Selasa, 04 Oktober 2016

Penerbit besar = buku berkualitas?

buku berkualitas


Assalamu'alaikum wr.wb.
Kali ini saya mau berbagi percakapan saya dan teman saya beberapa hari yang lalu. Kurang lebih seperti ini percakapannya :
Temanku : “Mbak, mau dikirim kemana naskahnya?”

Aku : “Belum tahu.”

Temanku : “Kirim ke penerbit A aja, Mbak. Baguuus. Dia itu penerbit kelas kakap, bergengsi. Kalau ke penerbit B, itu penerbit kelas ece’ece’.”

Aku : “O.. gitu ya? Kok bisa bilang seperti itu?”

Temanku : “Loh, Mbak Ade lihat saja. Penerbit A itu penerbit terkenal dari jaman dulu. Siapa yang nggak kenal penerbit A. Dan di penerbit A itu susah masuknya. Kalau kita bisa masuk ke penerbit A, itu tandanya naskah kita memang benar-benar berkualitas. Dan buku kita pun menjadi buku yng berkualitas.”

Aku : “Hmm… begitu ya?”

Dahiku langsung berkerut. Kupandangi print out naskah yang sejak tadi ku genggam. Lalu ku lirik tong sampah yang tak jauh dari tempatku duduk. Lempar? Tidak? Lempar? Tidak?
Xixixi.. terlalu ekspresif.

Tapi kalau dahi saya berkerut memang benar. Rasanya aneh saja, saat mendengar kalimat bahwa buku kita baru dibilang berkualitas karena diterbitkan oleh penerbit besar. Mungkin saya akan menjadi orang pertama yang menggelengkan kepala, jika saya dimintai pendapat tentang itu.

Menurut saya pribadi, penerbit hanyalah wadah bagi kita. Mereka sekedar membantu mengolah naskah kita menjadi buku yang cantik dan menarik. Buku yang siap dijual di toko buku. Penerbit sama sekali tidak begitu banyak berpengaruh dengan kualitas naskah kita. Pengaruh penerbit hanya sebatas prestige (gengsi).

Saya seringkali menemukan buku yang isinya ‘nggak banget’, buat pusing kepala membacanya atau nggak ngerti kemana arah tujuan tulisan buku tersebut. Padahal buku yang saya bilang ‘nggak banget’ itu diterbitkan oleh penerbit terkenal. Namun ada juga beberapa buku yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil (bahkan indie) mampu membuat saya ingin membacanya berkali-kali.
Jika begitu kenyataan yang kita temui, apakah masih bisa dibilang bahwa buku kita berkualitas karena diterbitkan oleh penerbit besar?
Lalu apa yang mempengaruhi buku kita hingga bisa dibilang buku kita berkualitas atau tidak?

Masih menurut pendapat saya, silakan kita mencerna kembali tulisan saya. Buku berkualitas itu tergantung dari 2 orang, yaitu penulis dan editor. Dua profesi itu adalah sahabat baik dalam penerbitan sebuah buku. Hmm, coba kita telaah ya!

Buku berkualitas tentunya berawal dari buku yang memiliki tulisan bagus dan indah. Tulisan yang bagus dan indah bukan berarti tulisan yang memiliki kata-kata puitis, kata-kata intelek dan lain sebagainya. Tapi tulisan yang bagus dan indah adalah tulisan yang sanggup mengaduk-aduk emosi si pembaca. Tulisan yang sanggup memberi kesan mendalam kepada si pembaca. Tulisan yang jika kita telah selesai membacanya merasa kecewa, karena bukunya sudah selesai dibaca, sedangkan kita masih ingin terus membacanya. Siapa yang membuat tulisan bagus dan indah tersebut? Tentu saja penulis.
Lalu apakah buku berkualitas itu hanya tergantung dari penulis saja? Tentu tidak.
Buku karya penulis terkenal sekelas Kang Abik atau Andrea Hirata, pasti melewati proses editing sebelum diterbitkan. Apalagi untuk penulis pemula, seperti saya. Peran editor bermain sangat penting disini. Editor berpengaruh dalam menciptakan sebuah buku berkualitas. Dan kualitas baik itu akan terlihat jika dipegang oleh seorang editor handal. Editor yang mampu melihat pangsa pasar dan di rak mana buku kita diletakkan. Editor yang mampu mengolah sebuah naskah sederhana, atau bahkan jelek, menjadi naskah yang nyaman dan enak untuk dibaca.

Jadi… asalkan dua hal diatas terpenuhi, maka mau diterbitkan di penerbit manapun, buku kita tetap menjadi buku berkualitas.
Nah, awali dengan membuat tulisan berkualitas terlebih dahulu, yaitu dengan memperbanyak latihan menulis. Orang bilang “Practice makes perfect”. Cari ilmu dari pelatihan-pelatihan menulis atau searching di internet. Dan yang terakhir, banyak membaca. Itu bekal yang diberikan oleh guru menulis saya.
So, come on guys… let’s start it right now!

2 komentar:

  1. Terkadang ada alasan2 lain makanya buku dia bisa masuk penerbit class A. Pernah baca buku yg isinya mainstream banget, cewek cowok tabrakan trus pacaran. Dialog neneknya pake kalimat anak muda, haha... Pas lihat penulisnya ternyata semacam selebtwit lah. Pantesss...

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixixi... iya bener. mereka bicara pasar ya ^_^

      Hapus

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^