Mempesona Itu menjadi seorang ibu yang dimuliakan dan dicintai anak-anaknya

April 10, 2017

www.adeufi.com


Pernah dengar kisah 2 orang kakak beradik di Saudi Arabia yang berseteru memperebutkan hak hingga ke pengadilan. Di pengadilan tersebut, berdiri si Kakak dengan air mata yg bercucuran hingga membasahi janggutnya. Kenapa? Karena ia kalah terhadap perseteruannya dengan saudara kandungnya dipengadilan Tentang apakah perseteruannya dengan saudaranya? Tentang tanah? atau warisan yg mereka saling perebutkan?

Bukan karena itu semua.



Ia kalah terhadap saudaranya terkait pemeliharaan ibunya yang sudah tua renta, bahkan hanya memakai sebuah cincin timah di jarinya yg telah keriput. Seumur hidup sang ibu, beliau tinggal bersama Si Kakak. Takala Ibu semakin tua, datang sang adik yang tinggal diluar kota, untuk meminta Ibunya tinggal bersamanya. Dengan tujuan fasilitas kesehatan dan keperluan lainnya, di kota jauh lebih lengkap daripada tempat kakaknya tinggal. Hakim pengadilan memutuskan hak kepada Si Adik berdasarkan pertimbangan kemaslahatan bagi si Ibu. Menangislah si Kakak mendengar keputusan hakim.

Membaca cerita tersebut membuat hati saya teriris pilu dan menangis haru. Betapa terhormat dan agungnya sang ibu diperebutkan oleh anak-anaknya hingga seperti ini. Tidak terbayang oleh saya, bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya hingga ia menjadi ratu dan mutiara termahal bagi anak-anaknya?

Siapa yang tak ingin menjadi wanita seperti ibu kakak beradik tersebut. Wanita seperti itulah yang membuat saya terpesona. Ya.. Mempesona itu adalah ketika kita menjadi seorang ibu yang dimuliakan dan dicintai anak-anaknya hingga akhir hayat.

Karena berprofesi (ya saya bilang ini adalah profesi) seorang ibu seperti itu bukan hal yang mudah. Untuk mendapatkan gelar Ibu saja butuh proses penyeleksian yang ketat, yaitu :

1. Menikah
Ya untuk menjadi seorang ibu, wanita perlu menikah terlebih dahulu. Agar kunjungan sperma ke sel telur dalam rahim itu menjadi halal. Di Indonesia yang masih kental dengan budaya timurnya, belum bisa menerima dengan baik seorang ibu yang tidak melewati proses ini. Bukan sekedar budaya Timur, tapi dari agama manapun, masih menolak predikat Ibu tanpa proses menikah. Beda halnya dengan anak angkat atau anak dari hasil perkosaan.
Foto diambil dari : http://citraindonesia.com


2. Hamil
Proses ini adalah proses yang paling menyakitkan bagi calon ibu secara fisik. Sakit pinggang, membawa beban berat minimal 10 kg kemanapun calon ibu itu pergi, tubuh yang membengkak, belum lagi jika terdeteksi punya kelainan. Tapi apakah mereka tersiksa? Tidak. Batin mereka justru bahagia. Sehingga proses 9 bulan 10 hari tak dirasakan sebagai derita fisik bagi para calon ibu. Melainkan hati bahagia tak terkira menanti kehadiran si buah hati.

Foto diambil dari : http://duromine-30mg.com


3. Melahirkan
Proses ini adalah proses tersulit bagi wanita untuk mendapat gelar ibu. Karena tidak semua wanita sanggup melewatinya. Para calon ibu itu mempertaruhkan nyawanya di meja persalinan dan menitipkannya ditangan dokter atau bidan. Mereka harus menahan sakit luar biasa atau terbelah perutnya oleh pisau bedah dokter, hanya demi menyelamatkan seorang manusia kecil untuk menghirup udara baru di ruangan bernama dunia.


Foto diambil dari : http://thestir.cafemom.com


Setelah melewati 3 proses penyeleksian tersebut, barulah seorang wanita mendapat gelar sebagai seorang IBU.

Apakah setelah menyandang profesi ibu, kita bisa dengan mudah mendapat perlakuan yang mulia seperti kisah ibu kakak beradik itu?
Jawabannya kita tak pernah tahu. Siapa yang tak mengenal Malin Kundang, dongeng klasik dari Sumatera Barat. Dongeng tersebut membuktikan hasil akhir yang bertentangan jauh dengan cerita diatas. Begitu pun beberapa berita di Indonesia yang pernah saya baca, tentang seorang nenek tua renta yang dituntut anaknya ke pengadilan karena punya hutang atau tidak adil dalam berbagi harta waris.

Lalu adakah cara agar kita bisa menjadi wanita Mempesona?
Insya Allah pasti bisa.

Orangtua saya, terutama mama, tidak pernah menuntut anak-anaknya harus begini atau begitu.Beliau menjalankan profesi ibu sesuai job description-nya. Merawat kami, memberi makan kami, menemani kami belajar, dan masih banyak lagi yang lainnya. Beliau tidak pernah mengeluh. Bahkan saat sakit pun beliau tidak mengeluh sakitnya. Lebih banyak diam. Karena prinsip kedua orangtua saya, yang juga sudah ditanamkan oleh orangtua mereka juga, berusaha sebisa mungkin untuk tidak merepotkan anak-anaknya jika mereka tua kelak.

Papa mengajarkan anak-anaknya untuk selalu menyisipkan doa permintaan kepada Allah agar kelak saat kami menjadi orangtua tidak menyusahkan anak cucu kami. Kami hanya disuruh bergantung, meminta, dan merengek-rengek kepada Allah semata. Karena menurut beliau, hanya dari Allah-lah segala sesuatu yang kita butuhkan akan diberikan. Beliau bukan sekedar memeberi nasehat dalam ucapan, melainkan perbuatan. Karena hingga saat ini kedua orangtua saya tak ada sedikitpun meminta-minta kepada kami.

Baca juga : Kita orangtua yang mana ya?

Penanaman ilmu agama, bagaimana kita harus mencintai orangtua, juga ditanam kepada saya. Selain itu banyak hal-hal lainnya yang membuat saya terkagum-kagum dengan mereka. Saya terpesona dengan didikan-didikan mereka. Saya mencoba menerapkan itu kepada anak-anak saya. Saya tidak berharap tinggi dari anak-anak saya. Saya hanya ingin menjadi wanita mempesona yang dimuliakan dan dicintai anak-anak saya, sebagaimana saya memuliakan dan mencintai kedua orangtua saya, terutama mama.

Bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan oleh Allah adalah modal utama kita untuk menjadi wanita mempesona. Jalani semua tanpa pamrih. Ceritakan kekhawatiran-khawatiran kita akan masa depan anak-anak kita kepada yang menciptakan mereka dan menitipkannya kepada kita. Minta kepada Allah agar menjadikan kita, seorang ibu yang tidak menyusahkan anak-anak kita kelak.

Semoga kita menjadi salah satu wanita mempesona. ^_^

Wassalam


You Might Also Like

11 komentar

  1. ini bener bangettt..setujuu... anak2 adalah penyejuk hati dan penyenang mata..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mba ade. Mereka hadir bukan utk jd pegawai kita, tapi penyajuk hati kita.

      Hapus
  2. Sungguh beruntung y mba Ibu itu, jleb banget baca berita yang kaka adik itu. Betapa mulianya seorang ibu dan aku termasuk bersyukur sudah mendapatkan amanah dan menjalankan jobdesc sbg IBU :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget, Mba... seperti ditampar baca cerita itu T_T

      Hapus
  3. Selalu menangis kalo membaca cerita mengenai ibu. Keinget ortu sendiri yang belum bisa kami bahagian. Makasih sharingnya Mbak. Semoga kita-kita bisa menjadi ibu yang dimuliakan.

    BalasHapus
  4. Seorang ibu memang salah satu yang disebut #MemesonaItu apalagi oleh anak2nya ya...

    BalasHapus
  5. Pengen nangis bacanya! Karna aku besar dari keluarga yang bercerai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi kalau single parents, Mba peran Ibu bertambah sebagai peran Ayah juga. Semoga Mba Fitri jadi anak yang sholehah buat ibu mba ya ^_^

      Hapus
  6. Wow baca pertama sudh dikejutkan oleh cerita adek kakak yg sangat menghargai ibunya,bener bgt tuh ibu harus dimuliakan. Dan semoga kita bisa juga jadi ibu yg memesona di mata anak dan suami ya mbak

    BalasHapus

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^

Popular Posts

My Instagram

Jadwal Sholat

jadwal-sholat