Pemimpin Wanita dalam Kacamata Islam

September 24, 2012

pemimpin wanita

Bismilahirrahmanirrahiim
Assalamu'alaikum wr.wb

Kali ini aku hendak membahas kenapa Islam mendahulukan pemimpin pria daripada wanita. Ini penjelasannya :

قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ اِمْرَأَة

“Tidak akan berbahagia / berjaya suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita (mengangkat wanita sebagai pemimpin) .”



DERAJAT HADITS
Hadits ini dikeluarkan oleh:
  • Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya di dua tempat. Kitabul Maghazi bab Kitab An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ila Kisra wa Qaisar no. 4425 dan Kitabul Fitan no. 7099.
  • Imam Abu Isa At-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Fitan no. 2262 dan beliau menyatakan: “Hadits ini hasan shahih.”
  • Imam An-Nasa`i dalam Sunannya, Kitab Adabil Qudlat bab An-Nahyu ‘an Isti’malin Nisa fi Hukmi no. 2/305 no. 5403.
  • Al-Hakim dalam Mustadraknya, Kitabul Fitan wal Malahim 4/570 no. 8599 dan beliau menyatakan: “Hadits ini sanadnya shahih dan keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya.”
  • Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, bab La Yuwalli Al-Wali Imra`atan wala Fasiqan wala Jahilan Amral Qadla, Kitab Adabul Qadli, 10/201 no. 20362.
  • Imam Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, Kitabul Imarah wal Qadla, bab Karahiyatu Tauliyatin Nisa 6/60 no. 2486. Kata beliau: “Hadits shahih.”
  • Al-Khatib At-Tibrizi dalam Misykatul Mashabih, Kitabul Umarah wal Qadla pasal pertama 2/1091 no. 3693.
  • Al-Imam As-Suyuthi dalam Jami’us Shaghir, lihat Faidlul Qadir karya Al-Munawi 5/386 no. 7393 dan beliau (Suyuthi) memberi kode: “Shahih."
Dulu sebelum aku mengalaminya, aku menganggapi hadis tersebut dengan berbagai pertanyaan. Kenapa? Bukannya kalau dipimpin wanita jauh lebih detail?

Tapi sekarang aku baru paham setelah melihat bagaimana aku dan suamiku menyelesaikan masalah yang serupa.


Kalau wanita : cendrung menanggapi atau menyelesaikan masalah dengan menggunakan perasaan mereka. Bahkan terkadang muncul prasangka-prasangka negatif terhadap sesuatu yang belum pasti. Untuk mencapai kata "bijak" wanita cendrung melewati tahapan emosional terlebih dahulu. Selain itu mereka cendrung plin plan dengan keputusannya. Dan Jika sedang kesal mereka akan bertindak dengan emosi, bahkan cendrung membagi masalahnya tersebut ke orang lain.

Kalau pria : mereka menanggapinya dengan tegas dan banyak menggunakan logika daripada perasaannya. Jarang sekali mereka berprasangka buruk terhadap seseorang, lebih kepada berpikir bijak. Dan jika sedang kesal mereka tidak semena-mena membuat keputusan dari emosinya, tetap dipikirkan secara logika. Dan jarang sekali melihat pemimpin pria mengeluh tentang masalahnya kepada orang lain dengan mudah, kecuali orang-orang yang sangat dia percaya. Seperti istri atau guru mereka (itu pun jika istri bisa diajak berdiskusi, jika tidak mereka enggan bercerita).

Dari situlah aku berkaca. Walapun aku mengerti tidak semua wanita seperti itu dan tidak semua pria juga seperti itu. Tapi sifat-sifat tersebut memang dominan dimiliki oleh mereka.

Belum lagi jika dilihat dari segi fisik. Dimana wanita dikodratkan untuk bisa hamil dan menstruasi. Karena disaat 2 kondisi tersebut, emosi wanita jadi labil. Fisik mereka menurun dan lemah. Tidak boleh stress karena berpengaruh ke kandungan. Atau mudah stress disaat datang tamu merah tersebut.

Mungkin sebenarnya ada banyak hal yang lebih detail dibahas oleh para ulama tentang hadist Rasulullah tersebut. Tapi buat aku, dari hal kecil dan sederhana ini aku mulai paham, kenapa Islam melarang wanita sebagai pemimpin. Walaupun sikap kepemimpinan tidak bisa digambarkan akan hal-hal tersebut, namun yang kecil ini sangat berpengaruh dalam kepemimpinan mereka.

Apa jadinya jika dalam kondisi genting dan perang, diketahui bahwa pimpinannya hamil? Atau enak nggak sih kita sebagai rakyat kena omelan nggak jelas, atau kena damprat akan hal kecil, hanya karena hormon progesteron wanita meningkat saat menstruasi? Atau tba-tiba pemimpin wanita tersebut menangis karena masalah bertubi-tubi yang menyesakkan dada? (itu aku bangeeet... hehehe)

Lain halnya jika ia memimpin dalam komunitas yang 100% adalah wanita. Kalaupun ada laki-laki, mereka anak kecil yang belum balig. Karena dalam imam sholatpun wanita dibolehkan jadi imam jika makmumnya wanita dan anak-anak yang belum balig.


Namun demikian, aku bukannya mengecilkan derajat wanita. Wanita itu diciptakan tinggi posisinya oleh Rasulullah sebagai seorang ibu. Wanita harus tunduk kepada suaminya, tapi suami harus tunduk kepada Ibunya. 3 kali Rasulullah memerintahkan kepada sahabat harus menghormati ibu baru bapak.

So, Begitu sempurnanya Islam mengatur umatnya. Wanita diberikan perasaan dan kasih sayang melimpah untuk mengasuh anak-anaknya, lalu pria diberikan logika dan kekuatan untuk memimpin suatu kaum.

Aku mohon maaf, jika ada kesalahan dalam penjabaranku ini. Aku menulis ini semata-mata untuk ilmu bagi diriku sendiri.

Semoga Allah selalu memberikan hidayah-Nya bagi siapapun yang mencari ilmu dari hal-hal disekelilingnya.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Jadi inget ceramah ustadz pas tarawih. Kenapa perempuan nggak boleh jadi nabi. Karena nabi juga jadi pemimpin perang. Lah misalnya hamil 9 bulan. Bawa badan aja udah susah, gimana lari2 mimpin perang atau dakwah yang lebih meluas dengan kondisi di zaman itu. Haha iya juga sih. Ah sudahlah saya tak mau jadi pemimpin. Saya jadi tukang makan mie aja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi... iya plus tukang ngayap ya ^_^

      Hapus

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^

Popular Posts

My Instagram

Jadwal Sholat

jadwal-sholat