Senin, 26 Desember 2016

Beauty and Azis (cerpen)





Cerita ini masuk kedalam finalis lomba cerpen romantis yang dibukukan oleh Diva Press.

Tapi ini versi full, tanpa editing potong halaman dan editing dari editor. Jadi yaaa kalau masih ada yang salah-salah penulisan, mohon dimaklumi. ^_^
  
bukuku yang memuat cerpen beauty and azis


Elang melempar tas ranselnya ke atas kasur. Ia duduk di depan cermin sambil memperhatikan wajahnya. lalu taklama kemudian ia mencari majalah yang tadi pagi ia beli. Ia sobek salah satu halaman majalah tersebut. Dan sobekannya ia tempel pada cermin dihadapannya. Kini ia membandingkan wajah artis yang ada dalam sobekan majalah tersebut dengan wajahnya di cermin."Memang bagai pinang dibelah dua" pikirnya dalam hati.


Sejenak pikirannya kembali beberapa jam yang lalu, saat ia sedang makan siang bersama teman-temannya.
"Mas Azis, boleh foto bareng?" tiba-tiba seorang ibu-ibu menghampirinya. Elang hanya tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya. "Ternyata badan mas Azis tidak seperti yang di TV ya.?? Di TV perut mas terlihat agak buncit" lanjut ibu-ibu itu setelah berfoto dengannya.

"Memang yang aslinya seperti apa, bu?" tanya Elang

"Seterek, Mas.. Softex gitu loh, mas.."

"Six pack maksud ibu?"

"Iya.. iya... itu maksud saya.. salah ya saya, Mas.."

Sekali lagi Elang tersenyum. "Mas Azis, sebenernya aku ingin lama-lama ngobrol sama mas Azis, tapi sudah di tunggu suami... saya pamit dulu ya, Mas... terima kasih fotonya"

"Silakan, Bu"

Seperginya ibu-ibu tadi, seluruh teman Elang melepas tawanya yang sejak tadi mereka tahan.
"Hahahaha... Emang udah nasib lo, Lang... Punya muka mirip Azis gagap... Bedanya cuma di rejeki doang... " ledek Dika temannya yang memang punya hobi mencela orang,

"Ya... doain aja rejeki gue kayak Azis gagap. Tapi mending gue deh gini-gini gue banyak dapet peran utama, daripada Kevin... nama sih boleh kebarat-baratan dan wajah gantengnya kayak Dude Herlino, tapi tetep aja selalu kebagian ngisi suara orang culun, maling yang digebukin, yaaah yang nggak jauh dari itu deh.." semua tertawa mendengar celotehan Elang.

"Rese lo..." Canda siang itu diakhiri dengan timpukan tisu dari Kevin ke Elang.

Sekali lagi Elang menatap wajahnya di cermin. Ia memang bercita-cita menjadi artis dan keinginannya terwujud. Walaupun sebagai artis pengisi suara drama asia. Berhubung ia tidak pandai melawak seperti Azis gagap, maka suaranya yang berat namun lembut selalu menjadi modal utamanya untuk mengisi tokoh pria yang tampan di film drama tersebut. Selain itu, ia juga berprofesi sebagai penyiar di salah satu stasiun radio.

Nama Elang memang sudah terkenal, tapi untuk kalangan tertentu. Dan rata-rata penggemarnya, terutama yang wanita, suka dengan suaranya, tapi tidak dengan wajahnya. Kebanyakan mereka kecewa begitu melihat aslinya.

Begitu juga dalam urusan cinta, Elang tidak seberuntung Azis gagap yang memiliki 2 istri. Sejak masa SMA dulu ia selalu ditolak wanita yang ia sukai. Namun kini ia beruntung karena sudah memiliki seorang kekasih.Cantik pula. Seseorang yang begitu tulus ia sayangi.

Diambilnya foto wanita cantik berambut panjang sebahu. Foto yang ia pajang tak jauh dari cermin dihadapannya. Wanita yang telah menjadi kekasihnya selama setahun ini. Wanita yang menerima cintanya karena kedua matanya buta. Dan selama setahun bersama Siska, kekasih hatinya, ia menggunakan nama dan wajah Kevin saat ia mendeskripsikan wajahnya. Karena Siska sangat tidak menyukai Azis gagap. Entah kenapa, Siska begitu benci dengan Azis gagap. Menurutnya Azis gagap bukan tipenya. Itu pula sebabnya jika Siska mengajaknya berkenalan dengan keluarganya, Elang selalu menghindar.

Elang menghela nafas berat. Rasanya sebentar lagi kisah cintanya pun akan berakhir. Hatinya sakit. Kepalanya tak sanggup berpikir lagi harus bagaimana ia mempertahankan cintanya. Jantungnya terasa berhenti saat Siska berkata,"Mas, Alhamdulillah.. Dokter Ardi menemukan donor kornea mata untuk operasi mataku. Dan lusa aku akan dioperasi.. Akhirnya aku dapat melihat wajahmu, Mas"
****

Dengan pandagan kabur Siska membuka matanya perlahan-lahan. Jantungnya berdebar-debar. Satu per satu dipandangi wajah orang-orang di sekitarnya. Tak ada yang asing dari pandangan matanya. Seluruh keluarganya berkumpul. Mama, Papa, Dwi adiknya, seorang suster dan seorang pria yang memakai jas putih, yang tak lain adalah dokter Ardi.

"Kamu bisa melihat kami, Nak?" tanya mama dengan wajah cemas. Siska mengangguk. Akhirnya semua pun tersenyum bahagia melihat keberhasilan operasi mata Siska. Namun mama menangkap mata Siksa yang sedang mencari sesuatu. "Kamu mencari siapa, Nak?" tanya mama lembut, seperginya papa dan dokter Ardi.

"Mas Kevin, Ma... kok dia tidak datang?"

"Kevin siapa? Pacar kamu?" tanya mama lagi. Siska mengangguk.

"Tadi sih ada seorang pria, mukanya mirip banget sama Azis gagap datang kemari, membawa bunga untukmu. Lalu dia pergi, katanya sih ada kerjaan lagi. Tapi bukan dia kan yang kamu maksud??" tanya mama.

"Iya, Kak... Lagian kakak kan benci banget sama Azis gagap, tapi kalo rejekinya kayak Azis gagap sih nggak pa pa deh... hehehe" ledek Dwi cengar-cengir.

"Masa sih? Hmm... dompet aku mana?" tanya Siska lagi sambil mencari-cari tasnya.

"Ini.." ujar mama seraya memberikan tas yang dicari Siska. Siska mengambil dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto. Foto yang diberikan oleh Kevin, kekasih hatinya. Siska tersenyum bangga memandang foto tersebut.

"Yang ini, Ma kekasihku..." ucap Siska sambil menunjukkan foto yang ia keluarkan dari dompetnya.

"Wah kalau ini mah ganteng, Sis... Yang dateng tadi bukan yang ini... Pokoknya kayak Azis gagap banget deh. sampai ke rambut-rambutnya juga mirip, cuma dia gak di warnai aja jambulnya. Sudah ah, lebih baik kamu istirahat saja dulu, kamu kan baru saja dioperasi, tentunya lelah. Mama dan Dwi makan siang dulu ya.. Ga pa pa kan ditinggal sendiri?"

"Ngga pa pa, Ma" ujar Siska. Ia menghela nafas berat, sepeninggalan mama dan Dwi.  Ia kecewa, karena moment yang di nanti-nanti untuk melihat wajah Kevin, saat pertama kali matanya terbuka, tidak kesampaian.

Taklama kemudian terdegar lagu Angel - Sarah Mclahan dari dalam tasnya. Segera Siska mengambil handphonenya yang mengeluarkan nada dering tersebut. Nada dering yang mengalunkan lagu kenangan Siska dan Kevin. Handphone itu pun pemberian dari Kevin, yang hanya ia gunakan untuk menerima telepon darinya.

"Halo, Mas... Kenapa nggak Datang?" tanya Siska yang masih duduk di atas kasur.

Dibalik pintu kamar Siska, Elang menjawab," Maaf, Sayang.. aku lagi ada panggilan dubber dadakan nih, karena mau tayang besok, Tapi operasi kamu berhasil kan?". Ia menjawab telepon sambil sesekali matanya mengintip wajah Siska dari kaca pintu kamar tersebut.

"Alhamdulillah sudah, Mas..."

"Alhamdulillah...Bungaku sampai kan?"

"Iya, mas.. Untung waktu orang yang mengantar bungamu datang, perban mataku belum dibuka. Habis kata mama dan Dwi mirip Azis gagap. Mas Kevin kan tau kalau aku alergi dengan Azis gagap." Hati Elang makin sakit mendengar perkataan Siska. "Tapi aku suka bunga pemberianmu... Indah..Aku jadi tidak sabar ingin bertemu denganmu, Mas..."

"Insya Allah, nanti ya... Sekarang aku kerja dulu" ujar Elang mengakhiri pembicaraannya dengan Siska. Sebelum ia pergi, ia mengintip sekali lagi kedalam kamar Siska melalui kaca pintu. "Sepertinya aku tidak mungkin bertemu denganmu lagi" batinnya dalam hati.
****

Siska berdiri dengan gelisah. Saputangan berwarna biru dengan ukiran nama diujungnya, ia genggam erat-erat. Sudah hampir sebulan lebih ia tidak sedikitpun mendengar kabar tentang Kevin. Ia bagai ditelan bumi. Telepon terakhirnya adalah saat Siska baru saja menyelesaikan operasi matanya. Karena rasa ingiin tahunya yang besar, selama seminggu terakhir ini, ia mencari-cari alamat tempat kerja Kevin. Dan kini ia sudah berada di lobi kantor Kevin menunggu  kedatangan kekasih hatinya.

Di genggaman tangannya ia memegang saputangan yang diujungnya ia sulam nama Kevin. Saputangan dengan warna biru kesukaan Kevin. Kevin pernah bilang bahwa jika mata Siska mampu melihat, ia ingin disulamkan namanya diatas sebuah saputangan. Karena ia tau Siska pandai menyulam sebelum kecelakaan merusak matanya.

Jam 17.15. "Sebentar lagi mas Kevin pasti keluar" batin Siska. Menurut satpam yang bekerja di kantor itu, para dubber selesai jam 17.00.

Ting... bunyi pintu lift terbuka. Matanya sempat terpana dan segera ia palingkan saat melihat orang pertama yang keluar dari lift mirip sekali dengan Azis gagap. Dan orang tersebut yang semula tertawa dengan temannya, tiba-tiba tawanya terhenti namun matanya tak henti memperhatikan Siska juga saputangan yang dipegang oleh Siska. Akan tetapi Siska tak peduli dengannya. Matanya sibuk mencari wajah yang mirip dengan foto yang diberikan oleh Kevin kepada Siska. Hingga orang di dalam lift keluar semua, Siska tak menemukan wajah orang yang dicarinya.

"Cari siapa, Mba?" tiba-tiba seorang pria menyapanya.

"Teman" jawab Siska seadanya. Matanya tak berkedip menatap angka pada pintu lift tersebut.

"Kalau saya boleh tau, namanya siapa ya, Mba? Mungkin saya bisa bantu. Oiya, Nama saya Dika.. Mba?" ujar Dika sambil  mengulurkan tangannya.

"Siska," jawab Siska membalas uluran tangan Dika,"Saya mencari Kevin.." lanjut Siska menjawab pertanyaan Dika.

"O.. Kevin tadi pulang lebih dulu.. Ada keperluan sepertinya. Ada yang ingin disampaikan, Mba?" tanya Dika lagi

"Tidak usah... Terima kasih... Besok saya akan kemari lagi" ucap Siska kecewa. Ia pergi meninggalkan kantor tersebut dengan langkah gontai.
****

"Vin... Pleaseee.. gue minta lo jadi gue sebulan aja... habis itu lo boleh putusin dia... tapi baik-baik ya... Pleaseee.... Kemarin aja gue sempet nyuruh Dika biar ga ketemu lo dulu" mohon Elang kepada Kevin. Seribu cara digunakan Elang seharian untuk merayu Kevin agar mau menggantikan dirinya.

"Gue tuh, heran deh sama lo... kenapa ga jujur aja sih? Kalo emang dia tulus mencintai lo dia terima lo apa adanya." ujar Kevin kesal.

"Gue takut dia kecewa, Vin... lagian dia alergi dengan Azis gagap" ujar Elang sambil menundukkan kepalanya. Sebetulnya Kevin juga tak tega mendengar kisah Elang dan melihat kesedihan dimata sahabatnya. Disaat Elang mulai menemukan cintanya, ia dihadapkan lagi dengan kenyataan akan ditolak cintanya untuk kesekian kali. Akhirnya Kevin pun menyanggupi dengan syarat hanya sebulan. Dengan suka cita Elang menyambut kesediaan Kevin. Ia pun langsung menyusun strategi untuk Kevin dengan menceritakan segala hal tentang Siska.
****

Siska tidak mengerti dengan perasaannya kini. Entah ia harus bahagia atau..... Awal perjumpaannya dengan Kevin membuat hatinya berdebar-debar, seperti layaknya orang yang baru pertama kali jatuh cinta. Namun setelah hampir 3 minggu ia jalan bareng bersama Kevin, ia merasakan ada yang tak terisi dalam hatinya. Ia merasakan banyak perubahan pada diri Kevin. Seolah ia seperti bersama orang lain bukan bersama kekasih hatinya.

Kevin yang ia kenal orangnya sangat hangat, ceria dan menyenangkan. Kevin yang ia kenal selalu membuatnya terasa nyaman. Sedangkan Kevin yang sekarang terkesan kaku. Seperti ada tembok penghalang diantara mereka. Kevin yang dulu selalu bilang, "Cinta datang dari kenyamanan hati, bukan fisik" saat Siska merasa minder dengan kebutaannya saat itu. tapi yang sekarang, selalu mengagungkan kehebatan fisik. Satu lagi yang membuat Siska merasa janggal, suara Kevin tidak seperti suara pria yang selalu ia rindukan setiap malam, suaranya seperti orang kecekik. Walau demikian Siska berusaha membawa dirinya untuk nyaman bersama Kevin.
****

"Maaf, Lang... sepertinya gue jatuh cinta dengan Siska" ujar Kevin nyaris tak terdengar. Telinga Elang bagai tersambar petir mendengar ucapan Kevin.

"Gue kan nggak minta lo untuk jatuh cinta sama dia" ujar Elang sambil menahan amarahnya.

"Ini semua salah lo, Lang... seandainya lo nggak memohon-mohon sama gue untuk kenal dengan Siska, tidak akan timbul perasaan ini. Maaf, Lang.. ini tumbuh dengan sendirinya.." Elang terdiam. Panas membara dalam hati bergejolak meronta ingin keluar. Ia marah pada kebodohannya sendiri. Namun di satu sisi, ia tak mau Siska kecewa. Elang begitu mencintainya.

"Jika memang hal tersebut membahagiakannya, aku rela... jaga dia baik-baik" dengan berat hati Elang mengucapkan kata-kata tersebut. Ia pun melangkah dengan gontai meninggalkan Kevin, tanpa sedikit pun memberikan kesempatan Kevin untuk bicara.
****

Siska berteriak sambil terus mengejar copet yang merampas tasnya. Saat itu ia memang sedang menunggu kedatangan Kevin di Stasiun Gambir. Namun Siska tak sanggup lagi mengejar pencopet tersebut. Ia memutuskan untuk pergi ke kantor security melaporkan kehilangan tasnya.

Setibanya dikantor tersebut, Siska dipersilahkan duduk di salah satu meja. Disana ia melihat ada beberapa meja yang berisi orang-orang yang mungkin juga kehilangan seperti dirinya.

Salah seorang security mempersilahkan Siska untuk duduk. Saat petugas keamanaan tersebut sedang memeprsiapkan file laporan untuk Siska, Siska mendengar suara yang sangat familiar di telinganya di sebelah mejanya yang tesekat dengan dinding gypsum setinggi pundaknya.

"Baik apa yang kehilangan, Pak?" tanya security tersebut kepada orang disebelahnya.

"Jam Tangan saya, Pak... Ditali jam tersebut ada ukiran tulisan dengan huruf braille"

Jantung Siska terasa berhenti mendengar suara pelapor disamping mejanya. Suara itu... Suara yang ia selama setahun selalu ia rindukan setiap malamnya. Suara yang begitu menggetarkan hatinya. Dan jam tangan yang dibicarakan orang tersebut, sama dengan jam tangan pemberian Siska untuk Kevin.

Siska perlahan memberanikan diri untuk berdiri dan melihat wajah orang tersebut. "Mas Kevin?" panggil Siska. Elang langsung menoleh ke arah suara yang sangat ia kenal. Ia kaget bukan kepalang, saat ia melihat wajah orang yang memanggil nama Kevin kepadanya. Begitu pun dengan Siska, ia tak menyangka si pemilik suara tersebut, wajahnya mirip sekali dengan Azis gagap. Orang yang sempat ia lihat saat ia berdiri di depan pintu lift untuk menunggu Kevin.

"Pak, saya batalkan laporan saya" ujar Elang langsung berdiri dan lari meninggalkan Siska.

"Tunggu..." teriak Siska yang ikut pergi meninggalkan meja security untuk mengejar lelaki tersebut.

"Tunggu... mas Kevin... atau siapa pun namamu, Tunggu aku... Aduhhh" Siska terjatuh, terpeleset. Karena saat itu hujan turun hingga percikannya membasahi lobi stasiun. Mendengar rintihan Siska, Elang menghentikan langkahnya.

"Tunggu, Mas.." Dengan tertatih-tatih ia bangun dan berjalan mendekati Elang. Namun ketika ia berada di dekat orang tersebut, ia mendengar namanya dipanggil. Siska menoleh kebelakang, kearah suara yang lain yang memanggil dirinya. "Mas Kevin?"

"Kakimu kenapa?" tanya Kevin yang sudah berada disisi Siska. Merasa terselamatkan oleh kehadiran Kevin, Elang melangkahkan kakinya. "Tunggu, Mas..." langkah Elang tertahan oleh genggaman erat jemari Siska. Sekali  lagi, waktu seolah terhenti saat Siska merasakan ada bekas luka di pergelangan tangan orang yang ia pegang. Bekas luka yang sama dengan bekas luka yang ia rasakan ketika menggenggam lengan Kevin saat ia buta dulu. Mungkinkah ia...?

"Elang?" tanya Kevin kaget melihat lengan pria yang dipegang tangannya oleh Siska.

"Kamu mengenalnya?" tanya Siska kepada Kevin. Kevin terdiam. Wajahnya terlihat panik. Ia sadar bahwa dirinya terpojok dengan situasi ini. Kini perhatian Siska tertuju pada Kevin. Genggaman tangannya pada Elang dilepaskannya.

"Dia teman kerjaku.. Elang namanya", ujar Kevin yang suaranya makin tercekik.

"Mas Kevin, aku mau tanya... Dimana kamu simpan jam tangan pemberianku??"

"Jam tangan?" Kevin bingung menjawabnya. "jam tangan itu hilang" ujarnya mencari akal untuk menutupi kebohongannya. Siska melihat kebohongan dimata Kevin. Lalu ia menoleh kearah Elang.

"Baik jika hilang tentunya kamu masih ingat isi tulisan braille yang terukir di tali jam tangan tersebut. Katakan padaku, karena mas Kevin pernah bilangan kalau ia tak akan pernah bisa melupakan tulisan tersebut" tantang Siska kepada Kevin. Saat mengucapkan permintaan tersebut, ia melirik kepada Elang. Jantungnya berdebar-debar menahan emosi di dadanya. Ia mencium sesuatu yang disembunyikan darinya.


"Sudahlah Siska, untuk apa kamu mempermasalahkan hal tersebut... disini ramai orang, nanti kita bahas dirumah saja" elak Kevin sambil merangkul Siska untuk pergi dari tempat tersebut. Siska menurut, namun langkahnya terhenti saat ia mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Elang.

"Love comes from the heart rather than physical attraction... itu kata yang tertulis dalam tali jam tangan pemberianmu." ujar Elang. Mungkin inilah saatnya ia harus mengatakan yang sejujurnya pada Siska.

"Cinta datang dari kenyamanan hati bukan dari fisik"

"Maafkan aku, Siska... Namaku adalah Elang. Aku lah kekasih hatimu selama 1 tahun disaat kau buta. Aku meminjam identitas Kevin agar aku bisa selalu dekat denganmu saat itu. Begitupun saat matamu dapat melihat, aku memohon kepada Kevin agar menjadi aku. karena aku masih belum bisa menerima jika kamu menolak cintaku ketika kamu tau wajahku mirip dengan wajah Artis yang kamu benci. Dan aku tidak mau mengecewakanmu. Aku tak bisa memungkiri jika ternyata Kevin jatuh cinta kepadamu. Namun melihatmu bermesraan dengan Kevin hati ini sakit. Hingga kini rasa sakit itu masih membekas. Kini aku sudah ikhlas, jika ternyata kamu membenci aku. Terima kasih kamu sudah menjadi kenangan indah dihatiku." Elang mengakhiri kata-katanya dengan menahan rasa sakit dihatinya. Ia pun membalikkan badannya meninggalkan Siska dan Kevin yang masih membungkam. Sesegera mungkin ia menghapus rasa sakit hatinya yang keluar melalui tetesan airmatanya.

Mulut Siska tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Matanya menahan genangan air yang siap mengalir dipipinya. Entah perasaan apa yang kini berkecamuk dihatinya. Ia hanya mampu menatap punggung tegap milik Elang yang makin menjauh. Namun tiba-tiba ia mendengarkan bisikan lain dihatinya. Ia lepas rangkulan tangan Kevin dipundaknya,"Kamu mau kemana, Sis?" tanya Kevin.

"Mas, terima kasih kamu mau mengisi kekosongan hari-hariku selama 2 bulan ini, tapi kamu tidak bisa menggantikan posisi kekasih hatiku dikala aku buta. Mataku boleh buta, tapi tidak dengan hatiku. Kini aku harus mengejarnya untuk menempatkannya kembali" ujar Siska. Selesai mengucapkan kata-kata itu ia berlari mengejar Elang.

"Mas Elang, Tunggu..." Dipeluknya punggung Elang dari belakang,"Jangan pergi... Aku nggak peduli wajahmu seperti Azis gagap atau gogon sekali pun.. Bukankah kamu yang selalu membesarkan hatiku dengan kata-katamu bahwa Cinta datang dari kenyamanan hati bukan dari fisik. Dulu kamu bisa menerima gadis buta sepertiku, kenapa sekarang aku justru menolak Azis gagap yang mampu mengoyak cintaku. Aku mencintaimu, Mas"

4 komentar:

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^