Senin, 26 Juli 2010

Bantu atau tidak?

Bismillahirrahmanirrahiim...

"Bu, bisa bantu saya ngga?"
Malam itu, jam 18.30 WIB, tiba-tiba ada seorang anak kecil, kurang lebih usia 9 - 10 tahun, menyapaku.

"Bantu apa?" tanyaku.



"Ini, Bu... saya jual baju harganya mulai dari 5.000 rupiah."

"Baju apa?"

"Ini ada baju sweater" ujarnya sambil membuka tas yang dibawanya. Lalu anak kecil tersebut mengeluarkan sebuah baju berbahan planel.

"Ini baru?" tanyaku sambil melihat baju yang ditawarkan dan mengintip isi tas anak tersebut.

"Bukan, Bu ini bekas.. Bantu saya, Bu... Soalnya saya jual baju ini buat bayar kontrakan" ujarnya dengan tatapan wajah yang begitu polos dan iba.

"Kontrakan siapa?" tanyaku lagi, karena rasa ingin tahuku yang besar.

"Kontrakan ayah saya. Ayah saya tidak sanggup bayar kontrakan bulan ini. Saya bantu ayah mengumpulkan uang 300.000" jelasnya.

"Jadi kamu jual baju ini untuk bantu ayahmu bayar kontrakan?" anak itu menganggukkan kepalanya."Berapa kamu jual baju ini?" tanyaku lagi.

Seketika ada rasa iba dihatiku. Tak tega rasanya aku melihat wajah polosnya, yang malam-malam begitu masih berkeliling mengumpulkan uang, menjual baju bekas, hanya sekedar untuk membantu ayahnya membayar kontrakan. Apalagi ia menjelaskan bahwa ia tidak akan pulang sampai ia mengumpulkan uang sebanyak 100.000. Karena ayahnya yang sudah tidak bekerja lagi dan harus menghidupi seorang istri berikut 6 orang anak. Anak itu adalah anak kedua di keluarganya.

Menurut ceritanya ia belum berhasil menjual baju bekasnya itu. Baju yang ia tawarkan kepadaku harganya Rp. 20.000. Sedangkan isi yang aku lihat hanya ada baju planel yang ditawarkan kepadaku dan sebuah kaos singlet bekas. Terbayang olehku, akankah terkumpul uang sebesar itu?

Dan yang sangat memprihatinkan lagi saat Ikhsan, anak kecil itu menyebutkan jarak rumahnya. Saat bertemu dengannya aku sedang berada di rumah orangtuaku dan jarak rumahnya jika ditempuh dengan mobil kurang lebih 1 jam perjalanan.

Tapi di sisi lain terdengar bisikan,"Bagaimana kalau anak itu berbohong dengan memasang cerita yang mengharukan dan modal wajahnya yang lugu?"


Seketika aku jadi teringat saat aku masih duduk di bangku SMA. Waktu itu aku sedang asyik bermain dengan Anggia, anak tetangga yang berusia 3 tahun, di halaman rumah Anggia. Tiba-tiba datang seorang ibu tua yang datang memohon bantuanku dengan cerita yang membuatku jadi iba. Ibu itu meminta sedekahku, seikhlas yang aku berikan. Dan saat itu aku kebetulan memegang uang jajan sebesar Rp.4.000. Aku berikan semua uangku itu kepada ibu tua tadi, karena kupikir ibu itu lebih memerlukan dibanding aku. Lagipula nanti aku bisa minta lagi ke mama. ^_^

Namun seperginya ibu tua tadi, taklama kemudian mama Anggia datang menghampiri kami. Ia langsung berkata,"Kamu kasih berapa, Shan?"

"Empat ribu, Tante" jawabku.

"Kamu tau nggak, ibu-ibu itu kan penipu.. Dia minta-minta kesana kemari dengan cerita bohong" ujar mama Anggia dengan wajah ketidaksukaannya terhadap ibu-ibu tadi.

"Iihh.. kok Tante baru bilang??" tanyaku kesal. Aku kecewa sekali, merasa dibohongi. Sampai dirumah kesal itu masih terbawa dihati dan pikiranku, hingga terlihat diwajahku oleh almarhumah mamaku.

"Kamu kenapa?" tanya beliau. Dengan bibir manyun aku ceritakan kejadian sore itu. "Kalau tau gitu, Ma.. Ade ga akan kasih tu duit... Sebel.. Nyesel deh Ade" ujarku diakhir ceritaku kepada beliau.

Sambil terus mengerjakan pekerjaannya, mamaku berujar,"Eh... kalau niat kamu sedekah.. ya sedekah aja.. jangan dengerin omongan orang tetang orang yang udah kamu kasih sedekah. Dan juga jangan berpikir itu uang mau digunakan buat hal yang haram atau yang halal. Itu sudah urusan dia sama Allah. Yang penting adalah niat keikhlasan kita untuk bersedekah. Kalau kamu ngedumel dibelakang atau bersu'udzon duluan, sedekahmu jadi ga dapet pahalanya, karena nggak ikhlas"

Peristiwa dan nasehat itulah yang menggerakkan aku untuk membantu Ikhsan. Betul yang diucapkan oleh almarhumah, bahwa jika kita niat bersedekah buang semua "andai-andai" yang berada di otak kita. Allah maha tahu dan tidak tidur.

Aku bersyukur Allah masih memberikanku ilmu melalui nasehat almarhumah mamaku. Tak terasa, mata ini menjadi panas dan airmata mengalir membasahi pipiku... Aku jadi rindu dengan nasehat beliau. Rinduuuu sekaliii....

Semoga Allah menjadikan nasehat tersebut sebagai amalan beliau yang tak pernah putus, yaitu ilmu yang bermanfaat. Dan semoga Allah memberatkan timbangan pahala kepada seluruh orang tua yang memberikan nasehat baik untuk anaknya.... aamiin ya robbal alamin.

ditulis pada hari Senin, 26 Juli 2010 pukul 00.08

1 komentar:

Aduuuh ma kasih yaaa komentarnya. Semoga silaturahmi kita selalu terjaga walau lewat dumay. Selamat membaca tulisan yang lainnya ^_^