Siapkah Kita Menerima Kritikan?



Bismillahirrahmaanirrahiim...
Assalamu'alaikum wr. wb.

Tiga hari yang lalu aku ditelepon atasanku. Beliau mengabarkan bahwa ada orangtua murid yang complain dengan cara mengajarku. Orangtua murid itu bilang, bahwa semenjak dipegang oleh bu ade nilai komputernya turun, sedangkan waktu anaknya di kelas 1 - 3 nilai komputernya aman-aman saja. Beliau minta agar anaknya diperhatikan benar-benar samapai bisa.

Hatiku sakit dan aku marah. Menurutku kritikan yang disampaikan tidak benar. Nilai anaknya memang turun saat dikelas 4, tapi waktu dikelas 4 bukan aku yang ngajar, melainkan partnerku. Aku pegang anaknya saat di kelas 3 dan kelas 5. Nilainya baik semua, kecuali kelas 5 nilainya memang turun. Itu pun tidak jauh, yaitu dari 85 menjadi 72.

Karena ketidakbenaran tersebut, aku gerutu sepanjang hari. Konsentrasi mengajarku berantakan. Yang ada dalam pikiranku,"Apa salahku sih? Kok tega-teganya beliau mengadu hal nggak bener ke atasanku. Padahal selama ini, didepanku beliau baik2 saja.."



Aku konsultasikan masalahku kepada suami. Beliau hanya bertanya dengan bijak, "Kenapa harus marah? Ade punya data-data anak tersebutkan? Lakukan segala sesuatunya dengan profesional. Tunjukkan data nilai anak tersebut. Agar terjadi komunikasi 2 arah. Nggak perlu marah". Aku terdiam sesaat. Ya, kenapa harus marah? Apa yang membuatku marah?

Aku coba mencari jawabannya dihatiku. Dan aku malu saat menemukan jawabannya. Hatiku belum siap menerima kritikan. Sehingga saat ada orang yang mengeritik aku, aku terbawa emosi. Sejak kutemukan jawaban tersebut, aku mulai intropeksi diri. Mencari cara ngajar yang tidak hanya disukai anak, namun juga orangtua.

Beda sekali dengan kejadian yang aku lakukan kemarin sore. Aku mengirim pesan ke semua teman ym (yahoo messenger) ku. Isi pesanku,"tanya dong... ade sedang belajar "cermin"... menurut kalian ade itu seperti apa sih orangnya (bukan fisik ya..)?" Beragam jawabannya, but the most of them menjawab sifat positifku, sekalipun aku tanya ,"Negatifnya apa?" mereka menjawab,"belum ketemu". Entah apa memang betul 'belum ketemu' atau mereka tidak berani. Only God knows. Tapi ada 3 orang yang berani memberikan sifat negatifku. Herannya, hatiku biasa saja menerimanya, walau ada sedikit kesedihan "ternyata aku masih melukai hati orang lain", tapi aku tetap mampu menerimanya. Aku seolah berlapang dada dan mengambilnya sebagai masukkan untuk menjadikan diriku lebih baik. Karena disaat aku bertanya seperti itu, tandanya hatiku siap menerima kritikan.

Dari kejadian diatas, aku belajar sesuatu. Aku belajar, mungkin hal seperti ini juga yang kita jalani dalam hidup. Disaat hati atau diri kita tidak mempunyai persiapan menerima kritikan dari Allah (berupa cobaan, ujian dan teguran), kita akan sedih, kesal bahkan marah terhadap Allah. Hingga terkadang berteriak, "Ya Allah, apa salahku?" Malah kalau perlu nilisnya huruf kapital semua, ditebalkan dan kasih tanda tanya berderet. hehehe

Tapi dikala diri dan hati ini siap menerima kritikan dari Allah. Kita justru bisa lebih bersabar dan menerimanya dengan lapang dada. Percaya bahwa Allah memberi kita kritikan bukanlah satu hal yang sia-sia, karena Allah sendiri tidak suka dengan perbuatan yang sia-sia, terbukti dalam surat Al mu'minuun ayat 3:

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna

tapi Allah ingin memberikan yang terbaik untuk kita. Selama kita mau mencari dan belajar dari setiap kejadian (terpaan) yang kita alami.

Hmmm.... Jadi berpikir lagi nih. Sudah siapkah kita menerima kritikan dari Allah? Aku hanya manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Maka dari itu, yuk sama-sama kita benahi diri, agar nantinya kita siap menerima kritikan dari Allah. Bahkan kalau bisa usahakan jangan sampai Allah mengkritik kita. Mungkin nggak ya? Insya Allah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^