Selasa, 17 Oktober 2017

Gaung Film My Generation, perlukah kita tonton film ini?


Film My Generation
Bismillahirrahmairrahiim
Assalamu'alaikum wr.wb.

Haaaiii.. pastinya temen-temen sudah banyak yang lihat akhir-akhir ini berseliweran trailer dan info tentang film My Generation. Nah... kali ini saya mencoba mengangkat opini saya tentang Film tersebut. Tapi sebelumnya silakan teman-teman lihat trailernya dulu yaa..



Hmm.. sudah lihat trailer komplitnya?
Untuk sebagian orang mengatakan, 
"Aaah.. biasa itu mah. Anak jaman sekarang dah banyak kayak gitu. Nggak ada yang aneh."

Namun sebagian lagi akan mengerenyitkan dahi dan bilang,
"Film apaan nih? Kok nggak sopan gitu sama orangtua? Bahasanya juga. Pakaiannya. Aduuuh, nggak layak tonton nih."

Sabaaar... sabaaar... kita lanjutkan yaaa baca tulisan saya.


Film ‘My Generation’ bercerita tentang persahabatan 4 anak SMU, Zeke, Konji, Suki dan Orly, yang diawali dengan gagalnya mereka pergi liburan karena video buatan mereka yang memprotes guru, sekolah, dan orang tua going viral di sekolah mereka. Hingga mereka dihukum tidak boleh pergi liburan. Tapi mereka terlalu keren untuk mengutuki keadaan dan membuat orang-orang yang sudah menghukum mereka puas. 

Liburan sekolah yang terkesan tidak istimewa, akhirnya justru membawa mereka pada kejadian-kejadian dan petualangan yang memberi pelajaran sangat berarti dalam kehidupan mereka. Keempat sahabat ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan konflik yang berbeda-beda pula.

Film My Generation

Begitulah sinopsis Film My Generation yang digaungkan di sosial media. Film ini diproduksi oleh IFI Sinema yang digarap cantik oleh sutradara Upi. Melihat nama sutradaranya tentunya kita tidak asing lagi dengan nama beliau. Ya Sutradara Upi adalah sutradara yang sukses dengan film box officenya My Stupid Boss. Selain itu Sutradara Upi pernah juga menggarap film-film remaja seperti 30 hari mencari cinta.
Film My Generation
Sutradara Upi
Ok, itulah sekilas info tentang Film My Generation. Melihat trailernya dan info-info yang bergrilya di media sosial tentang film ini, membuat saya penasaran untuk melihat full filmnya seperti apa. Loh, Mba Ade belum nonton? Ya Belum laaah.. Semua juga belum ada yang nonton. Karena memang filmnya baru akan tayang pada tanggal 9 November 2017 ini. Jadi kita masih disuguhkan trailer, sinopsis dan info-info seputar film dari sosial media IFI Sinema dengan akun Instagramnya @ifisinema dan Instagram khusus film ini, yaitu @mygeneration.

Sutradara perempuan berusia 45 tahun ini ingin memadukan antara aktor dan aktris pemula di dunia perfilman dengan aktor dan aktris senior pada film terbarunya. Malah salah satunya ada Joko Anwar yang kita kenal sebagai sutradara di film horor yang lagi in. Joko Anwar memang bukan orang baru dalam dunia perfilman, namun dia baru kali ini menjadi aktor dalam sebuah film.
Film My Generation
Upi bersama para pemain di Film My Generation saat pers confrence
Menurut sutradara Upi bahwa ia sengaja mengambil pemain-pemain baru dalam film My Generation ini, semata-mata untuk regenerasi dalam film Indonesia agar wajah-wajahnya semakin variatif. Bukan yang itu-itu saja yang tampil dilayar lebar.

Jika melihat trailer film bergenre remaja usia 13 - 21 tahun ini, saya tergelitik untuk menuliskan sedikit yang saya lihat dari trailer tersebut berdasarkan opini dan pendapat pribadi saya. Karena gaungnya di media sosial film My Generation ini bukan bagus untuk remaja saja tapi bagus untuk pembelajaran orangtua.

Ada beberapa catatan setelah saya melihat trailer film ini, yaitu : 

1. Realita Remaja
Berdasarkan konferensi pers yang dilaksanakan di Qubicle Center, Kebayoran Baru, Jakarta bahwa film ini adalah potret realita kehidupan remaja jaman millenials saat ini. Kalau istilahnya kids jaman now. Potret dimana mereka yang protes dengan sikap orangtua mereka. Hal tersebut digambarkan dengan diungkapkan isi kepala dari para remaja tersebut diawal trailer film ini.
Film My Generation

Mereka protes terhadap sikap orangtua mereka yang selalu menganggap mereka salah, melabeli mereka seenaknya, memaksa mereka untuk menjadi seperti ortunya, menuduh mereka melakukan hal-hal yang tidak baik dan menganggap ortu mereka pernah melakukan kenakalan dulunya, sehingga para ortu itu mencurigai segala perbuatan anaknya. Bahkan mereka sempat bilang bahwa terkadang ortu itu memberikan ide buat mereka menjadi nakal. Hmm...

2. Realita Orangtua
Peran orangtua yang digambarkan dalam trailer film ini adalah orangtua yang otoriter. Yang tidak mau intropeksi diri, suka membanding-bandingkan antara masa-masa remaja dirinya dengan anak-anaknya. Pokoknya tentang orangtua yang hanya ingin kesempurnaan, tanpa mau melihat kekurangan, kelebihan dan karakter anak-anaknya. Ibaratanya kalau jaman ploncoan masa kuliah saya dulu (nggak tau deh sekarang masih ada apa ga) ada 2 pasal atauran yang harus ditaati, yaitu :
Pasal 1 : Orangtua selalu benar
Pasal 2 : Jika orangtua salah lihat pasal 1

3. Gaya Hidup
Dalam trailer film My Generation terlihat sekali gaya hidup yang diambil oleh sutradra Upi adalah gaya hidup anak-anak metropolis. Anak-anak yang berasal dari keluarga middle up. Terlihat dari dimana mereka berkumpul, seperti : Setting rumah yang ada kolam renangnya, setting ruang makan dan dialog Suryo Saputro yang marah kepada anaknya lalu menyuruh pindah ke Singapura. Pastinya dengan settingan seperti itu, nggak mungkin dong yaa itu remaja kalangan menengah kebawah.
Film My Generation
salah satu setting tempat dalam film My Generation
4. Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan oleh aktor dan aktris juga menunjukkan bahwa mereka dari kota-kota besar atau gaya bahasa metropolis, yang suka mencampur-campurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.

5. Pesan yang ingin disampaikan
Menurut pengakuan Sutradara Upi bahwa film My Generation ini bukan sekedar menampilkan gaya hidup remaja millenials, melainkan ingin menyampaikan pesan tersirat bagi kehidupan keluarga. Baik itu pesan untuk para orangta ataupun para remaja.

Upi mengatakan jalan cerita film My Generation bisa saja dialami oleh siapapun. Di film ‘My Generation’ inilah, Upi ingin memberi realita lebih dekat tentang kehidupan generasi millenials sehingga dapat menjadi catatan penting dalam mengetahui karakter mereka yang sesungguhnya. Film ini juga sangat  menggambarkan generasi millenials yang sesungguhnya, sehingga dengan menyaksikan film ini, bagi mereka seperti aktivitas normal keseharian mereka.


Ok, itu beberapa catatan saya saat menonton trailer film My Generation. Dari catatan tersebut, inilah pendapat saya mengenai film My Generation.

Asli awal menonton trailernya, dahi saya agak nyureng. Trailer yang ditampilkan jauh dari sinopsis yang saya baca (oiya saya baca sinopsisnya terlebih dahulu, baru lihat trailernya). Yang buat saya nyureng, karena saya merasa ada yang aneh. Ternyata masih ada ya remaja-remaja kayak gini?

Saya sampai berulang-ulang memutar trailernya untuk sekedar memastikan, bener ya? Masih ada remaja-remaja seperti ini? Jika benar yang dikatakan Sutradara Upi bahwa ini realita dari hasil riset selama 2 tahun, jujur saya bingung dan bertanya, "ini risetnya dimana ya?"

Kenapa saya bilang "masih ada"?
Kenakalan remaja yang digambarkan dalam film My Generation itu sudah ada sejak jaman baheula. Saya merasa aneh jika itu dikatakan mewakili remaja millenials. Coba deh.. saya tanya sama pembaca, pasti ada kaaaan dijaman teman-teman menemukan kenakalan seperti ini? Clubbing, ngedrug, coret-coret mobil orang, sex bebas (ini yang tergambar dalam trailer yaaa).

Bahkan sampai karakter orangtua dalam film tersebut, juga menggambarkan parents jaman old. Yang otoriter, membanding-bandingkan jamannya dengan jaman anaknya, yang wajib nurut pilih profesi sesuai kemauan ortunya, dan langsung dibuang jauh ke negeri orang ketika melihat anaknya melakukan kenakalan. Wuuuiiih itu jaman remaja saya bangeeeet. Eh, ketauan deh old-nya deh ^_^

Bedanya remaja jaman old dengan remaja millenials seperti yang digambarkan pada film tersebut ada pada gaya bahasa. Remaja dalam trailer film ini lebih mudah mengata-ngatai orangtua dan guru dengan kata-kata kotor seperti T*I. 

Hmm.. 
Setau saya niih yaaa.. (tolong koreksi buat yang merasa jadi remaja millenials kalau saya salah menjabarkan karakter teman-teman.) Remaja millenials yang saya kenal itu kebanyakan aktif dan kreatif, walaupun mungkin dalam bentuk negatif sekalipun. Mereka kreatif, karena banyak remaja-remaja di era ini memanfaatkan sosial media sebagai sumber dana dan pencari nafkah mereka. Baik itu lewat Instagram, Youtube ataupun Blog. Bahkan Abang Fi yang hendak memasuki gerbang remaja pun bercita-cita untuk menjadi seorang Youtuber, seperti Miauaug, Bayu, dll.

Saya pernah mengajar anak-anak yang seumuran dengan karakter dalam film tersebut, dan kenyataannya, mereka anak-anak yang penuh dengan ide-ide kreatif. Saya malah banyak dapat ide tulisan dari murid-murid saya tersebut. Idenya itu lucu-lucu dan unik.

Yang lebih kagum lagi, anak-anak remaja jaman sekarang tuh justru banyak juga yang ilmu agamanya bisa diacungi jempol. Banyak yang berlomba-lomba menjadi hafiz dan hafizah. Jaman saya remaja dulu nggak sebanyak jaman sekarang. Senang melihat yang begini. 

Film My Generation
Saeful Aman, Hafiz usia 18 tahun dan menjadi Imam masjid di Jepang (photo taken by www.arah.com)
Kenyataan yang buruk, remaja millenials memang mudah depresi, karena dimanjanya dengan fasilitas. Jadi kemampuan lifeskill mereka kurang. Lebih banyak bullying dan keroyokan dalam berantem.  Empatinya kurang, karena kencendrungan fokus ke gadget.

Begitupun dengan para orangtuanya. Parents jaman Nows sudah lebih moderat. Sudah banyak yang open minded dengan pengasuhan kids jaman now. Karena jaman millenials ini banyak ilmu parenting yang tersebar dimanapun. Baik lewat seminar-seminar, broadcast messeges, searching google bahkan video mentoring di Youtube. Kenyataan buruknya banyak yang mengabaikan keluarga, karena lebih fokus dengan kesibukan mencari uang.

Jadi menurut saya, Film My Generation ini tidak bisa dikatakan mewakili remaja millenials atau parents jaman now. Mungkin memang ada yang seperti itu, tapi hanya segelintir orang. Atau hanya mewakili remaja-remaja dari kalangan menengah keatas (seusai setting tempat dan dialog yang digambarkan dalam film). Atau juga mewakili dari kalangan keluarga yang tidak mau belajar dan mencari ilmu dalam mendidik anak. Baik itu dari mendidik anak secara ilmu agama ataupun ilmu dunia. Dan itu seberapa banyak? Jika hanya segelintir orang (prosentasenya dibawah angka 50%) tidak bisa dikatakan mewakili.

Saya malah akan mengatakan setuju jika ini mewakili remaja jaman old. Jadi kalau saya lihat dari kacamata saya, Sutradara Upi justru menggambarkan realita remaja dijamannya, bukan jaman era ini. Hanya saja menggunakan media-media jaman sekarang. Gambaran-gambaran remaja yang disajikan dalam film ini pun bukan budaya timur, melainkan budaya barat, sesuai gaya hidup sang sutradara. Kok tau mba? Iya.. saya begitu nonton trailernya, langsung cari tau siapa Upi dan bagaimana film-film garapannya.

Untuk target penonton, jika target penonton yang dituju remaja, kok saya khawatir pesan tidak sampai yaaa.. target penonton film ini lebih cocok ditujukan kepada orangtua. Orangtua harus lebih banyak belajar bagaimana sikap kita dalam menghadapi anak-anak kita agar tidak seperti yang dikeluhkan 4 sahabat dalam film tersebut.

Kalau saya sih banyak berdoa dari sekarang dijauhkan mendapat anak seperti itu, karena saya percaya dengan kekuatan doa. Doa sanggup mengubah takdir buruk menjadi baik. Itu janji Allah. Apalagi doa orangtua itu mustajab, itupun janji Rasulullah.

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi. (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Hellooooo... De...Ini baru trailer loooh, belum film utuh. Hmm... iya juga sih. Ini baru tariler. Tapi kok saya susah ya untuk berpikir positif bahwa film ini memang bagus untuk remaja. Ya semoga saja didalam isi cerita full-nya ada pesan tersirat sesuai dengan keinginan sutradara.

Saya tidak mengatakan film ini salah, nggak bagus, dll. Kenyataan walau hanya segelintir tetap harus kita akui bahwa itu ada. Jadi saran saya, bagi para orangtua silakan jika ingin menonton secara utuh film ini untuk pembelajaran. Allah menyebar ilmu bagi manusia dimanapun, tergantung dari kemauan kita, untuk mengambilnya atau tidak.

Buat teman-teman remaja, jika kalian ingin menonton sendiri dan berharap orangtua akan mengerti kemauan teman-teman, saya rasa nggak akan dapat hasilnya. Jika kita ingin didengarkan apa kemauan kita, saat menonton film ini sebaiknya ajak orangtua kita. Buat diskusi cantik dan mesra setelah nonton film ini.

Aaah.. mana mau bokap nyokap nonton film ini, Mbaaa.. 
Aaah.. palingan dicuekin, Mbaaa..

Kalau tidak ada orangtua yang mendampingi, lebih baik tidak perlu nonton film ini. Bukannya saya sok ngatur kemauan remaja atay melarang. Saya bilang boleh kok nonton, tapi perlu didampingi sama orang yang ingin kalian sampaikan pesannya. Biar ga jadi percuma.

Film ini seolah mengajarkan anak-anak remaja untuk berani mengungkapkan pendapatnya, tapi dengan cara yang tidak sopan. Kita orang timur, orang timur lebih menghargai orangtua. Keseponan dan kesantunan tetap harus dijaga. Mengungkapkan pendapat silakan, tapi tetap dengan cara sopan. Ga semena-mena mengatakan T** sama orangtua atau guru.

Itu sebabnya saya tidak menyarankan remaja menonton sendiri tanpa pendamping orangtua kalian. Pesan keharmonisan tidak akan sampai jika tidak ditonton bersama. 

Saya tekankan sekali lagi, tulisan saya ini tidak mewakili siapapun, ini berdasarkan pengamatan dan pendapat pribadi saya sendiri. Saya hanya berusaha menjaga akhlak generasi masa depan. Karena saya guru dan juga orangtua. Jika menurut beberapa orang berbeda dengan pendapat saya, ya silakan. Itu hak kalian. Saya pun tidak protes. Perbedaan adalah penyedap dalam kehidupan kita untuk mendapat masakan yang pas dan enak. ^_^

Semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi yang membaca yaa 

Wassalam

29 komentar:

  1. Aku ga sabar nih mba buat nunggu filmnya....

    BalasHapus
  2. perlu ditonton agat ortu tak gagap saat perilaku anak berubah ajaib. Film ini bisa jadi kaca yg memantulkan bagaimana sikap ortu pads anaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Targetnya memang buat org dewasa seharusnya bukan remaja ^_^ khawatir ada remaja yang nonton sendirian lalu pesannya malah ga sampai dan malah jadi makin buruk. -_-

      Hapus
  3. Film ini risetnya lumayan lama ya, Mbak Ufi.
    Makanya, Mbak Upi memang mengangkat sesuai realita apa yang terjadi di dunia remaja sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya semoga saja riset yg dilakukan benar2 seperti yg dikatakan. ^_^

      Hapus
  4. Film yang bikin penasaran saking banyaknya nongol d TL wkwk ternyata mengisahkan persahabatan to. Dengan sutradara masih berusia 45 film ini layak menjadi bahan buat mendekatkan juga antara anak dan ortunya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga pesan itu benar2 sampai ya, feb ^_^

      Hapus
  5. film yg sempat bikin pro dan kontra
    makhlum aja, blogger jg org tua
    tapi itu tandanya masyarakat makin selektif dan peka
    mudah2an bisa mengambil pelajaran berharga dr film ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul.. tidak asal ikut2an trend. Semoga saat menonton fullnya juga demikian. ^_^

      Hapus
  6. Waah waah.. Baru trailernya aja udah seru ya? Banyak hal yg menarik yg bisa kita lihat, bahkan dengan wajah segar para pemainnya yang merupakan pendatang baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga pesan filmnya juga sampai dengan poaitif di mata penonton ya, mba ^_^

      Hapus
  7. riset ny aja udh lama, pasti ngena banget ini film nya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaa.. dari trailernya aja dah menuai pro kontra ya.. sukses berarti. Kalau menurut saya loooh ^_^

      Hapus
  8. Mba Ade, terima kasih sudah mengingatkan tentang kekuatan doa dari orangtua untuk anak-anaknya, semoga anak-anak kita nantinya menjadi generasi yang lebih baik dari orangtuanya.. Aamiin

    Btw mba, film2 dari mba upik memang selalu banyak pesan moralnya, aku nonton film2 sebelumnya, jadi tambah penasaran nih sama film terbarunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mba elly.. saya juga suka dengan film 30 hari mencari cinta. ^_^

      Hapus
  9. Bagus ni kalau anak sama ortu nonton bareng terus duduk bareng juga. Biar ga ada miss dalam penyampaian pesan film ini ya mbak ade.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tujuannya agar orangtua mengerti perasaan anaknya.. ya harusnya didampingi ortunya. Agar masing2 bisa saling menyampaikan keluhannya dan terjalin komunikasi indah diakhir. Asalkan bisa sama2 menurunkan ego masing2, baik ortu ataupun anak. ^_^

      Hapus
  10. Aku mungkin ambil riset di sekolah yg berlatar agama di Jakarta, di depan Suster, di depan Umi sebutan untuk guru manis. Latar belakang ortu juga agamis, ceki IG nya mengcover anak yg broken home. Itu buuuaanyyakkk dan di depan mata aku sendiri. Kadang tengah malem mereka inbox galau, gila deg2an mau ujian krna gak suka mata kuliahnya dll. Itu banyak jd memang ada. Gak bisa dibilang kurang atau lebih dari 50%. Tapi bagian keluarga yg nampak bahagia padahal kacau buanyak. Kenapa aku gak ngajar lagi aku setuju krna sekolah boring. Yang berprestasi seperti yg diungkapkan juga banyak. Jadi supaya gak tabu atau semacam aib yg di tutupi klo remaja masih byk yg menyimpang. Ekh panjang.

    Nice opini mba aku suka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. ga papa panjang. Namanya pendapat kan tidak harus selalu sama. Karena kita masih nonton trailernya. Jadi ya seperti itulah pendapat saya. Mungkin bisa jadi beda atauungkin juga tetap sama jika saya lihat full filmnya ^_^

      Hapus
  11. Wah, sang sutradara mbak Upi udah reset 2 tahun nih persiapan bikin film My Generation. Zaman sekarang anak2nya itu kan generasi Z. Inovatif, kreatif, spontan dan berpikir cepat untuk menghasilkan sesuatu yg berbeda. Kalau nonton film ini kita mesti nemenin nih soalnya pakaian2nya agak terbuka ala kebebasan masa kini hihihi 😀😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakaian terbuja sih sudah ada dr jaman Rasulullah. Dan itu salah satu yg ade bilang bukan mewakili kids jaman now. Banyak kok kid jaman now yg pakaiannya tertutup aurat. Itu mewakili kids barat sana bukan indonesia.

      Hapus
  12. Mbak ade, review yang bermanfaat banget. Tapi bener, mbak, masalah remaja jaman dulu dan sekarang pasti sama aja sih. Yang berbeda itu karakter remajanya ya. Bagus banget ortu yang punya anak remana baca blog ini

    BalasHapus
  13. Tapi jadi kayak agak sinetron ya karena yg diangkat anak2 middle up. Dari dulu film seperti ini selalu yg diangkat anak2 middle up. Jadi ingat film "buruan cium gue" yg pernah dikritik. Kira2 sutradara mau ngangkat dari kalangan bawah gak ya? Walaupun anak2 dari orangtua pas2an tapi banyak jg yg kejadian hamil di luar nikah.

    BalasHapus
  14. Setelah baca pemaparan mba Ade fix deh, sebagai ibu tiga abg millenial, aku harus nonton film ini bareng anak, penasaran..

    BalasHapus
  15. Aaaah Mba Upi ini kalo bikin film selalu tampak keyeeeen.. Orangnya pun juga kece.. :D Penasaran juga nih gara-gara berseliweran promo film ini di medsos. Tiap zaman memang ada aja perilaku negatif di kalangan remajanya ya mba.. Tapi anak-anak muda yang membanggakan dan jadi diri mereka sendiri dalam hal positif juga banyak banget. :)

    BalasHapus
  16. Waw lengkap tulisannya mbak Ade.
    Sayang ya kita belum nonton filmnya jd gak bisa kasi review lengkap.
    Cuma emang kalau dari baca2 film ini tu diharapkan mampu membuka mata ortu. Jd semoga bisa jd tontonan utk remaja dan ortu, trus pulang nonton mereka bisa bicara dari hati ke hati gtu yaaaaa

    BalasHapus
  17. Sedikit nonton tailernya, cuma bs bilang semoga anak2 kita tdk seperti itu ya mba. Mana anak2ku masih pd piyik, PR bgt ni sbg ortu baru buatku.

    Aku jd penasaran sm film ya, secara tiap 4hari ngadepin anak2 remaja beranjak dewasa di sekolah, yg ampun deh beda bgt terutama dr akhlak dan etika nya kalau menghadapi org dewasa (gurunya).

    BalasHapus
  18. Pernah nonton 30 Hari Mencari Cinta dan suka. Jadi pengen nonton yang ini.

    BalasHapus
  19. Karena memang belum nonton film-nya, dunno what to say bout this film. Tapi jujur dari trailer-nya kalau saya nggak tertarik untuk nonton dan nggak menyarankan 2 sepupu remaja saya untuk nonton. Alhamdulillah adik2 saya ga ngaruh tuh rame2 ttg film ini. Selera mereka memang yg sejenis Negeri 5 Menara, Laskar Pelangi, dan lainnya sih.

    BalasHapus

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^