Masa Lalu

Monday, August 29, 2016

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Assalamu'alaikum wr.wb.

Jika kita bicara masa lalu, ada 2 perubahan ekspresi di wajahku. Sebagaian mampu membuatku tersenyum saat mengenangnya dan satu lagi selalu membuatku menangis. Namun mata ini lebih sering menangis jika mengingat masa lalu. Masa-masa dimana aku masih menjadi orang bodoh dan menyia-nyiakan waktuku. Di masa-masa aku lebih sering membuat ibuku menangis karena aku.

Read More

Niat

Saturday, August 27, 2016

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Assalamu'alaikum wr. wb.

Hmm... sudah masuk lagi bulan ramadhan. Marhaban ya ramadhan.
Kalau bulan Ramadhan gini, aku jadi ingat dengan masa-masa aku dan sepupu-sepupu dulu, saat kami semua belum ada yang menikah.

Dalam keluarga besarku ada kebiasaan atau tradisi mengadakan syukuran saat malam nuzulul qur'an. Biasanya saat acara tersebut beberapa anak muda yang khatam al qur'an dipanggil namanya untuk dibacakan do'a. Maka dari itu setiap masuk bulan ramadhan para sepupuku berlomba-lomba untuk menghatamkan bacaan qur'annya.

Yang membuat aku heran, mereka sanggup menyelesaikan qur'an 30 juz hanya dalam jangka waktu 17 hari bahkan kurang. Hmm, sementara aku? Jangankan membaca qur'an, baca bacaan umum dan ringan saja aku malas. Huh, mana bisa mau maju? :(

Read More

Ruang Tamu Allah


Assalamu'alaikum wr.wb.

Siang semuaaa.
Saya hanya sekedar sharing apa yang saya alami pagi ini.

Setiap pagi, saat saya berangkat kerja, jalan yang saya lalui pasti melewati RUANG TAMU ALLAH. Nggak lama perjalanannya. Kurang lebih 100 meter (soalnya nggak bawa meteran dan nggak sempet ngitungin jaraknya). Setiap kali melewatinya, mata ini seolah tersihir untuk selalu melihat kesana. Pemandangan, yang menurut saya, adalah pemandangan terindah sepanjang usia saya.
Sepi... tenang... harum dengan aroma kambojanya penuh dengan warna kesukaanku. Coklat.

Manusia menamai tempat tersebut dengan julukan KUBURAN. Berasal dari kata KUBUR yang berarti menaruh/menanam/ menyimpan sesuatu dalam gudukan baik itu dari tanah, sampah atau yang lainnya. tapi saya lebih suka dengan istilah kata RUANG TAMU ALLAH. Karena memang ditempat itulah kita disuruh menunggu sampai terompet sangkakala ditiupkan dan insya Allah kita bisa dipertemukan oleh Allah.

Mungkin sebagian orang bilang saya aneh, kuburan koq dibilang pemandangan indah (enaknya memang kalau dilihat pagi hari, kalau malam nggak kelihatan apa-apa). Ya, memang indah. Saya (secara pribadi) bisa intropeksi diri akan apa yang telah saya ulakukan di dunia ini. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari otak saya saat memandang tempat itu.

1. Sudah siapkah kita untuk menghadap Allah saat nama kita dipanggil oleh-Nya?

2. Siapa yang akan menyambut kita? wajah dengan penuh senyum kah? atau wajah bermuka masam dengan segala macam alat siksa ditangannya?

3. Dan Siapa yang akan mengantar kita? Orang-orang dengan penuh dzikir dibibirnya atau tak seorang pun mau mengangkat mayit kita?

4. Bagaimana dengan orang-orang yang akan kita tinggalkan? Menangis sedih dan haru atas kepergian kita atau berucap syukur Alhamdulillah atas kepergian kita?

Guys, pernahkah kita berpikir kesana? Pernahkah kita berpikir apa yang harus kita persiapkan untuk menghadapnya?

Selama ini kita sibuk bekerja mencari harta, namun apakah semua itu kita bawa kedalam kubur? jawabannya hanya 1 : TIDAK.

Hanya selembar kain kafan dan beberapa papan kayu yang menemani kita. Kita juga selalu berpakaian rapih dan harum serta penuh dengan laporan-laporan yang pastinya membanggakan saat kita hendak menghadap atasan kita. Tapi bagaimana dengan ibadah kita? sudah mampu kah membuat Allah tersenyum?

Bahagia sekali bagi mereka yang memang sudah mempersiapkannya. Bagi yang belum, termasuk saya, ayo masih ada waktu untuk mecapai target "Allah tersenyum pada kita". Karena dengan target tersebutlah yang mampu menyelamatkan kita dunia maupun akhirat. Aamiin.

Itu saja yang ingin saya sharing kepada kalian. Hari yang indah, semoga tulisan ini bermanfaat buat semua. Aamiin.

ditulis pada hari senin, 9 Juni 2008 pukul 12.09

Wassalam








Read More

Tunggu kami disana ya, Nak!

Thursday, March 3, 2016

www.adeufi.com

Wow, ga berasa sudah 2 tahun nggak update blog. Dan skrg masuk tahun ketiga.
Ya, semenjak saya hamil anak kedua, saya sudah agak malas untuk menulis di blog. Selain cepat lelah, saya juga sibuk memproduksi pakaian jadi untuk dijual. Karena saya sudah tidak lagi menjadi guru tetap di SDI Dian Didaktika

Hampir tiap minggu saya pasti bolak balik ke Tanah Abang dengan perut membuncit. Berusaha tetap menghasilkan uang dengan kreasi sendiri. ^_^

Hmm... apa yang ingin saya ceritakan ya?
Mungkin saya mau bercerita ini saja. Untuk menjadi kenanganku sepanjang hidup.
Read More

Tulisan Dunia Akhirat

Monday, October 14, 2013

www.adeufi.com



Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’alaikum wr.wb.

Baca judulnya seperti judul lagu dangdut ya? ^_^ Abaikan!

Di pagi yang cerah ini dan matahari pagi yang masih malu-malu menampakkan wajahnya, saya akan bercerita tentang pertemuan saya dengan seorang teman lama.
Setiap weekend saya beserta anak dan suami punya suatu kebiasaan rutin. Kami biasa berwisata kuliner. Dan kemarin, di hari Minggu, tujuan wiskul kami adalah ke jalan baru Juanda Depok. Tempat pasar kaget biasa digelar setiap minggunya. Selesai hunting makanan biasanya kami kembali pulang. Namun pagi itu kami iseng hendak jalan-jalan lagi. Maka keluarlah keputusan untuk berkunjung ke rumah teman saya (kebetulan teman suami juga, saat kami masih sama-sama kerja di Indosat). Kami sudah 10 tahun tidak bertemu. Jadi, mumpung dekat dari area wiskul kami, ya sekalian saja kami mampir.

Saat tiba dirumah teman kami disambut oleh teman saya tersebut beserta suaminya. Kami pun berbincang-bincang seru seraya menikmati suguhan kopi hitam asli Euthopia dari tuan rumah. Perbincangan dimulai dari hobi hingga profesi suaminya. Suami teman saya tersebut adalah seorang wartawan di salah satu majalah kesehatan pria. Yang membuat saya tertarik adalah disaat suami teman saya bercerita tentang idealisme beliau sebagai seorang wartawan. Beliau mengatakan bahwa menjadi seorang wartawan itu godaannya banyak. Salah satu godaan yang beliau ceritakan adalah disaat beliau diminta oleh salah seorang staf pemerintah untuk membuat rubrik yang tidak sesuai dengan faktanya. Bahkan sebelum menulis beliau disodorkan uang puluhan juta untuk sebuah artikel yang diminta tersebut. Suami teman saya menolak hal itu. Beliau berkata,“Apapun yang saya tulis akan diminta pertanggungjawabannya. Bukan hanya di dunia, tapi di akhirat.”

Read More