Baik Dulu Baru Jeleknya

Agustus 28, 2016

Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamu'alaikum wr.wb.

Ada seorang temanku menggerutu sepanjang hari, karena hasil karyanya dikritik oleh salah satu temannya.

"Sakit hati gue. Enak aja dia ngejelek-jelekin tulisan gue. Udah kayak yang jagonya buat tulisan. Dia sendiri juga belum tentu bisa buat tulisan yang baik dan benar. Lagian omonginnya jeleeeek mulu, seolah tulisan gue nggak ada bagusnya... sebel !!!!" kurang lebih beginilah gerutunya. (maaf disingkat aja ya, non)



Seketika itu juga aku jadi teringat ucapan ex kepsek di sekolah tempatku ngajar. Bu Lela namanya. Setiap kali awal tahun ajaran baru (open house) dan rapat pembagian rapot, beliau selalu berkata,"Bapak Ibu... Ingat ya, Setiap kali kita berbicara dengan orangtua murid, jika ada hal buruk atau kekurangan anak-anak (murid kami maksudnya), tolong sampaikan kelebihan ananda dulu, baru sampaikan kekurangannya. Karena tidak ada satu orangtua pun yang menginginkan kekurangan anaknya dipaparkan begitu saja, sekalipun mereka tahu anaknya memang kurang. Jika disampaikan kelebihannya terlebih dahulu, mereka pasti bisa menerima dengan baik masukkan dari kita"

Awalnya aku berpikir, kenapa harus begitu? kesannya seperti penjilat. Namun setelah mendengar keluhan temanku dan aku pun pernah mengalami beberapa kali. Aku membenarkan ucapan beliau tersebut. Rasanya tak enak jika tiba-tiba seseorang datang ke kita langsung mengungkapkan keburukan atau kekurangan kita. Mungkin maksud orang yang menyampaikan tersebut adalah baik, ingin agar kita memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Tapi kok justru jadi menyakitkan hati. Dan jika sakit hati, timbulnya jadi dendam atau benci. Bukan memperbaiki, malah justru memperburuk keadaan.

Pada dasarnya seluruh umat manusia dimuka bumi ini tidak ada yang sempurna. Kata sempurna hanya milik Allah semata. Kita diciptakan Allah meiliki kelebihan dan kekurangan. Sekalipun seseorang terlihat buruk dan banyak melakukan kejahatan, tentunya ada satu sisi kelebihan atau kebaikan didalam dirinya. Begitu juga sebaliknya. Dan mungkin kita juga tahu bahwa sifat seseorang itu berbeda-beda. Bahkan bayi kembar yang terbentuk dari 1 sel pun, mempunyai perbedaan sifat. Itu sebabnya tidak semua orang bisa menerima secara langsung, jika ada yang mengkritiknya.

Wajar saja, jika Bu Lela tak bosan-bosannya berpesan seperti itu kepada kami (para guru) agar lebih berhati-hati menjaga perasaan orang lain, dengan cara menyampaikan kebaikan atau kelebihan terlebih dahulu saat kita ingin menyampaikan kekurangan atau keburukan seseorang.

Hmm... tak ada salahnya kan, jika kita mencoba hal tersebut. Kalaupun orang yang kita kritik masih belum bisa terima, kita kembalikan semua kepada Allah. Mungkin hanya Allah yang tahu cara menegurnya, kita sebagai mahluk-Nya hanya bisa membatunya semaksimal mungkin. Selamat mencoba!

Semoga Allah selalu bersama orang-orang yang mau memperbaiki dirinya. Amin.

ditulis pada hari Senin, 27 Juli 2009 pukul 09.05

You Might Also Like

4 komentar

  1. Penyampaian kekurangan memang dibutuhkan ya untuk satu perbaikan. Teringat salah seorang teman ada yg saya pilih untuk jadi tester masakan, karena kejujuran dia ngasih tau kekurangan, ketimbang yg basa-basi bilang enak :D Cuma iya tetap kalimat itu mesti diatur biar ga malah kesannya menghina, haha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. Cuma jangan berlebihan saat memuji. Yang denger jadi bingung ini maksudnya apa? hahaha..

      Hapus
  2. Aku juga seneng dikritik karena buat memotivasi diri...pujian sebagai bonus aja. Tapi bagusnya nih yang memberitahu harus jaga kata2 supaya ga membuat orang lain sakit hati atau tersinggung.

    BalasHapus
  3. saya lebih suka kalau guru bicara apa adanya tentang anak. Tapi bener juga ya, mba. Ini masuk ke etika penyampaian. Salah2 ngomong kasian anaknya nanti bisa diomelin sama ortunya juga... hihihiii...

    BalasHapus

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^

Popular Posts

My Instagram

Jadwal Sholat

jadwal-sholat