa depanku. Aku merasa hidupku diatur-atur olehnya.

OOhhh...Sungguh aku seperti anak yang tak tahu membalas budi.

Maafkan aku, Ibu... Aku menyesal... menyesal telah menyia-nyiakan waktuku untukmu. Menyesal telah terlambat menyadari semua itu.

Dengan linang airmataku dan suara lirih, aku hanya sanggup menulis kata "Maafkan aku, Ibu... semoga Allah memberikan kebahagian di duniamu kini."

Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^