Solusi Praktis Atasi Nyeri Menstruasi

Wednesday, September 16, 2026

Siapa di sini yang kalau lagi hari pertama menstruasi mendadak merasa perut bawahnya remuk, melilit, sampai pengin sungkem ke bantal dalam posisi nungging? Kalau kamu salah satunya, selamat, kita satu rombongan! Nyeri haid atau dismenore memang sering dianggap sepele, tapi buat sebagian perempuan, rasanya bisa melumpuhkan seharian penuh. Mulai dari drama pingsan di jalanan zaman sekolah dulu, sampai momen "dejavu" di lantai 3 sekolah tempat saya mengajar baru-baru ini. Penasaran gimana perjuangan saya menaklukkan naga melilit di perut ini tanpa harus pingsan di busway? Yuk, baca cerita lengkapnya di bawah ini!

Primecare Clinic Home Care

Bismillahirrahmanirrahiim,

Perjuangan Melawan Naga Melilit Saat Menstruasi

Siapa di sini yang suka ngerasa perutnya sakit luar biasa saat menstruasi?

Sayaaa...! (Ngacung) 

Bicara soal menstruasi, jujur ya, saya itu dari zaman masih gadis kalau lagi "dapat", sakitnya suka luar biasa. Bukan cuma mules-mules syahdu yang cukup diusap pelan, tapi yang tipe sakitnya bikin perut bawah kayak digelitik sama naga. Sampai-sampai saya harus mengambil posisi nungging-nungging di kasur demi mencari kenyamanan yang tak kunjung datang. Biasanya, kalau dapat hari pertama haid, saya dipastikan "absen" alias libur sekolah karena cuma bisa berbaring lemas.

Pernah sekali waktu zaman SMA, saya dapet haid pas di sekolah. Kebetulan waktu itu saya dapat shift masuk siang. Untungnya di UKS sekolah ada persediaan pembalut, jadi untuk urusan perlengkapan "tamu bulanan", posisi saya aman. Nah, yang bikin situasi berubah dari aman jadi darurat adalah pas jam pulang sekolah.

Teman-teman ngajakin saya nonton karnaval. Karena saya juga sudah nunggu-nunggu event karnaval itu dari jauh hari, akhirnya saya nekat ikut pergi bareng mereka. Kebetulan rute jalur karnavalnya memang tidak jauh dari sekolah. Padahal jujur aja, perut bagian bawah saya saat itu sudah mulai nggak karuan. Rasa sakitnya sudah berasa menjalar ke mana-mana.

Sepanjang jalan, walau jaraknya dekat, pelipis saya mulai bercucuran keringat dingin. Mau pulang pun serba salah, karena jalur angkot arah rumah sudah kepotong rute karnaval. Biasanya saya dijemput Papa, cuma hari itu saya sudah izin dari pagi supaya Papa nggak usah jemput karena saya mau nonton karnaval.

Dan setibanya di pinggir jalan jalur karnaval... jeng jeng! Saya sudah benar-benar tak kuat lagi menahan rasa sakit di perut. Saya sempat pegangan tiang lampu jalanan buat bertahan hidup. Tapi apa daya, kekuatan tiang listrik pun tak sanggup menopang tubuh saya yang makin lemas. Kekuatan itu tak bertahan lama, dan akhirnya... saya ambruk alias pingsan dengan suksesnya di pinggir jalan!

Bangun-bangun, pandangan saya masih kabur. Pas sadar penuh, eh saya sudah ada di dalam ambulans lapangan Enggal—lokasi pusat akhir karnaval. Di samping bangku ambulans, ada teman saya yang menunggu dengan wajah panik sekaligus kasihan.

"Sebegitu sakitnya, De?" tanya teman saya. Iya, sebegitu sakitnya! Kalau ditanya sakitnya seperti apa, mungkin ibu-ibu yang pernah merasakan lahiran normal bisa membayangkan. Ya, rasanya itu mirip banget sama kontraksi awal-awal pembukaan 1 atau 2. Mules, cengkram, dan bikin serba salah. Subhanallah banget, kan?

Dulu kalau serangan sakit bulan begitu datang, almarhumah Mama biasanya menyiap botol sirup ABC bekas yang diisi air panas—botol legendaris yang biasa dialihfungsikan jadi botol minum itu, lho... xixixi. Botol panas itu lalu dibungkus handuk kecil, dan saya diminta menempelkannya ke perut yang sakit untuk mengkompresnya. Setiap kali saya meringis sambil tanya, "Ma, sakit begini sampai kapan sih?", Mama biasanya menjawab dengan kalimat pamungkas, "Nanti kalau sudah nikah juga hilang sendiri..."

Setelah dikompres botol hangat itu, biasanya saya akan berusaha tidur lelap untuk melupakan rasa sakitnya. Berapa lama sakitnya bertahan? Cukup seharian di hari pertama, pas darah haidnya lagi keluar banyak-banyaknya. Seharian itu saya cuma bisa tertidur lemas di kasur tanpa bisa berbuat apa-apa. Jangankan beraktivitas, makan pun rasanya tak nafsu. Maunya tiduuur aja sampai tamunya selesai hajatan.

Dan ajaibnya, ucapan Mama saya benar-benar terbukti! Setelah menikah, rasa sakit menstruasi yang hebat itu perlahan berkurang. Tidak hilang total sih, tapi tidak sesakit dan sedramatis seperti ketika saya masih gadis. Nah, sakit haid itu baru benar-benar hilang total ketika saya melahirkan anak pertama saya, Abang, secara normal. Logika awam saya waktu itu: oh, mungkin jalurnya sudah plong dan longgar ya, karena darah haidnya pernah dilewati sama kepala bayi. Xixixi...

Saya pikir, saya sudah terbebas dari rasa sakit perut menstruasi untuk selamanya. Ternyata eh ternyata... saya salah besar!

Sakit perut melilit itu datang kembali setelah saya melahirkan anak kedua saya, Adek, secara operasi caesar. Memang rasa sakitnya tidak separah waktu zaman masih gadis dulu, tapi tetep aja lumayan mengganggu. Jika setelah menikah cuma mules-mules kecil yang terbilang imut, nah setelah lahiran Adek ini rasa mulesnya kembali lebih dahsyat.

Alhamdulillah, di saat kondisi fisik lagi drop karena haid hari pertama, Pak Suami selalu mengerti dan berempati. Saya dibebaskan total dari urusan bebenah rumah, masak, sampai urus keperluan Adek. Beliau dengan sigap membantu mengambil alih semua pekerjaan domestik selama seharian di hari pertama saya kedatangan tamu bulanan. Benar-benar penyelamat!
 

Momen "Dejavu" di Sekolah dan Penyelamat Praktis

Hingga beberapa waktu lalu, saya mendadak merasa dejavu balik ke masa-masa SMA dulu. Yes! Hari pertama haid saya jatuh pas banget saat saya harus mengajar di sekolah. Mana lokasi kelas yang harus saya ajar berada di lantai 3 pula... Subhanallah, nikmat banget kan rasanya nanjak tangga lantai 3 sambil nahan perut mules?

Begitu selesai mengajar dengan sisa-sisa tenaga, saya akhirnya memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah di Depok. Kalau saya nekat naik transportasi umum pulang ke Depok dengan kondisi badan melilit dan lemas begini, bisa-bisa kejadian zaman SMA terulang lagi, pingsan di dalam busway atau angkot! No no no...

Akhirnya saya memilih berbelok menepi dan beristirahat ke rumah adek ipar saya yang lokasinya tak jauh dari sekolah tempat saya mengajar. Beruntung saat itu Adek Fi pulang sore, jadi waktu saya bisa lebih leluasa dan numpang rebahan sebentar di tempat Adek Ipar.


Nah, pas di perjalanan menuju rumah adek ipar, saya iseng scrolling di ponsel. Tanpa sengaja saya melihat informasi tentang layanan medis panggil ke rumah alias home care. Ternyata ada layanan home care untuk nyeri haid dari Primecare Clinic!

Mata saya langsung berbinar-binar. "Wah, ada ya treatment Menstrual Remedy yang bisa dipanggil langsung ke rumah atau lokasi kita?!" Tanpa pikir panjang, saya langsung menghubungi kontak Primecare Clinic lewat nomor WhatsApp yang tertera di situs resmi mereka.

Prosesnya ternyata simpel dan responsif sekali! Sebelum perawatan dilakukan, saya diarahkan untuk melakukan telekonsultasi terlebih dahulu dengan dokter dari Primecare Clinic. Lewat telekonsultasi ini, dokter menanyakan secara detail gejala nyeri yang saya rasakan, riwayat kesehatan saya, hingga memastikan apakah ada alergi obat tertentu. Pelayanannya sangat ramah dan membuat saya merasa aman karena penanganannya tetap terpantau oleh prosedur medis yang tepat.

Setelah konsultasi selesai dan resep treatment infus Menstrual Remedy disetujui oleh dokter, tak berapa lama kemudian perawat (ners) dari Primecare Clinic datang langsung ke tempat saya. Ners yang bertugas sangat profesional, ramah, dan cekatan. Saat itu saya dioegang oleh Ners Isni. Dari mulai mengecek tekanan darah (tensi), akurasi oksigen, menyiapkan peralatan medis yang steril, sampai proses pemasangan infus untuk meredakan nyeri haid, semuanya dilakukan dengan sangat lembut dan minim rasa sakit.

Primecare Clinic

Primecare Clinic

Jujur, perawatannya nyaman banget. Sambil diinfus Menstrual Remedy, saya bisa sambil tiduran santai tanpa perlu repot-repot antre di rumah sakit atau desak-desakan di klinik dalam kondisi perut melilit. Setelah cairan infus dan nutrisi pereda nyerinya masuk, perlahan-lahan rasa kram dan mules di perut bawah saya mulai mereda. Badan yang tadinya lemas dan keringat dingin perlahan jadi terasa lebih rileks dan segar. Malah esok paginya ketika bangun, badan terasa lebih bugar. Benar-benar penolong di saat darurat!
 

Sekilas Tentang Layanan Primecare Clinic

Pengalaman mencoba layanan home care ini bikin saya sadar, zaman sekarang itu urusan kesehatan sudah serba praktis. Sebagai informasi buat teman-teman yang mungkin belum tahu, tersedia home care oleh Primecare Clinic, di mana layanan home care ini melayani area Jabodetabek. Jadi buat kita yang tinggal di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, maupun Bekasi, kalau lagi sakit dan malas keluar rumah, tinggal panggil saja medisnya ke rumah.

Khusus untuk kamu yang berdomisili atau berkegiatan di sekitar Jakarta Selatan, Primecare Clinic cabang Panglima Polim, Jakarta Selatan menyediakan berbagai home care seperti home care pengobatan untuk GERD, hangover, home care dokter umum, dokter spesialis, tes laboratorium, perawat, dan pijat bayi. Lengkap banget, kan? Mulai dari perawatan ibu, bayi, sampai masalah pencernaan dan nyeri haid semua ada solusinya.

Buat sesama pejuang nyeri haid yang sering dibuat mati gaya tiap bulan, Plisss... jangan menyiksa diri lagi dengan menahan sakit sendirian ya! Kalau mulesnya sudah mulai enggak masuk akal dan mengganggu aktivitas, langsung manfaatkan saja fasilitas medis praktis ini.

Semoga cerita pengalaman saya ini bisa berguna buat teman-teman sesama perempuan. Tetap jaga kesehatan, dan jangan lupa untuk selalu mendengarkan sinyal tubuh kita sendiri!

Wassalam
www.adeufi.com




Post a Comment

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Tapi mohon maaf, buat yang profilnya unknown langsung saya hapus. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^